Kaji Daikou no Arubaito wo Hajimetara Gakuen Ichi no Bishoujo no Kazoku ni Kiniirarechaimashita
Volume 1 - Chapter 3

Bab 3: Kontrak Rutin

Bab 3: Kontrak Rutin

Sejak aku mulai bisa mengingat dunia di sekitarku, orang-orang sudah sering bilang kalau aku ini imut.

Saat masih di taman kanak-kanak, orang tua murid lainnya sering menyapaku, "Wah, Ayaka-chan manis sekali, ya."

Begitu masuk sekolah dasar, anak-anak laki-laki mulai sering menjahiliku dan mencari gara-gara. Jika dipikirkan lagi sekarang, aku menyadari bahwa semua gangguan itu sebenarnya adalah bentuk rasa suka yang mereka tunjukkan dengan cara yang salah.

Seiring bertambahnya usia, kejahilan dan gangguan dari lawan jenis itu mulai berkurang, dan saat aku menginjak bangku SMP, hal semacam itu hampir hilang sepenuhnya. Sebagai gantinya, yang bertambah justru pernyataan cinta.

Dalam sebulan, pasti ada saja laki-laki yang menembakku. Di saat-saat yang parah, aku bahkan pernah ditembak setiap hari selama satu minggu penuh.

Saat pertama kali menerima pernyataan cinta, perasaan yang paling pertama muncul di hatiku adalah kebingungan. Bagaimana tidak? Laki-laki yang selama ini selalu berbuat jahat dan menggangguku tiba-tiba saja bilang "Aku suka kamu". Bagiku, wajar saja kalau aku merasa sangat terganggu.

Terlebih lagi, sejak masa itu aku mulai menganggap anak laki-laki sebagai sosok yang hanya bisa berbuat jahat, sehingga aku cenderung menghindar. Aku tidak memiliki satu pun teman laki-laki untuk diajak bermain atau sekadar bertukar cerita.

Tentu saja, semua pernyataan cinta dari para lelaki itu kutolak. Bagiku, berpacaran dengan seseorang yang bahkan tidak kukenali kepribadiannya adalah hal yang mustahil. Apalagi sejak kecil orang tuaku selalu mendidikku dengan prinsip: "Seseorang itu dinilai dari isinya, bukan penampilannya."

Aku mungkin bisa menerima sebuah hubungan jika alurnya berjalan secara alami: dimulai dari saling menyapa, mengobrol, menjadi teman, saling memahami satu sama lain, hingga akhirnya muncul rasa tertarik dan menyatakan cinta. Namun, semua laki-laki yang menembakku selalu berkata, "Aku jatuh cinta pada pandangan pertama padamu!"

Aku tidak bermaksud menafikan fenomena jatuh cinta pada pandangan pertama, hanya saja aku tidak bisa memahaminya. Itulah alasan aku menolak semua laki-laki yang datang silih berganti.

Lalu, sebuah insiden pun terjadi. Tiba-tiba saja, seorang teman akrabku mendatangi aku sambil menangis dan menuduh, "Jangan rebut orang yang kusukai, dong!"

Sesaat, aku tidak bisa memahami apa yang sedang dia bicarakan. Sejak dulu hingga sekarang, temanku hanya perempuan. Mengingat aku selalu menghindari laki-laki, tidak mungkin ada laki-laki yang aku ajak bicara atas inisiatif sendiri. Dalam situasi seperti itu, mana mungkin aku merebut pujaan hati temannya.

Aku yakin temanku itu pasti salah paham. Sambil berusaha menenangkan temannya yang masih menangis, aku mencoba mencari tahu lebih dalam. Dari cerita itu, terungkaplah bahwa di antara sekian banyak laki-laki yang pernah menembakku, salah satunya ternyata adalah orang yang disukai temanku tersebut.

...Lalu, apa yang harus kulakukan? Bukan salahku kalau laki-laki itu menembakku atas kemauan sendiri. Aku bahkan sama sekali tidak memiliki hubungan dengan laki-laki itu, bahkan tidak pernah bertukar kata sepatah pun.

Pada akhirnya, hubunganku dengan temanku itu tetap renggang hingga kami lulus SMP.

Insiden itu membuatku semakin menutup diri dari laki-laki. Selain itu, ada satu alasan lagi yang membuatku menjauhkan diri sejak akhir masa SMP.

Yaitu: Tatapan mata.

Sejak kelas dua SMP, tubuhku mulai berkembang dan payudaraku tumbuh semakin besar. Seiring dengan perubahan fisik itu, aku mulai merasakan tatapan laki-laki yang jauh lebih intens dari sebelumnya. Kebanyakan memang hanya curi-curi pandang, tapi ada juga laki-laki yang terang-terangan melotot ke arahku. Aku merasa takut dengan tatapan yang terasa "lengket" dan menjijikkan itu. Alhasil, saat masuk SMA, aku mulai mengidap gejala ketidakpercayaan pada laki-laki (Male Distrust).

Bahkan setelah masuk SMA, pernyataan cinta yang datang padaku tetap tidak ada habisnya. Namun, berkaca dari insiden di masa SMP, aku belajar untuk menunjukkan pendirian yang tegas kepada teman-teman di sekelilingku: "Aku sama sekali tidak tertarik pada laki-laki atau urusan asmara."

Berkat strategi itu, hubungan pertemananku tetap berjalan baik hingga sekarang di kelas dua SMA.

Yah, meskipun aku adalah siswi SMA yang sedang berada di puncak masa muda, fakta bahwa semua temanku adalah perempuan dan tidak ada bayangan asmara sama sekali dalam hidupku mungkin membuat orang bertanya-tanya apakah situasi ini bisa disebut "berjalan lancar" secara umum.

Namun bagiku, keberadaan laki-laki saat ini tidak lebih dari sumber bencana. Kejadian yang paling parah terjadi tepat sebelum liburan musim panas dimulai.

Di sekolah setelah upacara penutupan, saat aku sedang asyik mengobrol dengan teman-temanku soal rencana liburan dan baru saja berpikir untuk pulang, tiba-tiba saja namaku dipanggil melalui siaran sekolah. Berbanding terbalik denganku yang terpaku karena tidak mengerti apa yang terjadi, siswi-siswi di sekitaraku justru bersorak heboh.

Sepertinya yang memanggilku adalah kakak kelas kelas tiga. Namanya kalau tidak salah... Gotou? Atau mungkin Saitou? Pokoknya, gara-gara kakak kelas itu menggunakan siaran sekolah, aku berakhir dalam situasi di mana aku mau tidak mau harus mendatangi panggilan tersebut. Yah, mungkin memang itulah tujuan si pelaku.

Di tengah suasana sekolah yang masih ramai oleh murid-murid setelah jam pelajaran usai, aku harus menahan rasa malu yang luar biasa saat berjalan menuju lapangan sekolah. Di sana, sudah menunggu sang biang keladi, si Saitou... atau Andou-senpai? Entahlah, pokoknya orang itu ada di sana.

Lalu, seolah otaknya sudah tidak beres, orang itu tiba-tiba mengeluarkan cincin dan melamarku. Sorakan membahana terdengar dari gedung sekolah di mana para murid menonton adegan pernyataan cinta itu. Namun, aku yang merasa sangat malu sekaligus syok karena ketidaksopanan Andou-senpai, langsung jatuh dalam kondisi panik ringan. Aku hanya sanggup berkata, "Aku tidak tertarik," lalu bergegas pergi dari sana secepat mungkin.

Ingatan setelah itu terasa samar. Tahu-tahu aku sudah sampai di rumah dan langsung terjun ke atas tempat tidur di kamarku. Di dalam kepalaku, perilaku aneh Itou-senpai tadi terus berputar dan sulit dilupakan.

Kejadian ini pasti akan jadi bahan gosip saat sekolah masuk lagi nanti. Apalagi, Itou-senpai yang menembakku kali ini sepertinya orang yang cukup terkenal dan populer di kalangan siswi. Aku sama sekali tidak tahu kenapa dia terkenal atau kenapa dia populer, tapi satu hal yang pasti: setelah ditembak oleh laki-laki seperti itu, aku pasti akan dibenci oleh sejumlah siswi.

Membayangkan masa-masa suram setelah liburan berakhir bahkan sebelum liburannya sendiri dimulai, aku yang masih tengkurap di tempat tidur mengambil ponselku. Aku membuka aplikasi pesan, memilih obrolan dengan nama Aizawa Saki, dan langsung menekan tombol telepon.

Setelah nada tunggu sesaat, sambungan telepon pun terhubung.

Halo~ Sudah kuduga kamu bakal telepon.

"Saki~ aku sudah nggak kuat~ aku nggak mau sekolah lagi~"

Besok baru mulai libur musim panas lho.

"Aku mau libur musim panas selamanya saja~"

Aku merengek pada sahabatku sejak SD itu.

"Apa-apaan sih Endou-senpai itu! Manggil lewat siaran sekolah segala, sudah nggak waras ya!"

Ahahaha, emang siaran sekolah itu keterlaluan sih. Aku beneran kasihan sama kamu, Ayaka.

"Besok-besok kalau aku lihat Endou-senpai di sekolah, saking dendamnya mungkin aku bakal pelototi terus..."

Kalau kamu pelototi, bukannya dia malah senang? Lagian namanya bukan Endou, tapi Kaitou-senpai. Orang yang nembak lewat siaran sekolah itu.

"Masa sih? Aku sudah nggak ingat namanya... Saking malunya, kata-kata Kakak kelas itu nggak ada yang masuk ke telingaku barang satu milimeter pun."

Mendengar ucapanku, suara tawa Saki terdengar renyah dari seberang telepon.

Pfft! Kasihan banget Kaitou-senpai. Capek-capek nembak tapi sama sekali nggak sampai ke Ayaka. Hahaha.

"Yang kasihan itu aku! Kakak kelas itu populer banget, kan? Aku pasti bakal dibenci..."

Mungkin orang-orang bakal lupa pas liburan selesai nanti?

"Masa sih? Yang tadi itu dampaknya gede banget, lho. Bayangkan, dilamar! Pakai cincin segala pula."

A-ah... iya sih, bener juga.

Padahal kami masih anak SMA. Melewati tahap PDKT atau pacaran dan langsung lompat ke pertunangan, benar-benar tidak masuk akal bagiku.

"Aaah~ harusnya aku masuk sekolah khusus putri saja ya..."

Kalau gitu, kita berdua jadi pisah sekolah, dong.

"Ih, nggak mauuu~"

Saki, lawan bicaraku di telepon ini, adalah sahabatku sejak kelas satu SD. Semua hal menyenangkan maupun menyedihkan selama ini selalu kami lalui bersama. Sekarang, dia adalah satu-satunya sosok tempat aku bisa bercerita apa saja tanpa merasa sungkan. Aku tidak bisa membayangkan jika kami harus bersekolah di tempat yang berbeda.

"Saki, ayo pindah ke sekolah putri bareng aku?"

Jangan ngaco, ah.

Jawaban instan itu membuatku memanyunkan bibir. Tentu saja aku hanya bercanda, kalau Saki beneran menganggapnya serius, aku malah akan bingung sendiri. Meski begitu, aku tetap melayangkan protes kecil.

"Saki pelit."

Kan sudah pernah kubilang, Ayaka mending cari pacar saja.

