Bab 1 : Memulai Kerja Paruh Waktu Pengurus Rumah Tangga
Langit biru membentang luas dengan awan cumulonimbus yang menjulang tinggi di kejauhan. Paduan suara jangkrik (cicada) yang seolah melipatgandakan panasnya musim panas menerobos masuk tanpa henti lewat jendela kelas yang terbuka lebar.
"Liburan musim panas mulai besok, hati-hati jangan sampai keasyikan main terus malah kecelakaan, ya."
Guru wali kelas meninggalkan pesan itu sebelum keluar dari ruangan. Begitu guru pergi dan tanda sepulang sekolah berlaku, obrolan para siswa langsung meledak, bahkan lebih berisik daripada suara jangkrik di luar. Suara mereka penuh semangat dan antusiasme, seolah tak mau kalah dengan teriknya musim panas.
Para siswa mulai beranjak dari kursi mereka, menghampiri teman akrab, atau mendiskusikan rencana liburan dengan riang gembira. Di tengah hiruk-pikuk itu, seorang siswa laki-laki duduk di atas meja barisan paling belakang di dekat jendela.
"Haru, lo ada rencana buat liburan~?"
Siswa yang duduk di atas meja itu bertanya kepada orang yang duduk di kursinya.
"Hm? Yah, paling belajar," jawab Haru singkat.
"Woy, woy! Lo serius ngomong gitu?"
"Lo pikir gue bakal bohong sama sahabat sendiri?"
Pemilik meja itu──siswa laki-laki yang dipanggil Haru──bersandar santai di punggung kursinya sambil menatap sahabatnya yang duduk di atas meja dengan ekspresi serius.
"Kemarin pas gue minta liat PR, lo bilang belum ngerjain (padahal udah). Terus kemarin lusa pas menu kantin harusnya daging, lo bilang ikan. Terus, kamis minggu lalu..."
"Oke, oke. Gue akuin kalau gue emang sering bohongin lo sehari-hari."
Haru mengangkat kedua tangannya, tanda menyerah.
"Terus? Jadi ada rencana apa liburan ini, Wahai Tuan Ootsuki Haruto?"
"Kan barusan udah gue bilang, belajar. Wahai Sahabatku Tuan Akagi Tomoya."
Pemilik meja itu, Ootsuki Haruto, mengulangi jawaban yang sama persis. Mendengar itu, sahabatnya yang duduk di meja, Akagi Tomoya, terdiam sejenak. Setelah menyadari bahwa Haruto tidak sedang bercanda, ekspresi kaget yang berlebihan muncul di wajahnya.
"Eh? Eeeh? Tunggu! Lo... seriusan? Kita kelas 2 SMA lho?"
"Iya, bener."
"Kalau gitu, hal yang harus dilakuin udah jelas, kan?"
"Belajar, lah."
"Yang bener aja lo!"
Sambil berteriak heboh, Tomoya melontarkan tsukkomi (protes) layaknya pelawak. Melihat reaksi sahabatnya itu, Haruto hanya tersenyum kecut.
"Tomoya juga tahu, kan? Universitas mana yang gue incar."
"Yah, tahu sih, tapi..."
Walau Tomoya mengangguk menanggapi ucapan Haruto, dia sepertinya belum puas dan masih mencoba mendesak.
"Kalau belajar terus-terusan nanti capek, efisiensinya malah turun, tahu? Sekali-kali butuh refreshing juga. Misalnya..."
Tomoya memutus kalimatnya di tengah jalan, lalu mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru kelas yang berisik. Hingga akhirnya, tatapannya berhenti di satu titik.
"Pergi ke kolam renang atau laut bareng cewek sekelas, gitu."
"Kalau niat lo mau ngajak Toujou-san, berjuanglah sendiri. Gue pass."
Haruto mengatakan itu setelah melirik sekilas ke arah siswi yang sedang ditatap oleh sahabatnya.
"Lo tuh! Dingin banget sih! Tega lo ngebiarin sahabat lo berjuang sendirian?"
"Tenang aja. Pas lo nanti ditolak mentah-mentah (Gyokusai) dan mental lo hancur lebur, sebagai sahabat, gue bakal menghibur lo dengan sepenuh hati, kok."