Kata-kata sahabatku itu mengingatkanku pada saran yang pernah ia berikan sebelumnya. Tepat setelah masuk SMA, saat aku merasa muak karena ditembak tiga laki-laki sekaligus dalam waktu singkat, Saki mengusulkan, "Gimana kalau kamu cari pacar bohongan saja buat pengusir cowok?"

Tapi, kalau mencari pacar semudah itu, aku tidak akan pusing memikirkan urusan ditembak orang. Waktu itu, aku menolak mentah-mentah usul Saki.

"Nggak mungkin, lah. Lagian, masa pacaran sama orang yang nggak disukai cuma gara-gara nggak mau ditembak? Itu namanya nggak tulus, kan?"

Masa? Tapi kayaknya seru tahu, pura-pura pacaran sama cowok yang nggak sengaja ketemu demi menghindari pernyataan cinta... Rasanya mirip kayak di komik romantis, kan? Kamu juga suka cerita kayak gitu, kan?

"Ya, suka sih, tapi..."

Aku menjawab dengan ragu sambil melirik ke arah rak buku di kamarku. Di sana, berderet rapi berbagai judul manga romantis. Ketidakmampuanku menjalani asmara di dunia nyata justru terkompensasi dengan hobiku mengoleksi komik romantis dalam jumlah besar.

Sikapku yang mengaku tidak tertarik pada laki-laki atau cinta hanyalah benteng pertahanan demi menjaga hubungan pertemanan yang harmonis. Padahal, aku juga siswi SMA biasa, aku pun punya keinginan untuk jatuh cinta seperti orang lain pada umumnya.

Tuh, kan! Awalnya cuma pacar pura-pura, tapi lama-lama jadi baper dan sadar kalau saling suka, terus akhirnya jadi pacar beneran... Kyak! Sempurna!!

"Ih, jangan heboh sendiri, deh."

Pokoknya, menurutku satu-satunya cara ya Ayaka harus cari pacar bohongan!

"Nggak bisa~ lagian nggak ada orang yang mau jadi pacar bohongan kayak gitu."

Bukannya aku terlalu percaya diri, tapi aku sedikit banyak sadar bagaimana dampaknya pada lingkungan sekolah—terutama para siswa laki-laki—jika aku melakukan sesuatu. Kalau aku sampai berpacaran dengan seseorang, meskipun itu hanya hubungan pura-pura, aku takut akan membawa masalah besar bagi orang tersebut.

Hmm, kalau menurutku sih, Ootsuki-kun yang sekelas sama kita kayaknya cocok buat kamu.

"Ootsuki-kun? Siapa... ah, yang dapet peringkat satu satu angkatan itu?"

Aku mencoba menggali nama itu dari sudut ingatanku. Meskipun aku selalu menghindari laki-laki, setidaknya aku selalu berusaha mengingat nama teman-teman sekelas sendiri.

Nah, iya itu orangnya! Menurutku Ayaka bakal cocok sama dia~

"Eeh~ kok bisa?"

Ya bayangin saja, dibanding cowok lain, Ootsuki-kun itu pembawaannya tenang dan nggak agresif, kan? Terus auranya kayak gentleman gitu.

"Masa... sih?"

Karena biasanya aku hanya bergaul dengan sesama perempuan di sekolah, aku hampir tidak tahu seperti apa kepribadian para siswa laki-laki di kelasku.

Terus ya, kalau punya pacar kan cowok-cowok aneh nggak bakal berani deketin lagi. Kalau ada apa-apa, dia juga bisa jagain kamu. Sebagai sahabat, aku jadi lebih tenang, tahu.

Aku memang pernah beberapa kali menjadi korban penguntitan (stalking) ringan. Sepertinya Saki mengkhawatirkan hal itu.

"Tapi itu kan namanya bodyguard, bukan pacar?"

Bener banget.

"Ih! Jangan bercanda, deh~"

Sambil berkata begitu, aku tanpa sadar menyunggingkan senyum. Memang benar, mengobrol dengan Saki selalu bisa membuat perasaanku jadi lebih ringan secara alami, seburuk apa pun kejadian yang menimpaku.

"Eh, besok mau ke kafe bareng nggak?"

Oh? Boleh banget. Mau ke kafe mana? Mumpung libur musim panas, mau coba cari tempat baru?

"Boleh juga, kayaknya seru."

Saat aku dan Saki sedang asyik merencanakan kunjungan ke kafe besok, terdengar suara Mama memanggil dari arah tangga.

"Ayakaaa, turun sebentar ya, ada yang mau Mama bicarakan~"

"Iyaaa! Maaf ya Saki, aku dipanggil Mama."

Oke oke, nanti jadwal buat besok kita kabari lagi lewat pesan ya.

"Sip, sampai nanti."

Sampai nanti.

Aku mengakhiri panggilan telepon, keluar dari kamar, lalu menuju ruang tengah. Sesampainya di sana, aku melihat Mama sedang sibuk bergerak ke sana kemari. Di atas lantai, sebuah koper besar sudah terbuka lebar.

"Lho? Mama mau pergi ke suatu tempat?"

"Iya, nih. Tiba-tiba ada urusan dinas mendadak," jawab Mama sambil sibuk memasukkan baju ganti dan perlengkapan lainnya ke dalam koper.

Mamaku menjalankan sebuah perusahaan. Istilahnya adalah Direktur Utama. Karena itu, sesekali beliau memang harus meninggalkan rumah untuk urusan dinas. Tidak jarang juga beliau harus pergi ke luar negeri, dan kalau sudah begitu, beliau baru akan pulang seminggu kemudian.

"Begitu ya... Kali ini lama?" tanyaku dengan nada yang sedikit lesu.

Kalau Mama tidak ada, di rumah ini hanya akan ada aku dan Ryouta. Adikku baru berusia lima tahun, masih terlalu kecil untuk ditinggal sendirian di rumah. Jadi, akulah yang harus menjaga dan mengurusnya.

Tapi kalau sudah begitu, rencana ke kafe bersama Saki besok terpaksa harus dibatalkan.

"Rencananya cuma tiga hari, kok. Sepertinya Mama bakal pulang di hari yang sama dengan Papa."

"...Paham."

Sekadar informasi, Papaku juga seorang pengusaha dan saat ini beliau pun sedang dalam perjalanan dinas. Aku sangat menghormati kedua orang tuaku dari lubuk hati yang paling dalam karena mereka melakukan pekerjaan yang sangat sibuk dan penuh tanggung jawab.

Tapi terkadang, aku tidak bisa menahan rasa tidak puas jika mereka harus pergi bekerja seperti ini. Aku tentu merasakan kasih sayang yang melimpah dari Papa dan Mama untukku dan Ryouta, dan aku pun paham kalau mereka selalu berusaha mengutamakan waktu bersama keluarga.

Karena itu, aku tidak ingin banyak mengeluh, tapi rasa tidak puas itu sepertinya sedikit terbaca di wajahku. Mama yang menyadari hal itu pun memasang ekspresi merasa bersalah.

"Maaf ya, padahal besok baru mulai libur musim panas."

"Nggak apa-apa kok, Ma. Namanya juga kerja, mau gimana lagi."

"Mama bakal belikan oleh-oleh nanti. Tolong jaga Ryouta, ya."

Ryouta pasti sedang tidur siang sekarang. Jika anak seusianya yang masih sangat manja itu bangun, dia pasti akan merengek dan berusaha mencegah Mama pergi dinas. Sejujurnya, aku pun ingin merengek dan bermanja-manja pada Mama. Namun, posisiku sebagai siswi SMA sekaligus kakak bagi adik yang masih kecil tidak mengizinkanku melakukannya.

"Iya, urusan rumah serahkan saja padaku. Mama semangat ya kerjanya," kataku sambil berusaha tersenyum ceria, menutupi rasa tidak puas yang sempat muncul di hati.

Mendengar itu, Mama berseru "Ah, hampir lupa!" seolah baru teringat sesuatu, lalu menunjukkan selembar brosur yang tergeletak di atas meja padaku.

"Kalau nanti kamu merasa capek mengurus rumah, kamu boleh pakai jasa ini."

"Apa ini?" tanyaku sambil menerima brosur itu dan membaca isinya.

"...Layanan Pengurus Rumah Tangga?"

"Iya. Kalau kamu pesan, mereka bakal bantu bersih-bersih, mencuci baju, sampai membuatkan makanan. Praktis, kan?"

"Hmm."

Di brosur itu, di bawah slogan 'Waktu Berharga dengan Pengurus Rumah Tangga', tertulis berbagai informasi tentang jenis layanan, panduan paket, dan lain-lain.

"Hee... mereka bisa bantu belanja juga ya."

"Iya. Ini, kalau kamu mau panggil mereka, pakai uang ini saja ya."

Sambil berkata begitu, Mama memberiku sejumlah uang.

"Eh, nggak usah. Kalau aku panggil, aku pakai uang jajan sendiri saja."

Karena aku biasanya tidak membuang-buang uang jajan, memanggil layanan pengurus rumah satu atau dua kali harusnya tidak masalah. Tapi Mama menggeleng dan tetap menyodorkan uang itu padaku.

"Ini permintaan maaf Mama karena harus memintamu mengurus rumah sejak hari pertama liburan."

"...Baiklah. Aku terima ya."

Yah, kalau nanti aku tidak jadi memanggil layanannya, aku tinggal mengembalikan uangnya saja.

"Kalau begitu, taksinya sudah datang, Mama berangkat dulu ya."

"Iya, hati-hati di jalan ya, Ma."

Mama menutup kopernya, lalu berangkat dinas dengan taksi yang sudah menunggu di depan rumah.

Setelah melepas kepergian Mama, aku langsung mengirim pesan ke Saki bahwa aku ingin membatalkan rencana besok.

[Maaf ya. Orang tuaku tiba-tiba harus pergi dinas dan rumah kosong, jadi besok aku nggak bisa ke kafe.]

Bersama pesan itu, aku mengirim stiker kelinci yang sedang menangis meraung-raung sampai air matanya membentuk pancuran. Setiap kali bunyi efek 'shupo' saat pesan terkirim terdengar, semangatku makin merosot.

Aduuuh, seriusan? Orang tuamu pergi sampai kapan?

[Tiga hari lagi Papa dan Mama bakal pulang bareng-bareng.]

Gitu ya... apa aku perlu main ke rumahmu saja?

Aku nyaris membalas tawaran Saki dengan "Iya", tapi aku berhasil menahan diri. Rumah Saki sekarang cukup jauh dari rumahku. Sampai SMP, dia tinggal di apartemen dekat rumahku, tapi tepat sebelum masuk SMA, dia pindah ke rumah baru yang dibangun sendiri. Meskipun kepindahan sahabatku itu adalah hal yang sangat membahagiakan, aku masih ingat saat itu aku malah menangis karena tidak suka Saki pergi ke tempat yang jauh.

[Nggak usah, nggak apa-apa. Nanti kalau orang tuaku sudah pulang, kita main lagi ya?]

Ayaka beneran nggak apa-apa?

[Iya! Aman kok!]

Aku mengirim stiker kelinci yang mengacungkan jempol mantap. Saki pun membalas dengan stiker beruang yang membentuk lingkaran di atas kepalanya dengan kedua tangan.