"Lo udah asumsi gue bakal gagal duluan, ya!"
Mengabaikan protes sahabatnya, Haruto sekali lagi mengarahkan pandangannya ke arah siswi yang tadi dilihat Tomoya.
Toujou Ayaka. Itulah nama siswi tersebut. Dia bisa dibilang adalah idola sekolah ini. Rambut indahnya yang berwarna flaxen (cokelat kekuningan) bersinar saat terkena matahari, lurus tanpa ikal, terurai panjang hingga punggung bagaikan benang sutra yang cantik. Setiap kali dia menggerakkan wajahnya, rambut itu berayun halus (sara-sara) seolah tidak terikat gravitasi.
Wajahnya begitu sempurna, sampai-sampai membuat orang curiga apakah dia sebenarnya selebriti atau idola. Terkadang beredar rumor kalau dia tergabung dalam agensi hiburan, dan dia memang gadis yang saking cantiknya, orang tidak akan kaget kalau rumor itu ternyata benar.
Selain itu, postur tubuhnya pun sempurna. Proporsi tubuhnya yang luar biasa itu memiliki pesona yang mampu memikat bukan hanya laki-laki, tapi juga perempuan, seolah-olah mampu memaku pandangan siapa pun yang melihatnya.
"Naah, Haru~, lo aja deh yang ajak Toujou-san~"
"Kenapa harus gue yang ngajak? Lo lah yang ajak. Terus hancur lebur sana."
"Dibilang jangan berasumsi gue bakal hancur lebur. Tapi yah, gue akuin sih, udah jelas kalau gue yang ngajak pasti bakal gagal."
"Kalau lo aja gagal, gue juga pasti gagal, 'kan?"
"Enggak! Kalau Haru, masih ada kemungkinan!"
Melihat Tomoya yang menggelengkan kepalanya dengan kuat, Haruto menyipitkan mata dan menatap sahabatnya dengan ekspresi sangsi.
"Gue nggak mau ngakuin ini sih, tapi muka lo itu ganteng. Kalau lo aja gagal, gue udah nggak ada harapan. Nyerah aja."
"Emang bener sih gue ganteng (ikemen) dan lo tampang rata-rata (futsumen)... Aduh! Woy Haru, kekerasan itu nggak baik, tahu!"
"Sori, gue nggak bisa nahan dorongan yang meluap dari lubuk hati gue."
"Wahai Haru-san, Chuunibyou itu nggak laku di kalangan cewek lho... Sori sori, gue yang salah, tolong turunin kepalan tangan lo."
Haruto dengan enggan melonggarkan kepalan tangan yang rencananya mau dia benamkan ke rusuk sahabatnya, lalu menopang dagu di telapak tangan itu sambil menatap Tomoya dengan mata setengah terpejam (jitome). Menanggapi desakan tanpa kata dari Haruto, Tomoya melanjutkan pembicaraan.
"Dengerin, ya? Udah banyak cowok ganteng yang nembak Toujou-san selama ini."
Idola kita, Toujou Ayaka, sejak masuk sekolah ini sampai sekarang, sudah ditembak oleh cowok dalam jumlah yang tak terhitung banyaknya. Mulai dari kartu as berbagai klub, cowok-cowok ganteng populer, Ketua OSIS, sampai Ketua Komite Disiplin. Bahkan, siswa dari sekolah lain pun sampai membanjiri gerbang sekolah demi menyatakan cinta padanya.
Namun, tak seorang pun dari mereka mendapatkan jawaban yang bagus darinya. Siapa pun yang menembak Toujou Ayaka, tanpa terkecuali, akan menundukkan kepala, menjatuhkan bahu, dan pergi memunggunginya dengan aura kesedihan yang kental.
"Melihat Toujou-san yang udah 'menebas' berbagai tipe cowok ganteng, gue jadi mikir."
"'Menebas', katanya..."
Haruto memasang wajah heran pada sahabatnya yang berbicara seolah Toujou adalah pembunuh jalanan (Tsujigiri).
"Jangan-jangan Toujou-san itu nggak suka cowok ganteng?"