"......Haaah~"

Aku tidak bisa menahan desahan napas. Libur musim panas kelas dua SMA-ku dimulai dengan pembukaan yang sangat suram.

Selain pernyataan cinta dari Kaitou-senpai, pembatalan rencana bermain dengan Saki juga memberikan dampak mental yang cukup besar bagiku. Di tengah kondisi itu, aku harus memasak untuk Ryouta, menemaninya bermain, dan mengurus segala kebutuhannya. Lalu di sela-sela itu, aku harus mencuci baju, bersih-bersih, dan mengerjakan berbagai pekerjaan rumah.

Selama tiga hari orang tuaku tidak ada, aku harus kuat.

Aku terus meyakinkan diriku sendiri sambil menjalani tiga hari itu. Namun di hari terakhir, rasa lelah mentalku sudah menumpuk terlalu banyak, sampai-sampai aku tertidur pulas di sofa ruang tengah. Sebenarnya aku cuma berniat berbaring sebentar karena capek, tapi tahu-tahu aku sudah terlelap sangat dalam.

Ryouta yang khawatir melihatku tertidur, mencoba membuat makan siang sendiri tanpa membangunkanku. Tapi bagi Ryouta yang baru berusia lima tahun, memasak sendirian adalah tantangan yang nekat, dan seperti yang sudah diduga, area dapur berakhir dalam kondisi yang mengenaskan.

Ryouta yang tampak murung karena gagal berulang kali meminta maaf. Karena pada dasarnya ini adalah kesalahanku karena sempat membuat adikku khawatir, aku tidak bisa memarahinya dengan keras.

Melihat sosok adikku yang tertunduk lesu, aku mengelus kepalanya dan berkata:

"Masih bahaya kalau Ryouta berdiri di dapur sendirian. Lain kali panggil Kakak dulu ya?"

"Iya... maafkan aku."

Saat aku mengelus lembut kepala Ryouta yang sekali lagi meminta maaf, suara bel "pin-pon" bergema dari arah pintu.

"Ryouta, temanmu sudah datang, tuh. Hari ini kamu bilang mau main bareng di taman, kan?"

"Iya, tapi..." Ryouta menggantungkan kalimatnya sambil melirik ke arah dapur.

Sepertinya dia merasa bersalah karena mau pergi main padahal dialah yang membuat dapur berantakan. Aku berjongkok untuk menyamakan pandangan dengannya.

"Dapurnya biar Kakak yang bereskan. Ryouta pergi main saja, gih."

"...Boleh?"

"Boleh, dong. Ayo, jangan buat temanmu menunggu."

Ryouta sering bermain di taman dengan teman-teman tetangga. Saat itu, orang tua teman-temannya akan mengawasi Ryouta dengan baik, jadi aku merasa tenang.

Aku mengantar Ryouta sampai pintu depan, menyapa singkat teman dan orang tuanya, lalu kembali ke dapur dan tanpa sadar mengembuskan napas panjang.

"Haaah... ini berat juga, ya."

Aku sangat paham kalau Ryouta tidak bermaksud buruk. Malahan, ini adalah kesalahanku karena telah menunjukkan wajah lelah sehingga membuat adik kecilku khawatir. Tapi, meski otakku memahaminya, kenyataan bahwa aku merasa lelah secara mental dan fisik adalah hal yang tidak bisa kuhindari.

"Haaah..."

Tubuhku rasanya sulit digerakkan, hanya helaan napas yang terus keluar.

"Semangat, Ayaka! Hari ini Papa dan Mama pulang! Sedikit lagi saja!"

Benar, nanti malam Papa dan Mama akan pulang. Kalau itu terjadi, aku akan terbebas dari pekerjaan rumah dan bisa bersantai kembali.

"Ah, besok apa aku pergi main sama Saki saja ya?"

Sengaja kuucapkan keras-keras agar semangatku bangkit. Namun, tubuhku tetap saja sulit diajak kompromi.

"Uuuh, nggak bisa."

Sambil tertunduk lesu, aku mundur dari depan dapur dan duduk di kursi meja makan. Saat itulah, selembar brosur masuk ke dalam bidang pandangku.

Itu adalah brosur yang ditunjukkan Mama padaku sebelum berangkat dinas.

"...Layanan Pengurus Rumah Tangga, ya."

Aku mengambil brosur yang tergeletak di meja itu dan sekali lagi membaca isinya dengan saksama.

"Panggil saja kali, ya?"

Saat ini, layanan pengurus rumah tangga terasa sangat menggiurkan bagiku.

"Mama juga bilang boleh panggil kalau butuh..."

Sambil menggumamkan kata-kata untuk meyakinkan diri sendiri, aku memindai kode QR yang tertera di brosur. Aku membuka beranda layanan tersebut, dan tanpa sadar, tahu-tahu aku sudah menekan tombol pesan.

"A-aku beneran pesan..."

Sambil menatap email konfirmasi pesanan, rasa tegang mulai merayap di dalam hatiku.

Du-duh, aku pesan karena terbawa suasana, tapi apa nggak apa-apa ya? Nggak masalah kan kalau anak SMA yang pesan?

Sambil memikirkan hal itu, aku menunggu dengan gelisah sampai petugasnya datang. Dan saat jam menunjukkan hampir pukul tiga sore, akhirnya sang pengurus rumah tangga tiba di rumahku.

Detik itu juga, aku dibuat ternganga. Ternyata, yang datang sebagai petugas pengurus rumah tangga adalah teman satu sekolah, bahkan satu kelasku sendiri, yaitu Ootsuki-kun.

"Eh? Kenapa bisa?"

Sambil menggumamkan pertanyaan itu, aku refleks memasang posisi waspada. Wajar saja kan kalau aku jadi curiga, apalagi setelah melihat orang aneh seperti Kaitou-senpai.

Mungkin karena menyadari kewaspadaanku, Ootsuki-kun langsung menawarkan diri untuk mengganti petugas. Melihat responnya itu, aku mulai merasakan sedikit ketenangan.

Ootsuki-kun memperlakukanku murni sebagai seorang pelanggan. Aku tidak merasakan adanya niat terselubung yang aneh dari sikapnya. Saat itulah, suara Saki terngiang kembali di kepalaku.

'Hmm, kalau menurutku sih, Ootsuki-kun yang sekelas sama kita kayaknya cocok buat kamu.'

Mengingat kata-kata Saki, aku jadi sedikit tertarik pada sosok Ootsuki-kun, dan akhirnya memutuskan untuk tetap memintanya mengerjakan pekerjaan rumah. Ootsuki-kun sempat terlihat terkejut, sih.

Tapi sepertinya keputusanku tidak salah. Sebagai staf pengurus rumah tangga, sikap Ootsuki-kun sangat tulus dan profesional.

Di tengah jalan, sempat ada kejadian Ryouta pulang dari taman dan mengira Ootsuki-kun adalah pencuri. Meski begitu, dia tidak merasa tersinggung dan tetap menghadapi Ryouta dengan sangat lembut.

Sepertinya Ryouta pun mulai membuka hatinya pada Ootsuki-kun. Buktinya, saat dia hendak pulang, Ryouta sendiri yang menghampiri dan melambaikan tangan sambil mengucap "Dah-dah". Padahal Ryouta itu tipe anak yang pemalu; dia tidak akan pernah mau mendekati orang yang baru pertama kali ditemuinya. Melihatnya bisa akrab dengan Ootsuki-kun dalam waktu sesingkat itu, aku benar-benar merasa tersentuh.

Tapi, aku rasa aku tahu kenapa Ryouta bisa merasa nyaman secepat itu. Seperti kata Saki, Ootsuki-kun punya pembawaan yang tenang dan ekspresi wajah yang lembut saat berbicara. Mungkin karena tuntutan pekerjaan, tapi cara bicaranya sangat sopan, sampai-sampai aku merasa dia jauh lebih dewasa meskipun kami seumuran.

Selain itu, kemampuan rumah tangganya benar-benar luar biasa. Yah, wajar saja karena dia bekerja paruh waktu di layanan pengurus rumah tangga, tapi dia benar-benar menyulap dapurku yang tadinya mengenaskan menjadi kinclong. Dia bahkan membersihkan ruang tengah yang awalnya tidak masuk dalam pesanan, sampai tidak ada sebutir debu pun yang tersisa.

Lalu, sosoknya saat sedang memasak terlihat persis seperti koki profesional. Aku sama sekali tidak bosan memperhatikan gerak-geriknya saat menyiapkan makanan.

Selama ini aku selalu menghindari laki-laki, tapi... mungkin kalau dengan Ootsuki-kun, aku bisa berteman baik. Meski hanya dalam waktu singkat, interaksi dengannya membuatku merasakan firasat seperti itu. Entah kenapa, aku merasa Ootsuki-kun tidak melihatku dari penampilan luar saja, melainkan benar-benar melihat kepribadianku. Buktinya, dia bilang kalau aku ini "kakak yang baik".

Karena mulai memikirkan hal-hal seperti itu, aku jadi merasa sedikit tidak puas—atau mungkin kecewa—karena Ootsuki-kun tetap memperlakukanku hanya sebagai seorang "pelanggan". Padahal jarang-jarang aku merasa bisa berteman dengan lawan jenis, tapi kalau dia terus bersikap formal begitu, rasanya jarak kami jadi sangat jauh.

Setelah Ootsuki-kun pulang, aku dan Ryouta menyantap hamburg buatannya. Dan jujur saja, itu adalah hamburg paling enak yang pernah kumakan seumur hidupku. Ryouta bahkan melahapnya dengan sangat lahap sampai aku takut dia tersedak. Melihat adikku makan dengan mata melotot lebar tanpa berkedip saking enaknya, suasananya jadi agak horor.

Masakan Ootsuki-kun yang bisa membuat Ryouta segila itu... benar-benar mengerikan!


Sehari setelah menyelesaikan tugasnya di rumah keluarga Toujou dengan selamat, Haruto pergi bermain ke rumah sahabatnya, Akagi Tomoya.

"Oit, Haru. Bukannya lo bilang liburan musim panas ini cuma mau diisi sama belajar dan kerja? Tumben banget lo mau main ke rumah gue?" tanya Tomoya dengan nada mengejek.

"Rencananya sih gitu. Tapi semalam gue nggak sengaja nonton acara TV soal rumah sampah," jawab Haruto sambil mulai merapikan komik-komik di rak buku Tomoya yang berantakan.

"Terus, gue tiba-tiba ngerasa cemas. Gimana kalau rumah sampah yang masuk TV berikutnya ternyata kamar sahabat gue sendiri?"

"Kamar gue nggak sejorok itu, kampret!" protes Tomoya sambil menegakkan punggungnya dari sandaran kursi.

Saat itu adalah puncak musim panas dengan gelombang panas yang menyengat setiap hari. Sinar matahari yang terik menyinari kamar Tomoya dengan cerah. Namun, berkat AC yang menyala, kamar itu tetap terasa sejuk dan nyaman meski cahaya matahari masuk dengan bebas.

"Lagian, AC di kamar gue lagi rewel, makanya gue mengungsi ke sini," ucap Haruto dengan santai. Tomoya langsung menatapnya dengan tatapan malas.

"Woy, gue tagih biaya listriknya lho nanti."

"Kalau gitu gue tagih biaya bersih-bersih kamar. Gue hitung mundur sejak pertama kali gue beresin kamar lo."