"Enggak, enggak. Selama ini juga banyak kok cowok yang tampangnya biasa aja yang nembak dia."
Tidak semua pendekar cinta yang menyerangnya adalah cowok berwajah tampan. Ada juga siswa laki-laki yang maju bermodalkan cinta yang membara saja, dan mereka pun berakhir hancur lebur (Gyokusai).
"Emang sih. Tapi, lo punya satu poin yang beda banget sama cowok-cowok yang udah tumbang itu! Yaitu..."
Tomoya mengambil jeda dramatis yang dibuat-buat, lalu menunjuk Haruto dengan tegas.
"Lo punya prestasi sebagai juara satu satu angkatan!"
"Hmm~"
Haruto merespons ucapan Tomoya dengan malas sambil tetap bertopang dagu, tidak tertarik.
"Toujou-san pasti tipe yang lebih mentingin isi daripada tampang. Makanya, lo yang tampangnya nggak ganteng ini punya peluang besar."
"Nggak lah."
Haruto membantah ucapan Tomoya mentah-mentah. Sekalian membenamkan tinjunya ke rusuk cowok itu. Sambil melirik sahabatnya yang mengerang kesakitan akibat bogem mentah tadi, Haruto mengarahkan pandangannya ke Toujou Ayaka.
Di sekelilingnya hanya ada siswi perempuan. Para siswa laki-laki hanya bisa curi-curi pandang dari luar lingkaran itu, seolah memantau situasi.
"Lagian, ada kemungkinan juga kalau Toujou-san nggak tertarik sama cowok, 'kan?"
Cantik begitu dan didekati banyak pria, tapi sama sekali tidak ada rumor asmara, artinya kemungkinan itu tidak nol persen.
"Wah, masa sih... tapi kalau gitu, boleh juga tuh (Ari)."
Melihat sahabatnya yang mengangguk dengan wajah serius sambil memegang dagu, Haruto memasang wajah capek deh. Haruto yang tidak paham apanya yang "boleh juga", mengambil tas yang tergantung di samping meja dan mulai bersiap pulang.
"Apaan sih, Haru. Udah mau balik?"
"Aa, lagian kalau diem di kelas terus juga nggak ada kerjaan."
"Yakin? Kalau balik sekarang, lo baru bisa memuja 'Wajah Agung' (Gosongan) Toujou-san lagi pas upacara pembukaan semester depan, lho?"
"'Wajah Agung' apaan, emangnya Toujou-san itu Dewi?"
"Udah nyaris kayak gitu sih."
Mengabaikan Tomoya yang mengangguk dengan ekspresi serius, Haruto bangkit dari kursinya.
"Beneran mau balik? Nggak mau nyapa Toujou-san dulu?"
"Hari ini ada diskon di supermarket. Buat gue, bahan makanan murah lebih penting daripada Dewi yang tak terjangkau."
"Apaan tuh. Lo ibu rumah tangga, ya?"
Melihat sahabatnya yang melontarkan tsukkomi sambil tertawa, Haruto tiba-tiba memasang wajah seolah teringat sesuatu.
"Ngomong-ngomong, liburan musim panas ini ada hal lain yang mau gue lakuin selain belajar."
Mendengar ucapan Haruto saat melangkah keluar kelas, Tomoya bereaksi, "Oh?".
"Apaan? Akhirnya lo mau pergi main?"
"Bukan, kerja sampingan (part-time) jangka pendek."
Tomoya menunjukkan ketertarikan pada jawaban Haruto.
"Hee~ kerja apaan?"
"Layanan Pengurus Rumah Tangga (Housekeeping)."
"Emang ada ya kerja sampingan jangka pendek kayak gitu?"
"Kebetulan nemu pas lagi iseng cek situs lowongan kerja."
Haruto keluar kelas sambil mengobrol dengan Tomoya, lalu mereka berjalan bersisian menyusuri lorong.
"Pengurus rumah tangga itu... yang tugasnya masakin makan malam gitu?"
"Iya bener. Terus bersih-bersih atau belanja juga kalau diminta, kayaknya sih gitu."
Sambil menuruni tangga di ujung lorong, Haruto bercerita tentang kerja sampingan yang akan dilakukannya selama liburan musim panas.
"Gitu ya. Masih buka pendaftaran nggak tuh? Gue ikutan juga kali, ya?"
"Lo mah justru pihak yang butuh jasa pengurus rumah tangga, kali."
"Ahaha, bener juga."
Tomoya tertawa mendengar ucapan Haruto. Haruto sudah berkali-kali main ke kamar Tomoya, tapi belum pernah sekali pun melihat kamar itu dalam keadaan rapi. Parahnya lagi, setiap kali dia berkunjung, berantakannya makin menjadi-jadi, sampai-sampai Haruto yang tidak tahan melihatnya sudah lebih dari satu atau dua kali membersihkan kamar itu sebagai ganti Tomoya. Belakangan ini, dia bahkan curiga kalau dia diundang ke sana cuma buat disuruh bersih-bersih.
"Yah, pokoknya gitu deh. Jadi liburan musim panas ini isinya cuma belajar sama kerja. Gue harus nyari duit yang banyak musim panas ini buat modal kuliah."
Sambil berkata begitu, Haruto mengambil sepatu luarnya dari rak sepatu dan mengganti sepatu sekolahnya (uwabaki).
"Musim panas yang ngebosenin dan nggak ada romantis-romantisnya pisan."
Tomoya juga mengganti sepatunya, lalu menggerutu sambil mengetuk-ngetukkan ujung sepatu luarnya ke tanah. Ton-ton.
"Gimana kalau sekarang kita balik ke kelas terus ajak Toujou-san aja, yuk?"
"Dibilangin nyerah aja, ngeyel. Kalau ngelakuin itu ntar gue telat ke acara diskonan."
Mendengar ucapan Haruto saat melangkah keluar gedung sekolah, Tomoya menghela napas panjang dengan dramatis. "Haaah~".
"Liburan musim panas tahun depan kita udah harus siap-siap ujian, jadi tahun ini tuh kesempatan terakhir buat main sepuasnya, tahu? Lo yakin mau ngehabisinnya kayak gitu?"
Kepada sahabatnya yang masih belum bisa move on dari idola sekolah, Haruto menyeringai jahil sambil melewati gerbang sekolah dan berkata:
"Nyerah aja, Wahai Sahabatku. Mending lo ikut gue, kita habiskan satu musim panas ini dengan berlumuran kerajinan dan kerja keras."
Melihat Haruto yang mengacungkan jempol dengan mantap, Tomoya tak tahan lagi menengadah ke langit dan berteriak.
"Gue nggak mau masa muda yang kayaaaak ginii—!"
Panasnya musim panas tak menunjukkan tanda-tanda mereda meski hari sudah sore. Suara bising jangkrik menggema di area perumahan. Haruto menarik kerah kemeja seragamnya yang lengket oleh keringat, mengibas-ngibaskannya pata-pata, lalu membuka pintu depan rumahnya.
"Aku pulaaang~"
Bersamaan dengan salam kepulangannya, dia melepas sepatu dan naik ke lantai rumah. Dari ujung lorong, seseorang berjalan perlahan menghampirinya.
"Selamat datang kembali, Haruto."
"Aku pulang, Nenek. Nih, lihat, hasil jarahan diskon hari ini."
Haruto mengangkat sedikit kantong belanja di tangannya dengan wajah bangga. Di dalam kantong itu berisi hasil jarahan hari ini: daging cincang campuran dan bawang bombay.
"Daging cincangnya 118 yen per 100 gram. Bawang bombay-nya 298 yen dapet lima biji, lho."
"Oya oya, wah wah, pasti ramai sekali orangnya, ya?"
Nenek berkata dengan nada cemas sambil menerima kantong itu.
"Aku jadi sadar betapa kuatnya eksistensi bernama Ibu Rumah Tangga itu."
Para ibu rumah tangga di dunia ini yang terbakar oleh misi mengamankan bahan makanan murah, menyimpan potensi yang tak kalah—bahkan mungkin lebih hebat—daripada siswa SMA laki-laki yang punya modal fisik dan usia muda. Mengingat kembali memori saat dirinya terombang-ambing dan digencet oleh ras terkuat bernama "Ibu Rumah Tangga" di siang bolong musim panas saat pulang sekolah tadi, Haruto memasang wajah masam.