"Maafkan saya, Yang Mulia. Silakan gunakan ruangan ini sesuka hati Anda."

Tomoya langsung mengaku kalah dengan cepat. Dia kembali menyandarkan punggungnya di kursi, lalu melontarkan pertanyaan pada Haruto.

"Ngomong-ngomong, kemarin hari pertama lo kerja, kan? Gimana rasanya jadi pengurus rumah tangga?"

"Oh, itu..."

Mendengar pertanyaan Tomoya, Haruto menghentikan sejenak kegiatan bersih-bersihnya dan tampak berpikir.

"Yah, rasanya cukup memuaskan, sih," jawab Haruto sambil membayangkan senyum Toujou saat mengucapkan "terima kasih" di dalam benaknya.

"Hmm? Ngapain lo senyum-senyum sendiri gitu, Haru?"

Begitu Tomoya menunjukkan hal itu, Haruto buru-buru membetulkan ekspresi wajahnya.

"Ha? Siapa juga yang senyum-senyum!"

"Nggak usah ngeles, barusan lo jelas-jelas lagi nyengir... Ah, gue tahu nih!"

"A-apaan?"

"Klien jasa pengurus rumah tangganya pasti mbak-mbak cantik, kan!" ucap sahabatnya itu dengan nada penuh keyakinan. Alis Haruto berkedut sedikit.

"Salah, bego!"

"Nggak, pasti bener. Terus mbak-mbak itu tipenya Office Lady yang kelelahan gara-gara kerjaan, kan?"

"Jangan bikin imajinasi aneh-aneh deh."

"Terus mbak-mbak itu ternyata seksi banget. Lo kan aslinya mesum tapi sok kalem (muttsuri), jadi pasti lo berusaha nyembunyiin hal kayak gitu."

Tomoya melipat tangan di depan dada sambil mengangguk-angguk mantap seolah sudah paham segalanya. Haruto menatapnya dengan wajah jengah.

"Mana mungkin kayak gitu. Lagian siapa yang lo panggil mesum sok kalem, hah? Siapa?"

"Beneran salah, nih? Tapi kliennya cewek cantik, kan?"

"Kenapa lo bisa seyakin itu, sih?"

"Eh? Ya cuma firasat gue aja."

Tomoya mengatakannya seolah itu hal yang sangat wajar. Haruto hanya bisa tersenyum kecut, tidak tahu apakah sahabatnya ini cuma asal tebak atau memang punya insting yang tajam.

"Ayo dong, Haru. Jujur aja, gimana aslinya? Ada kejadian mesum nggak?"

"Mana mungkin ada kejadian kayak gitu sama Toujou-san."

"......Ha? Toujou-san?"

"......Ah......"

Haruto langsung bungkam, menyadari kalau dia baru saja keceplosan.

"Eh?! Toujou-san itu maksudnya Toujou yang 'itu'?! Toujou Ayaka-san?!"

"Bukan... bukan gitu..."

"Bukan apanya! Reaksi lo barusan jelas-jelas nunjukin kalau itu emang Toujou Ayaka-san!"

Meski kaget setengah mati, Tomoya kini sudah yakin 100% kalau klien yang menggunakan jasa Haruto adalah Toujou. Menyadari kalau tidak mungkin lagi untuk mengelak, Haruto akhirnya mengaku, sekaligus memperingatkan sahabatnya itu untuk tutup mulut.

"Jangan berani-berani lo bocorin kalau Toujou-san pesen jasa pengurus rumah tangga, ya. Gue bisa dimarahin perusahaan kalau nggak jaga informasi pribadi dan privasi pelanggan. Gue percaya sama lo, Tomoya. Kalau lo sampai nyebarin ini ke mana-mana, kita putus hubungan."

"Tenang aja, gue nggak bakal nyebarin, kok. Tapi gila ya... terus? Gimana rasanya?"

"Gimana apanya?" Haruto memiringkan kepala sambil melanjutkan tugasnya merapikan kamar Tomoya.

"Gimana apanya kata lo? Lo kan diundang ke rumahnya, rumah Toujou-san yang legendaris itu!"

"Diundang apanya, sih..." Haruto menatap Tomoya dengan ekspresi lelah. "Gue ke rumah Toujou-san itu buat kerja, bukan buat main."

"Iya, gue tahu. Terus, rumah Toujou-san kayak gimana? Wangi nggak?"

Melihat sahabatnya yang sama sekali tidak mendengarkan penjelasannya dan malah bertanya dengan penuh rasa ingin tahu, Haruto mengembuskan napas panjang.

"Pertanyaan lo itu agak mesum, tahu nggak? Terus, pertanyaan itu termasuk informasi pribadi pelanggan, jadi gue nggak bisa kasih tahu."

"Cih, pelit banget sih lo. Gue kan sahabat lo sendiri?"

Tomoya memanyunkan bibirnya dengan sengaja, menunjukkan gestur merajuk. Haruto mengabaikannya begitu saja. Kalau yang melakukan itu adalah gadis cantik, mungkin hatinya akan sedikit luluh. Sayangnya, seberapa banyak pun cowok di depannya ini memanyunkan bibir, hati Haruto tidak akan bergerak sedikit pun. Malah, rasa jengkelnya yang bertambah.

"Pelit~ Haru pelit banget~ Pelit pelit pelit~~"

"Berisik lo!"

Haruto melemparkan majalah musik yang sedang ia pegang ke arah Tomoya. Tomoya menghindar dengan gesit sambil tertawa terbahak-bahak.

"Tapi bagus buat lo, Haru."

"Ha? Apanya?"

"Berarti pas libur musim panas ini lo bisa jadi deket sama Toujou-san, kan? Duh, iri banget gue~"

Tomoya duduk bersila di atas kursinya sambil nyengir lebar. Namun, Haruto mengerutkan kening karena tidak paham dengan jalan pikiran sahabatnya itu.

"Emangnya cuma gara-gara dateng ke rumahnya sekali, kita bisa langsung jadi deket?"

"Eh? Bukannya selama lo kerja paruh waktu di sana, lo bakal bolak-balik ke rumah Toujou-san?" tanya Tomoya dengan wajah bingung.

Haruto menggelengkan kepalanya, membantah perkataan sahabatnya itu.

"Enggak, enggak bakal. Ini yang terakhir kalinya gue ke rumah Toujou-san."

"Lho, kenapa?"

"Ya lo pikir aja sendiri, emangnya nggak risih? Ada temen sekelas dateng ke rumah terus beresin rumah lo. Kalau gue jadi Toujou-san, kalaupun gue mau pesen jasa pengurus rumah tangga lagi, gue bakal minta orang lain. Rasanya canggung banget kalau temen sekelas yang ngerjain urusan rumah tangga kita."

"Hmm? Masa sih?" Tomoya memiringkan kepalanya, lalu menatap Haruto—teman sekelasnya sendiri—yang saat ini sedang sibuk membersihkan kamarnya. "Gue sih nggak ngerasa canggung sama sekali?"

"......."

Mendengar ucapan santai sahabatnya itu, sudut mulut Haruto berkedut jengkel.

"Kayaknya gue beneran harus nagih duit ke lo deh," gumam Haruto dengan suara rendah dan berat.

"Apa?! Ja-jangan yang itu! Gue lagi bokek gara-gara baru beli barang ini!" Tomoya berujar dengan wajah panik sambil memeluk erat sebuah kotak hitam yang ada di dekatnya.

"Lho? Lo beli yang baru?" tanya Haruto, melirik kotak hitam yang dipeluk Tomoya. Itu adalah tas gitar (guitar case).

Tomoya sudah mulai bermain gitar sejak SD, dan sekarang dia sedang aktif dalam sebuah band bersama murid dari sekolah lain.

"Iya, nih. Pas kemarin ke toko musik, gue langsung jatuh cinta pada pandangan pertama sama si cantik ini," ucap Tomoya sambil mengelus-elus tas gitar itu dengan tawa "dehehe" yang terdengar aneh.

Haruto sedikit bergidik melihat perilaku "menyimpang" sahabatnya itu, lalu mengalihkan pandangannya ke gitar lain yang tersandar di dinding.

"Gitar emang harus punya dua, ya?"

"Harus banget! Lo nggak bakal rugi punya gitar sebanyak apa pun!"

"Heh, gitu ya."

Haruto yang buta soal instrumen dan musik hanya menjawab dengan nada malas sambil kembali melanjutkan kegiatan bersih-bersihnya.

"Woy! Lebih antusias dikit napa!"

"Ya habisnya gue nggak ngerti soal alat musik, lagian nggak ada niat buat main juga."

"Jangan gitu dong, Haru! Mending lo mulai belajar gitar juga terus bikin band bareng gue!" seru Tomoya sambil menggerak-gerakkan tangannya seolah sedang mengajari seseorang.

"Nggak, makasih."

"Yah... kalau gitu jadi vokalisnya deh! Band gue rencananya mau tampil di festival budaya tahun ini. Ayo kita nikmatin masa muda bareng-bareng!"

Sambil mengacungkan jempol dan tersenyum lebar, Tomoya mencoba membujuk sahabatnya. Namun Haruto, tanpa menghentikan tangannya yang sibuk bersih-bersih, menjawab dengan nada tidak tertarik.

"Nggak, makasih."

"Jangan gitu dong~ Ayo main band bareng gue~"

Haruto mengabaikan Tomoya yang merengek seperti anak kecil dan terus melanjutkan pekerjaannya.

"Haru~ Ayo bikin band~ Ayo kita nikmatin musik bareng~"

"Iya, iya, terserah. Nanti gue pikirin dikit. Ngomong-ngomong, Haruka-chan lagi nggak ada di rumah?"

Haruto menjawab seadanya demi menghindari ajakan gigih Tomoya, lalu mengganti topik dengan menanyakan adik perempuan sahabatnya itu.

"Dia pergi ikut bimbingan belajar musim panas dari pagi tadi."

"Gitu ya. Haruka-chan tahun depan ujian masuk sekolah, ya."

Tomoya memiliki seorang adik perempuan yang usianya dua tahun lebih muda. Selain menjadi sahabat, Tomoya juga merupakan teman masa kecil Haruto, sehingga adiknya—Haruka—sudah Haruto anggap seperti adiknya sendiri.

Dulu saat kecil mereka bertiga sering bermain bersama. Haruka juga sangat akrab dan memanggil Haruto dengan sebutan "Haru-nii".

"Dia lagi semangat-semangatnya tuh, katanya mau masuk ke SMA yang sama kayak lo."

"Wah, berarti tahun depan Haruka-chan bakal jadi adik kelas gue, ya."

"Ya, kalau dia lulus ujiannya, sih."

"Haruka-chan pasti bisa, kok."

Haruka adalah anak yang cerdas dalam banyak hal, jadi Haruto yakin tahun depan mereka pasti akan berada di sekolah yang sama. Saat Haruto tersenyum membayangkan hal itu, Tomoya tiba-tiba memasang wajah licik.

"Heh Haru. Lo mau selingkuh sama Haruka padahal udah punya Toujou-san, hah?"

"Hah? Apaan sih lo, nggak jelas banget. Kan tadi udah gue bilang? Gue nggak bakal dipanggil lagi ke rumah Toujou-san."

"Masa, sih?"

Menanggapi Haruto yang bersikap sangat yakin, Tomoya melemparkan tatapan curiga sambil nyengir lebar, seolah sedang menikmati sesuatu yang lucu.