"Berat juga, ya. Kalau begitu, makan malam hari ini kita bikin hamburg steak saja, yuk."
Mendengar saran menu makanan dari sang nenek yang mengapresiasi kerja keras cucunya, ekspresi Haruto seketika berbinar cerah.
"Kalau bisa makan hamburg steak buatan Nenek, aku rela deh bertarung lawan ibu-ibu rumah tangga setiap hari!"
"Iya, iya. Kalau begitu cuci tangan dan kumur-kumur sana."
"Siap."
Haruto menjawab neneknya, lalu menuju wastafel. Setelah selesai mencuci tangan dan berkumur, dia pergi sebentar ke ruang tatami (Washitsu). Di sisi dinding ruangan itu terdapat altar Buddha (Butsudan), di mana tiga bingkai foto mendiang keluarganya terpajang.
"Ayah, Ibu, dan Kakek juga... aku pulang. Mulai hari ini aku libur musim panas, lho."
Sambil menangkupkan kedua tangan di depan altar, Haruto berbicara dengan suara pelan.
"Liburan musim panas tahun ini, rencananya aku mau kerja paruh waktu."
Masih dengan tangan tertangkup, Haruto terus berbicara pada foto-foto itu.
"Ah, tapi aku nggak bakal malas belajar kok, aku juga bakal tetap rajin datang ke dojo. Jadi Kakek tenang saja, ya."
Saat ini, keluarga Ootsuki hanya ditinggali oleh dua orang: Haruto dan neneknya. Haruto pernah mengalami kecelakaan lalu lintas saat masih kecil. Dalam kecelakaan yang merenggut nyawa kedua orang tuanya itu, Haruto beruntung bisa selamat, lalu kemudian diasuh oleh kakek dan nenek dari pihak ibunya.
Agar Haruto yang kehilangan orang tua di usia muda tidak kesulitan hidup di masa depan, kakek dan neneknya membesarkannya dengan disiplin ketat tanpa memanjakannya. Saat Haruto mulai menarik diri dari lingkungan karena mentalnya terguncang, sang Kakek mendaftarkannya ke dojo karate untuk menempa mental sekaligus fisiknya. Sayangnya, Kakek meninggal dunia saat Haruto baru masuk SMP.
Haruto percaya dari lubuk hatinya, alasan kenapa dia sekarang tidak menjadi anak yang tertutup dan bisa memiliki kepercayaan diri adalah berkat Kakek yang membawanya ke dojo itu. Sementara Nenek, demi memastikan Haruto tidak kesusahan jika kelak hidup sendirian, menempa Haruto habis-habisan dengan mengajarkan berbagai pekerjaan rumah tangga seperti bersih-bersih, mencuci, dan memasak. Berkat didikan itu, Haruto kini bisa melakukan hampir semua hal sendirian, bahkan memiliki skill rumah tangga yang cukup mumpuni untuk bekerja paruh waktu di layanan pengurus rumah tangga.
"Oke deh, saatnya bantu Nenek."
Haruto melepaskan tangkupan tangannya dan menuju dapur. Meski Haruto cukup percaya diri bahwa kemampuan masaknya sudah meningkat pesat berkat didikan Nenek selama ini, dia merasa masih belum bisa menandingi rasa masakan Nenek yang merupakan gurunya. Demi bisa mendekati rasa itu walau sedikit saja, Haruto selalu berusaha berdiri di dapur bersama neneknya setiap hari, mencoba mencuri teknik dan feeling memasaknya.
"Hamburg steak buatan Nenek emang tiada duanya, sih."
Jus daging (gravy) penuh rasa umami yang meluap saat digigit... Membayangkan rasa itu menyebar di dalam mulutnya, Haruto menelan ludah yang nyaris menetes sambil melangkah ke dapur.
Setelah selesai makan malam, Haruto duduk menghadap meja belajarnya dan membuka buku referensi.
"Haaah~ Hamburg steak Nenek emang beneran 'Dewa'..."
Meskipun posisinya sudah siap belajar, Haruto masih terbuai sisa-sisa kenikmatan makan malam tadi, sehingga penanya sama sekali belum bergerak. Haruto melamun cukup lama, sampai akhirnya dia tersadar, menggelengkan kepala pelan sambil bergumam "Nggak boleh, nggak boleh", lalu menatap buku referensinya dengan wajah serius.
Setelah itu, Haruto fokus belajar selama kurang lebih satu jam. Saat sampai di bagian yang pas untuk berhenti, dia meletakkan penanya dan meregangkan tubuh lebar-lebar.
"Uugghh~ kayaknya bentar lagi mandi, deh."
Karena kondisi pinggang nenek belakangan ini agak memburuk, membersihkan kamar mandi adalah tugas Haruto.
"Kalau kemaleman nanti malah jadi males."
Tepat saat dia menyudahi sesi belajarnya dan hendak pergi ke kamar mandi, ponsel yang dia letakkan di atas meja bergetar. Vuu-vuu.
"Hm? Dari Tomoya, ya?"
Melihat nama Akagi Tomoya muncul di layar, Haruto mengambil ponselnya dan menekan ikon telepon berwarna merah di tengah layar.
"Halo, kenapa?"
『Yoo. Entah kenapa gue tiba-tiba pengen denger suara lo, nih.』
"Ooh gitu. Yaudah, jijik, gue tutup ya."
Haruto berniat mematikan panggilan itu secepat kilat, tapi suara panik terdengar dari seberang telepon.
『Tunggu, woy, tunggu! Bercanda elah, bercanda! Gue beneran ada perlu, nih!!』
"Kalau gitu ngomong dari tadi dong. Tiba-tiba denger omongan jijik kayak gitu, gue kira kuping gue bakal copot, tahu."
『Jahat banget sih? Padahal tadi itu setengahnya gue serius, lho.』
"Yaudah, bye. Ketemu lagi pas masuk sekolah nanti."
『Sori elah! Gue nggak bercanda lagi deh!』
Mendengar suara panik sahabatnya, Haruto menyunggingkan senyum tipis sambil menopang dagu di atas meja.
『Lo pasti pengen denger cerita soal "Event Menarik" yang terjadi di sekolah habis kita balik tadi, 'kan?』
"'Event Menarik'? Emang ada apaan?"
Sahabatnya, Tomoya, memiliki koneksi pertemanan yang luas, sehingga informasi tentang acara atau rumor yang terjadi di sekolah sering masuk ke telinganya. Tomoya sering menyampaikan informasi semacam itu kepada Haruto seperti sekarang ini.
『Gini lho. Lo tahu Kaitou-senpai kelas 3, nggak?』
"Aaah... orang klub tenis itu, ya?"
Haruto butuh waktu sebentar untuk mengingat sosok "Kaitou-senpai" yang disebutkan Tomoya. Dalam ingatannya yang samar, dia pernah mendengar kalau orang bernama Kaitou-senpai itu adalah kartu as klub tenis yang kemampuannya setara pemain pro. Bahkan ada rumor dia akan menandatangani kontrak pro dengan produsen terkenal setelah lulus, jadi kalau ada yang bisa jadi pacarnya sekarang, masa depan untuk jadi istri orang kaya (Tama no Koshi) sudah terjamin. Sepertinya Haruto pernah mendengar siswi-siswi di kelas membicarakan hal itu dengan heboh.
『Bener banget. Nah, katanya Kaitou-senpai itu nembak Toujou-san, lho.』
"Hee~ terus?"
Meski minatnya pada cerita Tomoya agak menurun, Haruto tetap meminta kelanjutannya. Pernyataan cinta kepada Toujou Ayaka. Di sekolah mereka, ini adalah event rutin yang tidak terlalu langka. Ditambah lagi, akhir dari event ini hampir bisa dipastikan selalu sama.
『Ditolak mentah-mentah cuma pake satu kalimat: "Nggak tertarik".』
"Udah ketebak."