"Nggak akan ada panggilan kedua... Gue pun pernah punya masa-masa di mana gue berpikir seyakin itu."

Di depan sebuah kediaman mewah, Haruto bergumam sendirian tanpa ditujukan kepada siapa pun. Baru kemarin dia sesumbar di depan Tomoya kalau dia tidak akan dipanggil lagi ke rumah keluarga Toujou. Dia benar-benar yakin kalau pertemuannya dengan Toujou sebagai pengurus rumah tangga hanyalah sekali seumur hidup. Karena keyakinan itulah, sekarang saat dia berdiri kembali di depan gerbang rumah Toujou, berbagai rasa cemas mulai bermunculan.

Jangan-jangan... gue dipanggil karena ada komplain soal kemarin? Apa jangan-jangan hamburg-nya basi terus mereka keracunan makanan? Nggak, nggak, kalau emang kayak gitu, harusnya mereka langsung lapor ke perusahaan...

Berbagai pikiran buruk berputar di kepala Haruto. Meski semuanya terdengar tidak realistis dan hampir tidak mungkin terjadi, Haruto yang sedang terjebak dalam pola pikir negatif itu menekan tombol interkom dengan ujung jari yang terasa sangat berat.

Bunyi bel "pin-pon" bergema. Jeda sesaat setelah itu terasa sangat lama bagi Haruto yang sedang tegang.

"Iyaa~ Siapa ya?"

Berbanding terbalik dengan ketegangan Haruto, suara yang terdengar dari interkom itu justru terdengar sangat ceria dan bersemangat.

"Ah, saya dari layanan pengurus rumah tangga."

"Wah! Sudah kutunggu-tunggu! Sebentar ya, pintunya dibuka sekarang!"

Haruto memiringkan kepala mendengar suara dari interkom itu. Suaranya memang mirip dengan Toujou, tapi nadanya terlalu bersemangat dan terasa tidak cocok dengan pembawaan Toujou yang biasanya tenang. Haruto berpikir, mungkin yang barusan bicara adalah kakak perempuannya Toujou.

Dalam bayangan Haruto, sosok Toujou Ayaka adalah gadis yang lebih ke arah anggun daripada aktif. Saat kunjungannya kemarin pun, Toujou terlihat seperti sosok kakak perempuan yang pendiam dan dewasa yang sangat telaten menjaga adiknya.

Sambil memikirkan hal itu, pintu depan terbuka dan seorang wanita menampakkan dirinya. Usianya mungkin sekitar akhir dua puluhan. Wajahnya sangat cantik dan memiliki aura yang mirip dengan Toujou, sehingga Haruto semakin yakin kalau wanita ini adalah kakaknya Toujou.

"Oh, kamu Ootsuki-kun, ya! Ayo, ayo, masuk!"

"Ah, iya. Permisi, saya mengganggu."

Haruto yang diajak masuk dengan penuh semangat itu segera masuk ke rumah dan memakai sandal yang sudah disiapkan. Saat itulah, dia menyadari Ryouta sedang mengintip dari ujung lorong.

"Halo, Ryouta-kun."

"...Halo."

"Gimana, hamburg-nya enak?"

Ryouta yang tadinya masih menunjukkan sedikit sikap waspada, langsung melunakkan ekspresinya mendengar pertanyaan Haruto.

"Iya. Enak banget!"

"Kakak senang kalau Ryouta-kun suka."

Begitu Haruto mengatakannya dengan senyum lembut, Ryouta tersenyum malu-malu.

"Ufufufu, aku dengar dari Ayaka, katanya Ryouta makannya lahap banget sampai kayak kesurupan," ucap wanita yang Haruto kira kakak Toujou itu dengan wajah berseri-seri.

"Ibu juga makan hamburg-nya, kan! Enak banget, kan!"

Ryouta bersikeras menjelaskan kelezatan hamburg itu, mungkin untuk menutupi rasa malunya.

"Iya, iya, memang enak sekali."

Mendengar percakapan itu, Haruto langsung membatu karena syok. Ternyata, sosok yang dia kira kakak perempuan Toujou itu bukanlah kakaknya, melainkan Ibunya. Wanita yang sedang tersenyum pada Ryouta itu terlihat sangat awet muda, sampai-sampai siapa pun tidak akan menyangka kalau dia adalah ibu dari dua orang anak.

Tanpa menyadari keterkejutan Haruto, Ryouta bertanya dengan wajah penuh harap.

"Hari ini Kakak mau masak apa?"

"Heh, Ryouta. Biarkan Ootsuki-kun masuk ke ruang tengah dulu, dong."

"Ah, iya."

Mendengar teguran ibunya yang bernada lembut, Ryouta mengangguk patuh. "Lewat sini," ucapnya sambil menuntun Haruto. Haruto hanya bisa tersenyum kecil sambil mengikuti langkah bocah itu menuju ruang tengah.

"Sebenarnya, sejak pagi tadi Ryouta berisik sekali. Dia terus bertanya, 'Apa kakak yang jago bikin hamburg enak itu bakal datang hari ini?' begitu," cerita sang ibu.

"Begitu rupanya."

Haruto menjawab dengan senyum ramah yang tetap terjaga, meski di dalam hati ia masih terguncang oleh kenyataan bahwa wanita yang ia kira kakak Toujou ternyata adalah ibunya.

"Kalau begitu, izinkan saya menyapa secara resmi. Terima kasih banyak telah menggunakan layanan pengurus rumah tangga kami. Saya Ootsuki yang akan bertugas. Berdasarkan pesanan dari Ibu Toujou, paket yang diambil adalah paket tiga jam untuk bersih-bersih dan memasak makan malam. Apakah sudah benar?"

"Iyaa, benar sekali."

Melihat Haruto yang mengonfirmasi dengan nada bicara bisnis yang kaku, Ibu Toujou mengangguk pelan, meski wajahnya kemudian berubah sedikit tidak puas.

"Aku dengar dari Ayaka, Ootsuki-kun ini teman sekelasnya, ya?"

"Ah, iya. Benar."

"Kalau begitu, tidak perlu bicara seformal itu! Jangan panggil aku Nyonya Toujou, panggil saja Ikue," pintanya, yang seketika membuat Haruto kebingungan.

"Tapi, meskipun Anda adalah orang tua teman sekelas saya, bagi saya Anda tetaplah pelanggan..."

"Jangan bicara yang dingin begitu, dong. Tolong ya, bersikaplah lebih santai," desak Ikue.

"Tapi... itu..."

"Ayolah... nggak boleh?"

Ikue menangkupkan kedua tangannya dan memiringkan kepala sambil menatap Haruto dengan tatapan memohon dari bawah. Haruto refleks mengalihkan pandangannya.

Ibu Toujou ini benar-benar definisi dari "wanita cantik awet muda" (Bimajo). Ia terlihat seperti versi Ayaka Toujou yang telah ditambahkan pesona dewasa di dalamnya. Mendapat permohonan seperti itu, hati Haruto yang sedang berada di puncak masa puber tentu saja goyah hebat.

"......Baiklah. I-Ikue-san."

"Wah, senangnya! Terima kasih ya, Ootsuki-kun!"

"I-iya."

Dengan pipi yang sedikit merona, Haruto membungkuk sambil menundukkan wajahnya. Tepat saat itu, Ayaka muncul di ruang tengah.

"Ah, Ootsuki-kun. Sudah datang, ya. Selamat datang."

"Permisi, saya mengganggu. Nyonya Toujou... ah, Toujou-san." Begitu kata "Nyonya" hampir terucap, Haruto merasakan tatapan tajam dari Ikue dan buru-buru meralatnya. "Terima kasih telah menggunakan jasa kami kembali."

"Iya. Kemarin aku cerita ke orang tuaku kalau yang beres-beres kamar dan membuatkan hamburg itu adalah layanan pengurus rumah tangga. Begitu tahu stafnya adalah Ootsuki-kun yang satu kelas denganku, kedua orang tuaku bilang mereka sangat ingin bertemu langsung. Terus Ryouta juga berisik sekali ingin makan masakan Ootsuki-kun lagi."

Melihat Ayaka yang bercerita dengan ekspresi sedikit malu, Haruto menundukkan kepalanya dengan sopan.

"Saya sangat senang Anda puas dengan layanan sebelumnya. Kali ini pun, saya akan bekerja dengan sepenuh hati agar bisa memenuhi ekspektasi Anda."

"U-um. Mohon bantuannya."

Seolah terbawa suasana Haruto, Ayaka ikut membungkukkan kepalanya. Melihat interaksi keduanya, Ikue menempelkan tangan ke pipi sambil berkomentar.

"Kalian berdua kan teman sekelas? Kenapa tidak bersikap lebih akrab saja?"

Mendengar ucapan ibunya, Ayaka memasang ekspresi agak sulit.

"Tapi aku... belum pernah mengobrol dengan Ootsuki-kun di sekolah sekalipun..."

"Lho, kalau begitu jadikan ini kesempatan untuk akrab, kan? Benar kan, Ootsuki-kun?"

"Hah? Ah, iya. E-eh... begitulah sepertinya," jawab Haruto gagap. Ia sempat bingung harus menjawab apa, namun ia merasa jika ia menolak sekarang, situasinya akan menjadi semakin rumit. Jadi, meski ragu, ia memutuskan untuk setuju.

Mendengar jawaban Haruto, Ikue mengangguk puas lalu menatap putrinya.

"Ayaka, kamu tidak punya teman laki-laki, kan? Ootsuki-kun kelihatannya anak yang baik, jadi ini kesempatan bagus."

"Tu-tunggu dulu, Ma! Aku memanggil Ootsuki-kun bukan karena alasan itu, tahu!"

"Oh? Jadi Ayaka tidak mau berteman dengan Ootsuki-kun?"

"Bukannya... aku nggak mau berteman..."

"Berarti kamu mau berteman, kan! Maaf ya Ootsuki-kun, anak ini memang dari dulu tidak pernah jujur kalau soal begini," goda Ikue.

"Ma-Mamaaa... ugh..."

Melihat Toujou yang mengerang memprotes dengan wajah merah padam, Haruto hanya bisa tertawa canggung, "Ahahaha..." untuk mencairkan suasana, sebelum akhirnya mengalihkan pembicaraan kembali ke urusan pekerjaan.

"Anu, kalau begitu saya akan segera mulai bersih-bersih. Apakah ada permintaan khusus untuk bagian tertentu?"

"Permintaan khusus... hmm, apa ya." Ikue berpikir sejenak, lalu pandangannya beralih ke arah jendela. "Ngomong-ngomong, belakangan ini kotoran di jendela mulai mengganggu. Apa kamu bisa membersihkan bagian itu juga?"

Haruto membungkuk hormat, lalu segera melangkah menuju jendela untuk memeriksa kondisi kacanya dari dekat.

"Baik, saya mengerti. Memang benar kotorannya sudah mulai terlihat jelas."

"Iya, kan? Gara-gara hujan dan debu pasir kemarin jadi begini."

"Baiklah. Kalau begitu saya akan segera mengerjakannya."

Haruto kemudian menyingsingkan lengan kemejanya agar lebih leluasa saat bekerja.

"Wah, lengan Ootsuki-kun ternyata lumayan berotot, ya?" komentar Ikue dengan nada kagum saat melihat lengan bawah Haruto yang kini terekspos. "Apa kamu ikut klub olahraga tertentu?"

"Sebenarnya saya sudah ikut latihan di dojo karate sejak kecil."

"Astaga! Ternyata Ootsuki-kun anak karate! Hebat sekali!"

Ikue bertepuk tangan memuji, membuat Haruto sedikit tersipu. "Terima kasih banyak," jawab Haruto sambil menundukkan kepala.

Dengan perasaan yang sedikit membaik setelah dipuji Ikue, Haruto mengeluarkan perlengkapan pembersih jendela dari tasnya. Untuk urusan alat besar seperti penyedot debu, biasanya ia meminjam milik tuan rumah, namun untuk barang kecil seperti kain lap, Haruto lebih suka membawa sendiri. Beberapa di antaranya adalah pemberian sang nenek—barang-barang praktis yang ternyata sangat berguna untuk pekerjaan rumah tangga.

Haruto mulai membasahi kertas koran dengan sedikit air untuk mengelap kaca. Melihat itu, Ryouta mendekat dengan wajah penasaran.

"Itu korannya buat apa?"

"Kalau kita mengelap jendela pakai ini, tinta di kertas korannya bisa mengangkat kotoran sampai bersih, lho."

"Hee~! Hebat banget!! Aku juga mau coba!"

Sepertinya Ryouta benar-benar mulai membuka hati. Ia terus menempel di dekat Haruto yang sedang bekerja, sesekali melontarkan pertanyaan dengan antusias.

"Mau coba? Oke, coba lap bagian sana, ya?"

"Siap!"

Haruto menyerahkan kertas koran yang sudah diperas airnya kepada Ryouta, lalu menunjuk ke area bawah jendela yang bisa dijangkau oleh bocah itu.

"Aduh, maaf ya Ootsuki-kun. Ryouta jadi mengganggu pekerjaanmu," sahut Ikue yang sedari tadi sedang membuka laptop untuk bekerja di ruang tengah.

"Tidak apa-apa. Ryouta-kun sangat membantu saya, kok."

"Tuh dengar, Mama! Aku kan lagi membantu!" seru Ryouta sambil memanyunkan bibir, memprotes kata "mengganggu" dari ibunya.

"Gara-gara dibantu Ryouta-kun, pembersihan jendelanya sepertinya bakal cepat selesai," tambah Haruto.

"Ehehehe." Ryouta tersenyum senang saat Haruto mengelus lembut kepalanya.

"Wah, wah. Ryouta sepertinya sudah sangat akrab dengan Ootsuki-kun, ya. Kalian jadi terlihat seperti kakak-adik betulan. Iya kan, Ayaka?"

"Hah? ...Ah, iya. Benar juga."

Toujou, yang sedari tadi duduk di samping ibunya sambil menopang dagu dan melamun menatap Haruto yang sedang bekerja, tersentak sadar saat tiba-tiba disapa. Melihat reaksi putrinya, Ikue menyunggingkan senyum licik.

"Ayaka sampai bengong begitu... apa kamu merasa cemburu karena Ryouta direbut oleh Ootsuki-kun? Atau jangan-jangan..." Ikue menggoda dengan tatapan jahil. "...Kamu lagi terpesona melihat Ootsuki-kun?"

"---?! Ma-Mama ngomong apa sih!"

Sontak Toujou berdiri dari kursinya dan melotot ke arah ibunya dengan wajah yang kembali memerah.

"Tuh kan, sampai sewot begitu~ Dasar anak muda~"

"Bu-bukan! Pokoknya bukan seperti itu!"

Mendengar teriakan itu, Ryouta yang sedang asyik mengelap jendela bersama Haruto menatap kakaknya dengan bingung.

"Kakak, kok wajahnya merah banget? Apa Kakak sedang flu?"

"N-nggak merah! Aku nggak flu! Ah, sudah ah!"

Sambil berseru begitu, Toujou bergegas melangkah pergi meninggalkan ruang tengah.

"Ibu, Kakak kenapa?" tanya Ryouta dengan wajah polos sambil menatap pintu tempat kakaknya menghilang.

Ikue menyunggingkan senyum penuh arti. "Kakakmu itu sedang menikmati hidupnya, Ryouta."

"Tapi Kakak yang tadi kelihatannya nggak senang?"

"Fufu, masih terlalu pagi buat Ryouta untuk mengerti hal ini."

Sambil terus tersenyum, sang ibu mengalihkan pandangannya pada Haruto yang masih tekun mengelap jendela di samping Ryouta.

"Aku akan sangat senang jika 'Musim Semi' akhirnya mendatangi putriku..."

Sebuah gumaman kecil yang penuh kasih sayang seorang ibu—terdengar sedikit kesepian, namun juga terselip nada bahagia—sampai ke telinga Haruto yang sedang berkonsentrasi pada pekerjaannya.

Setelah selesai dengan jendela, Haruto melanjutkan tugasnya membersihkan lantai hingga toilet. Ia menghabiskan waktu sekitar satu jam untuk membuat kediaman Toujou kembali bersih mengilap.

"Ikue-san, saya sudah selesai bersih-bersih. Apakah ada bagian lain yang ingin saya kerjakan?"

"Tidak perlu! Semuanya sudah sempurna! Terima kasih atas kerja kerasmu," jawab Ikue yang masih duduk di depan laptopnya. Ia tampak sangat puas.

"Baru kali ini aku bisa menyelesaikan begitu banyak pekerjaan kantor di rumah! Biasanya waktuku habis tersita untuk bersih-bersih atau mencuci, jadi susah sekali untuk berkonsentrasi. Kamu benar-benar sangat membantu~"

"Saya senang bisa membantu. Kalau begitu, apakah ada permintaan khusus untuk menu makan malam nanti?"

Ikue menopang dagunya, tampak berpikir keras.

"Hmm, biarkan aku berpikir... Karena cuaca sangat panas, aku ingin sesuatu yang segar. Tapi, kalau bisa yang porsinya agak mengenyangkan ya."

Sambil berkata begitu, Ikue melirik ke arah Ryouta yang kini tertidur lelap di sofa ruang tengah. Sepertinya bocah itu sangat senang bisa membantu Haruto tadi sampai-sampai ia terus menempel pada Haruto. Namun karena terlalu bersemangat, ia akhirnya kelelahan dan mulai mengantuk, sehingga Haruto membawanya ke sofa agar bisa tidur dengan nyaman.

"Ryouta-kun memang sedang dalam masa pertumbuhan, ya," komentar Haruto.

"Iya, itu masalahnya. Kalau aku sih makan somen saja sudah cukup, tapi Ryouta pasti merasa kurang."

Benar juga, somen memang nikmat disantap saat musim panas, tapi bagi anak kecil yang aktif, makanan itu kurang mengenyangkan dan nutrisinya sulit diseimbangkan. Setelah berpikir sejenak, Haruto memberikan usul.

"Bagaimana kalau Pasta Krim Aroma Lemon? Asam dari lemonnya akan memberikan rasa segar, jadi tidak akan terasa berat meski dimakan saat cuaca panas."

"Wah! Kedengarannya enak sekali!"

"Lalu untuk supnya saya akan buatkan Potage Dingin, dan saladnya kita pakai Caprese. Bagaimana menurut Ibu?"

"Menu yang sangat elegan! Pasti makan malamnya jadi luar biasa. Ah, soal bahan-bahannya, kebetulan isi kulkas sedang kosong melompong. Bisa aku sekalian minta tolong untuk belanja?"

"Tentu, tidak masalah."

Belanja bahan makanan memang termasuk dalam lingkup pekerjaan layanan rumah tangga. Begitu Haruto mengiyakan, Ikue segera menyerahkan sebuah amplop.

"Apa segini cukup?"

Saat Haruto membuka amplop yang diberikan dengan santai itu, ia menemukan tiga lembar uang sepuluh ribu yen (30.000 Yen). Haruto tertegun sejenak.

Jadi begini ya rasanya berurusan dengan kalangan elite... gumamnya dalam hati, merasakan sedikit guncangan budaya.

"Saya rasa nominal ini lebih dari cukup. Apakah ada supermarket tertentu atau spesifikasi asal bahan makanan yang harus saya beli?" tanya Haruto. Ada beberapa pelanggan yang sangat pilih-pilih soal tempat belanja atau asal-usul bahan organik, namun Ikue hanya melambaikan tangannya santai.

"Nggak ada, kok. Kamu tahu lokasi supermarketnya, kan?"

"Iya, saya tahu. Kalau begitu, saya berangkat sekarang."

Saat Haruto hendak melangkah keluar dari ruang tengah, Ryouta yang sedari tadi terlelap di sofa tiba-tiba bangun dan duduk tegak.

"......Lho? Kakak mau ke mana?" tanya Ryouta sambil mengucek-ucek matanya yang masih mengantuk.

"Kakak mau pergi belanja bahan makanan untuk makan malam nanti," jawab Haruto.

"......Belanja?"

"Iya, benar."

Begitu Haruto menjawab, mata Ryouta yang tadinya sayu langsung terbuka lebar dan berbinar.

"Aku mau ikut juga!!" seru Ryouta sambil melompat turun dari sofa dan berlari menghampiri Haruto. Sepertinya, setelah sesi bersih-bersih bersama tadi, bocah itu sudah benar-benar merasa nyaman dan sangat menyukai Haruto.

"Nggak boleh, Ryouta. Ootsuki-kun itu sedang bekerja, bukan mau pergi main," tegur Ikue.

"Eeeh~! Aku juga mau ikut belanja!"

Melihat Ryouta yang mulai merengek, Ikue memasang wajah agak bingung. Ia merasa tidak enak jika harus membiarkan Haruto bekerja sambil menjaga Ryouta di saat yang bersamaan. Karena itulah, Ikue menggelengkan kepala menolak permintaan putra bungsunya.

"Nggak boleh. Ootsuki-kun sedang bekerja, tahu? Ryouta di rumah saja ya, tunggu sampai Ootsuki-kun pulang."

Mendengar bujukan ibunya, Ryouta mengepalkan tangan erat-erat dan menundukkan kepalanya.

"Padahal tadi aku sudah bantu Kakak bersih-bersih..."

Sepertinya Ryouta benar-benar ingin pergi bersama Haruto, sampai-sampai ada sedikit genangan air mata yang mulai muncul di sudut matanya.

"Duh, repot juga ya. Padahal biasanya dia anak yang penurut... Sepertinya dia benar-benar menyukaimu, Ootsuki-kun," gumam Ikue.

"Anu, bagi saya sendiri tidak masalah kalau dia ikut," ucap Haruto menawarkan solusi.

Meskipun Haruto bilang tidak keberatan, Ikue tetap terlihat bimbang karena merasa sungkan. Namun tak lama kemudian, raut wajahnya berubah seolah baru saja mendapatkan ide cemerlang.

"Kalau begitu, bagaimana kalau Ayaka juga ikut menemani belanja?"

Ikue segera melangkah keluar ruang tengah menuju tangga di lorong. "Ayakaaa, ke sini sebentar~!" serunya dengan suara yang cukup keras.

Sejak digoda oleh ibunya tadi, Ayaka memang terus mengurung diri di dalam kamarnya di lantai atas.

"Ayakaaa!"