Haruto menjawab tanpa minat pada hasil yang sudah dia duga. Toujou Ayaka tidak akan mengangguk pada cowok mana pun yang menembaknya. Di dalam kepala Haruto, citra gadis itu sudah terbentuk seperti itu.
『Yah, kalau bagian itunya sih emang kayak biasa. Tapi kali ini, proses sampe nembaknya itu yang gila.』
"Situasinya dibikin ribet alias niat banget, gitu?"
Para pria yang menantang Toujou Ayaka selama ini telah melakukan berbagai macam cara pernyataan cinta demi mendapatkan posisi sebagai pacarnya. Di antaranya ada yang cukup nyentrik, dan hal-hal seperti itu sering jadi bahan gosip hiburan para siswa.
『Bukan niat lagi sih, kali ini lebih ke arah nekat dan berani mati.』
"Semacam nembak di depan umum di hadapan seluruh siswa?"
『Ujung-ujungnya sih gitu. Tapi sebelum itu, Kaitou-senpai manggil Toujou-san ke tengah lapangan sekolah lewat siaran sekolah (broadcast).』
"Uwaah..."
Haruto refleks mengeluarkan suara jijik (ilfeel), dia merasa kasihan pada Toujou yang dipanggil lewat siaran sekolah untuk ditembak.
『Parahnya lagi, Kaitou-senpai bukan minta "Jadian yuk", tapi katanya malah minta "Bertunanganlah denganku".』
"Tunangan... Kaitou-senpai itu sakit jiwa apa gimana?"
『Iya 'kan? Terus katanya dia juga udah nyiapin cincin tunangan segala.』
"Uwaah......"
Haruto merasa ilfeel untuk kedua kalinya hari ini. Baru anak SMA tapi sudah bicara soal tunangan saja sudah mustahil, ditambah lagi pakai menyiapkan cincin, rasanya sudah tidak waras. Entah apakah Kaitou-senpai memang orang berbahaya yang sirkuit otaknya sudah putus, atau pesona Toujou Ayaka yang terlalu berdosa sampai bikin anak SMA nekat melamar. Haruto tidak bisa menilainya.
『Katanya Kaitou-senpai yang ditolak itu diem mematung di tempat selama tiga puluh menit tanpa gerak sedikit pun, lho.』
"Yah, wajar sih. Kalau gue jadi Kaitou-senpai, gue pasti udah ganti baju putih (Shiroshozoku) terus Seppuku (bunuh diri) di tempat."
Dipanggil lewat siaran sekolah. Lalu dilamar di depan seluruh siswa lengkap dengan cincin tunangan. Kalau sudah senekat itu tapi ujungnya ditolak, baru membayangkannya saja tubuh Haruto sudah gemetar ketakutan.
『Yaaah, emang cuma lo doang yang bisa menggerakkan hati Toujou-san, sih.』
"Dibilangin nggak bakal, elah. Lagian, habis denger cerita horor kayak gitu, gue nggak cukup berani buat sekadar negur Toujou-san, tahu."
『Dasar pengecut. Yah, tapi lagian lo nggak bakal ketemu Toujou-san sampai sekolah masuk lagi, sih. Gue tunggu kabar baiknya pas liburan kelar, ya.』
"Jangan berharap aneh-aneh, woy."
『Cuma lo satu-satunya yang bisa jadi Penerus Kaitou-senpai!』
"Itu artinya gagal total, bego!"
Bersamaan dengan tsukkomi (protes) kepada sahabatnya, Haruto memutus panggilan. Seketika itu juga, Tomoya mengirimkan stiker kucing dengan wajah sok ganteng yang sedang hormat. Haruto membalasnya dengan stiker kelinci berotot yang sedang meninju dagu lawan (Uppercut), lalu bangkit dari kursi untuk menyiapkan air mandi.
Bagi Haruto, siswi bernama Toujou Ayaka hanyalah sosok yang sesekali muncul sebagai topik obrolan dengan temannya seperti ini, dan tak akan pernah menjadi lebih dari itu. Itulah yang dipikirkan Haruto di awal liburan musim panas.
Setidaknya, sampai dia memulai pekerjaan paruh waktu sebagai Pengurus Rumah Tangga.