Begitu ibunya memanggil untuk kedua kalinya, terdengar bunyi pintu terbuka diikuti dengan sosok Ayaka yang muncul.

"......Apa?" tanya Ayaka. Wajahnya masih menunjukkan sisa-sisa rasa tidak senang.

Melihat putrinya, Ikue menyunggingkan senyum lebar yang ramah. "Ryouta bersikeras mau ikut Ootsuki-kun belanja. Jadi, bisakah kamu ikut juga supaya bisa menjaga Ryouta?"

"Hee..." Ayaka melemparkan tatapan penuh curiga pada ibunya.

"Mama nggak punya niat aneh-aneh, kok. Lagian, kasihan kan kalau Ootsuki-kun harus belanja sambil menjaga Ryouta sendirian? Pasti repot sekali."

"Itu... memang benar, sih."

"Nah, kan? Makanya, tolong ya, pergi bareng mereka dan jagain Ryouta."

"......Baiklah."

Setelah Ayaka mengangguk setuju, senyum Ikue makin merekah. "Ryouta, Kakak bakal ikut menemani, jadi kamu boleh ikut belanja!"

"Horeeeeee!"

Ryouta melompat kegirangan sambil mengangkat kedua tangannya. Ia langsung berlari menghampiri kakaknya yang baru saja turun dari tangga.

"Kakak, terima kasih!! Aku sayang Kakak!"

"Iya, iya, paham. Katanya mau belanja, kan? Cepat siap-siap dulu," jawab Ayaka dengan nada yang terdengar acuh tak acuh, meski sudut bibirnya sedikit berkedut menahan senyum.

"Ootsuki-kun maaf ya, aku mau bersiap-siap sebentar. Bisa tunggu sebentar lagi?"

"Iya, tentu saja. Tidak masalah," jawab Haruto.

Ayaka kembali ke kamarnya sebentar untuk mengganti pakaian rumahnya dengan baju yang lebih pantas untuk pergi keluar. Sementara itu, Ryouta yang sudah selesai bersiap-siap sudah memakai sepatunya dan menunggu dengan tidak sabar di depan pintu.

"Kakak lama banget! Ayo cepat, cepat!"

"Iya, sabar sedikit napa, Ryouta."

Sang adik yang terus mendesak, dan sang kakak yang mencoba menenangkan. Haruto memperhatikan interaksi kakak-beradik itu dengan senyum kecil sambil ikut memakai sepatunya dan memegang gagang pintu depan.

"Kalau begitu, kami berangkat dulu."

"Berangkat dulu ya!" seru Ayaka.

"Berangkaaaat~!" teriak Ryouta dengan penuh semangat.

Tiga variasi ucapan "berangkat dulu" dilepaskan secara bersamaan. Ikue, yang mengantar sampai ke depan pintu, melambaikan tangan dengan senyum lebar.

"Iyaaa, hati-hati di jalan. Awas mobil, ya!"

Haruto dan yang lainnya melewati gerbang kediaman Toujou dan melangkah menuju supermarket. Ryouta tampak sangat tidak bisa diam sejak keluar rumah, saking senangnya karena diperbolehkan ikut belanja. Karena merasa berbahaya jika ada mobil yang tiba-tiba muncul, Haruto memanggil Ryouta.

"Ryouta-kun, mau pegangan tangan sampai supermarket?"

"Mau!!" Ryouta mengangguk patuh, lalu segera mendekat dan menggandeng tangan Haruto dengan riang.

"Maaf ya Ootsuki-kun, jadi harus meladeni sikap egois Ryouta begini," ucap Ayaka.

"Nggak apa-apa, saya sama sekali tidak keberatan, kok," jawab Haruto dengan senyum ramah.

Sepanjang jalan, Haruto sesekali mengangkat lengan dan membiarkan Ryouta bergelantungan di sana, mengajak bocah itu bermain sambil terus berjalan.

"Ootsuki-kun ternyata baik banget, ya."

"Eh? Begitukah?"

Haruto yang sekarang sedang menggendong Ryouta di pundaknya memberikan jawaban yang agak ragu atas pujian Ayaka.

"Iya, serius. Kamu telaten sekali menjaga Ryouta."

"Ah, mungkin karena saya anak tunggal, ya."

Ayaka menatap Ryouta yang sedang tertawa riang di atas pundak Haruto dengan tatapan lembut. Haruto pun membalas tatapan itu sambil tersenyum.

"Saat berinteraksi dengan Ryouta-kun, saya merasa seolah benar-benar punya adik laki-laki, dan itu membuat saya senang. Saya jadi membayangkan, mungkin begini rasanya kalau saya punya adik sendiri."

"Yah, kadang kalau sedang egois dia bisa jadi nggak lucu, sih."

"Bagi saya, hal seperti itu pun membuat iri. Kalau sendirian, kita bahkan nggak punya lawan untuk bertengkar."

"Bener juga, sih."

"Kakak sama Abang lagi ngomongin apa?" tanya Ryouta dari atas pundak Haruto, menunduk menatap mereka dengan wajah penasaran.

"Lagi ngomongin kalau Ryouta dan Ootsuki-kun itu sudah kayak saudara beneran. Nah, sudah mau sampai supermarket, ayo turun dulu dari pundak Ootsuki-kun."

"Siap!" Atas desakan kakaknya, Ryouta turun dengan patuh dari pundak Haruto. "Eh, Abang. Nanti gendong di pundak lagi, ya?"

"Iya. Nanti kalau kita belanja bareng lagi, bakal Kakak gendong lagi."

"Horeee!"

Melihat binar bahagia di wajah Ryouta, Haruto dan Ayaka pun tak bisa menahan senyum mereka. Tak lama kemudian, mereka tiba di supermarket dan mulai mengumpulkan bahan-bahan yang diperlukan untuk makan malam.

"Ngomong-ngomong Ootsuki-kun, apa menu makan malam untuk hari ini?" tanya Ayaka sambil memasukkan lengannya ke gagang keranjang belanja yang ada di dekat pintu masuk.

"Rencananya saya mau buat Pasta Krim Aroma Lemon, Potage Dingin, lalu salad Caprese."

"Hee... berarti kalau pasta krim, kita butuh susu dan krim segar, ya?"

"Benar. Lalu saya juga butuh bacon. Oh, kalau ada sayuran hijau yang sedang murah, saya mau masukkan juga supaya warnanya lebih cantik."

Sambil mengobrol, mereka melangkah menuju area sayuran. Ryouta yang mendengarkan percakapan mereka tiba-tiba berlari menuju rak asparagus.

"Abang! Yang ini satu ikat cuma sembilan puluh delapan yen! Murah nggak?!"

"Wah, ini beneran murah. Kerja bagus, Ryouta-kun!"

Asparagus yang dipegang Ryouta memiliki jumlah yang lumayan banyak dalam satu ikatan. Meskipun ukurannya agak kecil-kecil, hal itu justru menguntungkan karena asparagus yang tipis akan lebih mudah menyatu dengan mi pasta. Haruto menerima asparagus itu sambil mengelus kepala Ryouta dan mengucap "terima kasih", membuat bocah itu tampak sangat bangga.

"Toujou-san, biar saya saja yang bawa keranjangnya."

"Ah, iya. Makasih."

Haruto mengambil alih keranjang belanja dari tangan Ayaka, lalu memasukkan asparagus tadi ke dalamnya. Ayaka sempat terdiam sejenak, memperhatikan gerakan Haruto yang sangat natural itu.

"Hm? Ada apa?" tanya Haruto.

"......Ootsuki-kun, apa kamu punya pacar?"

"Eh? Enggak, saya nggak punya...? Kenapa tiba-tiba?" Haruto memiringkan kepala dengan bingung, sama sekali tidak bisa menangkap maksud dari pertanyaan mendadak itu.

"Nggak apa-apa... Cuma tadi cara kamu membawakan barang itu terasa sangat natural, jadi aku pikir kamu sudah terbiasa melakukan hal seperti itu."

"Saya kan sekarang sedang bertugas. Sebagai penyedia jasa, tidak mungkin saya membiarkan pelanggan seperti Toujou-san membawa barang bawaan sendiri."

"Begitu ya... pelanggan... ya..."

"Iya, benar. Ah, labu parang ini juga sedang murah. Untuk potage dinginnya, kita pakai labu ini saja, ya?"

Haruto segera berpindah ke area labu. Sambil memilah-milah labu mana yang terbaik, ia bertanya pada Ryouta yang berdiri di sampingnya, "Ryouta-kun suka labu?"

Ayaka menatap punggung Haruto dalam diam. Haruto yang sedang mengobrol lembut dengan Ryouta, sesekali menunjukkan senyum yang tulus. Entah mengapa, pandangan Ayaka seolah tersedot ke arah pemuda itu.

Tiba-tiba, Haruto melemparkan pertanyaan padanya.

"Boleh saya beli satu buah utuh? Kalau bijinya dibuang lalu dibekukan, labu ini bisa tahan lama, lho."

"......Eh? Ah, iya. Boleh kok."

Ayaka sempat terdiam sejenak dengan wajah bengong karena tidak langsung menangkap ucapan Haruto, namun ia segera tersadar dan memberikan anggukan.

"Baiklah. Selanjutnya, tomat. Ryouta-kun, ayo kita cari tomat."

"Ayo! Tomat!"

Setelah memasukkan labu ke dalam keranjang, Haruto menggandeng tangan Ryouta menuju area tomat. Ayaka menyusul di belakang mereka dengan langkah yang sedikit terburu-buru, seolah baru saja tersentak dari lamunannya.

Sepanjang mereka berkeliling mengumpulkan bahan makanan, Haruto kembali menyadari betapa nyatanya gelar "Idola Sekolah" yang disandang Ayaka Toujou.

Sebab, setiap kali mereka berpapasan dengan pengunjung lain, Haruto bisa merasakan tatapan yang sangat intens tertuju pada mereka. Orang-orang itu terus melirik ke arah Ayaka, sehingga sebenarnya Haruto tidak terkena tatapan itu secara langsung. Namun tetap saja, berada di dekat pusat perhatian seperti itu membuat Haruto merasa cukup risih. Ia membayangkan, Ayaka yang menjadi sasaran langsung pasti merasa jauh lebih tertekan.

Karena khawatir, Haruto mencoba mencuri pandang ke arah Ayaka. Ternyata, gadis itu tampak tenang-tenang saja, seolah sudah sangat terbiasa dengan perhatian semacam itu.

Setelah selesai membeli sayuran, bacon, keju, hingga susu, mereka pun keluar dari supermarket. Haruto mengembuskan napas panjang, merasa lega.

Sepertinya ia cukup kelelahan secara mental menghadapi tatapan-tatapan tadi. Meskipun sebagian besar tatapan itu tertuju pada Ayaka, ada beberapa orang yang melirik Haruto dengan mata penuh rasa iri dan dengki.

"Toujou-san, ternyata repot juga ya kalau harus pergi ke tempat ramai," ucap Haruto yang tanpa sadar merasa simpati pada Ayaka.

"Eh? Ah, iya. Begitulah. Belakangan ini aku sudah mulai terbiasa, tapi tetap saja rasanya tidak terlalu nyaman."

Meski awalnya sempat bingung, Ayaka segera memahami maksud Haruto dan menjawab dengan senyum kecut.

"Kadang-kadang... bagaimana ya mengatakannya... ada saat-saat di mana aku merasakan tatapan yang terasa 'lengket' dan menjijikkan. Kalau sudah begitu, rasanya cukup menakutkan."

"Begitu ya. Ternyata repot juga kalau kelewat cantik."

"Ke-lewat... apa...!?"

Mendengar gumaman Haruto yang terdengar sangat jujur itu, Ayaka tiba-tiba menghentikan langkahnya.

"Hm? Ada apa?" tanya Haruto bingung melihat Ayaka yang mendadak mematung.

"E-eh, nggak! Nggak ada apa-apa kok!"

Ayaka memaksakan sebuah senyum canggung, lalu mulai berjalan kembali dengan langkah yang sangat cepat. Ryouta menengadah menatap wajah kakaknya dan melontarkan pertanyaan dengan polos.

"Kakak? Wajah Kakak merah, lho."

"---?! I-itu karena panas! Sudah, ayo cepat pulang!"

Ayaka segera memalingkan wajahnya agar tidak dilihat oleh adiknya, lalu mempercepat langkah kakinya seolah sedang dikejar sesuatu, memimpin jalan pulang dengan terburu-buru.

Haruto dan yang lainnya tiba kembali di rumah setelah selesai berbelanja.

Dengan kantong belanja di tangan, Haruto melangkah masuk ke ruang makan. Namun, langkahnya terhenti saat melihat seorang pria asing yang duduk di meja makan.

"Selamat datang kembali. Kamu Ootsuki-kun dari layanan pengurus rumah tangga, ya?"

"Ah, iya. Anu..."

Haruto menunjukkan reaksi bingung karena bertemu dengan pria yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Namun, Ryouta segera berlari melewati Haruto dan menghambur ke arah pria tersebut.

"Papa, selamat datang di rumah!"

"Papa pulang, Ryouta! Apa belanja tadi menyenangkan?"

Pria itu menggendong Ryouta sambil bertanya dengan senyum lebar. Sepertinya, pria yang baru saja mengangkat Ryouta itu adalah ayahnya. Haruto segera memperbaiki posturnya dan membungkuk dengan sangat sopan.

"Perkenalkan, nama saya Ootsuki dari layanan pengurus rumah tangga."

"Ah, salam kenal. Saya ayah dari Ryouta dan Ayaka."

Sambil tetap menggendong Ryouta, Ayah Toujou menganggukkan kepalanya sedikit.

"Papa pulang cepat hari ini, ya," sahut Ayaka yang baru saja masuk ke ruang makan mengikuti Haruto dan Ryouta.

"Iya. Karena hari ini jadwal Ootsuki-kun datang membantu, Papa sengaja menyelesaikan pekerjaan lebih awal agar bisa cepat pulang."

Ayah Toujou mengatakan itu sambil melemparkan tatapan penuh harap ke arah Haruto.

"Sepertinya kali ini kamu akan membuat pasta krim, ya? Karena hamburg kemarin sangat luar biasa, aku sangat menantikan masakanmu kali ini."

"Terima kasih banyak. Saya akan berusaha sebaik mungkin agar tidak mengecewakan Anda."

Setelah berkata demikian, Haruto segera menuju dapur dan mulai mempersiapkan makan malam. Pertama-tama, ia memotong kecil-kecil labu untuk potage, lalu memasukkannya ke dalam microwave. Sambil menunggu, ia melumuri asparagus untuk pasta dengan garam. Setelah persiapan asparagus selesai, ia lanjut mengiris tomat untuk caprese dan memasukkannya ke dalam kulkas agar dingin.

Gerakan Haruto di dapur tampak sangat lugas, tanpa keraguan, dan menunjukkan betapa ia sudah sangat terbiasa memasak. Melihat hal itu, Ikue berkomentar dengan nada kagum.

"Wah, terampil sekali! Cowok yang jago masak itu memang keren, ya!"

Mendengar Ikue memuji gaya memasak Haruto, Ayah Toujou yang ada di sampingnya pun ikut mengangguk setuju.

"Melihat Ootsuki-kun memasak itu seperti melihat koki profesional yang sudah veteran. Tanpa sadar aku jadi terus memperhatikan."

"Terima kasih banyak. Saya sangat senang mendengarnya. Saya akan berusaha agar rasanya pun memuaskan," jawab Haruto.

Haruto membungkuk sedikit ke arah pasangan suami-istri itu dengan senyum yang agak tersipu, sembari dengan cepat menghaluskan labu yang baru saja dipanaskan di microwave.

"Hmm, aku tidak menyangka ada anak sehebat ini di kelas Ayaka."

Sepertinya Ayah Toujou benar-benar terkesan dengan pembawaan Haruto yang sopan serta kemampuannya sebagai pengurus rumah tangga. Ia kemudian bertanya pada putrinya yang duduk di seberang meja makan.

"Ayaka, apa kamu cukup akrab dengan Ootsuki-kun?"

"Eh? Anu, nggak... nggak sampai seakrab itu, sih..."

Mendengar jawaban putrinya, Ayah Toujou memasang wajah serius sambil memandang Haruto dan Ayaka secara bergantian.

"Beneran, Pa! Sampai Ootsuki-kun datang ke rumah untuk bekerja, aku hampir tidak pernah mengobrol dengannya sama sekali," jelas Ayaka sambil melirik ke arah Haruto.

Merasakan tatapan sang ayah, Haruto pun memberikan jawaban yang serupa. "Benar. Di sekolah, saya dan Toujou-san memang jarang memiliki kesempatan untuk bicara."

"Begitu ya. Tapi, Ootsuki-kun terlihat sangat jujur dan tulus. Aku akan sangat senang jika mulai sekarang kalian bisa berteman baik."

"Ih, Papa ngomong apa, sih!"

Ayaka tampak panik mendengar pernyataan ayahnya. Ia melirik Haruto dengan tatapan merasa bersalah. "Maaf ya, Ootsuki-kun. Papa malah bicara yang aneh-aneh."

"Tidak apa-apa, saya tidak merasa terganggu. Lagipula, dipanggil kembali ke rumah Toujou-san ini juga sudah merupakan sebuah takdir. Seperti yang Ayahanda katakan, ke depannya saya juga berharap kita bisa berteman sebagai teman sekelas."

"Eh? Ah, iya! Be-benar juga, ya."

Ayaka tampak sedikit terkejut mendengar kata-kata Haruto, namun ia kemudian tersenyum manis seolah tidak keberatan sama sekali dengan ide itu. Melihat suasana di antara keduanya, Ayah Toujou berdehem kecil.

"Ootsuki-kun, aku senang kalau kamu mau berteman dengan putriku... tapi aku tidak punya alasan untuk dipanggil 'Ayahanda' olehmu!" serunya, seolah baru saja melontarkan sebuah kalimat penolakan yang dramatis.

"Ah, i-itu! Maaf! Maafkan kelancangan saya!"

Haruto yang panik langsung menundukkan kepalanya dalam-dalam untuk meminta maaf.

"Ahahaha! Tidak apa-apa, itu cuma bercanda, Ootsuki-kun!"

Ayah Toujou justru tertawa terbahak-bahak melihat reaksi Haruto. "Aduh, ini adalah kalimat yang sangat ingin kucoba katakan sekali saja seumur hidupku."

"Haa, kaget saya," ucap Haruto sambil mengembuskan napas lega setelah tahu itu cuma bercanda.

"Papa payah..." gumam Ayaka sambil melirik ayahnya dengan tatapan tajam yang penuh rasa kesal.

Haruto melanjutkan persiapannya meski sambil tersenyum kecut menanggapi candaan Ayah Toujou. Tiba-tiba, Ryouta yang tadinya asyik bermain dengan ibunya, berlari menghampiri Haruto.

"Eh, Kakak," panggil Ryouta.

"Ada apa, Ryouta-kun?"

"Kakak nggak makan bareng sama kita?"

Haruto sempat bingung menjawab pertanyaan polos Ryouta itu. Jam kerjanya adalah pukul 15.00 sampai 18.00. Jika ia ikut makan malam bersama keluarga Toujou, itu berarti ia akan berada di sana melebihi waktu kontraknya.

Bagi Haruto sendiri sebenarnya tidak masalah, tapi ia khawatir keluarga Toujou akan merasa terganggu jika ada orang luar yang masih berada di rumah mereka setelah jam kerja selesai. Saat Haruto hendak menjelaskan hal itu pada Ryouta, Ayah Toujou tiba-tiba menyela.

"Ide bagus! Bagaimana, Ootsuki-kun? Kalau tidak keberatan, bagaimana kalau kamu ikut makan malam bersama kami?"

Haruto tampak bimbang melihat Ayah Toujou yang sangat antusias itu.

"Bagi saya tidak masalah, tapi saat ini saya sedang dalam jam kerja..."

Melihat keraguan Haruto, Ikue ikut menimpali dengan senyum ramah.

"Aduh, jangan begitu Ootsuki-kun. Kan tadi sudah kubilang? Kamu itu teman sekelasnya Ayaka, jadi bersikaplah lebih santai."

"Tapi, apakah... Toujou-san tidak akan merasa canggung?"

"Sama sekali tidak!" seru sang Ayah. "Aku tidak apa-apa, kok," sahut Ayaka.

Ayah dan anak itu menjawab secara bersamaan. Wajar saja, karena mereka berdua bermarga "Toujou". Setelah suara mereka tumpang tindih, sang ayah tertawa kecil sambil menatap putrinya.

"Ootsuki-kun, kalau kamu memanggil 'Toujou-san', kami jadi bingung siapa yang kamu maksud. Karena di sini semuanya adalah keluarga Toujou," ucap sang ayah dengan nada jahil. "Ngomong-ngomong, namaku Shuichi. Karena kalau dipanggil Toujou-san jadi ribet, aku akan senang kalau mulai sekarang kamu panggil nama saja."

Meskipun sempat ragu, Haruto akhirnya menuruti permintaan itu.

"Baiklah... kalau begitu, Shuichi-san."

Shuichi mengangguk puas.

"Lalu... Shuichi-san, apakah benar tidak apa-apa jika saya ikut makan malam bersama?"

"Tentu saja."

Melihat jawaban instan Shuichi, Haruto hanya bisa tersenyum pasrah.

"Toujou-sa—ah... Ayaka-san, apakah Anda juga tidak keberatan?"

Haruto hampir saja memanggil 'Toujou-san', namun saat melihat alis Shuichi berkedut jahil, ia langsung meralatnya dan memanggil nama depan Ayaka.

"U-um. Aku juga tidak apa-apa."

Mungkin karena tidak terbiasa dipanggil nama depannya oleh laki-laki, pipi Ayaka tampak sedikit merona. Memang benar, di sekolah, Ayaka selalu dikelilingi teman perempuan, dan Haruto hampir tidak pernah melihatnya mengobrol dengan siswa laki-laki kecuali untuk urusan formal. Di sekolah mereka, sepertinya tidak ada satu pun siswa laki-laki yang berani memanggil Ayaka dengan nama depannya.

Dan sekarang, Haruto justru berakhir memanggilnya dengan nama depan dalam situasi yang seolah-olah sudah "direstui" oleh orang tuanya. Ada perasaan campur aduk di hati Haruto—antara senang, malu, dan canggung. Sementara itu, Ryouta menatapnya dengan senyum kegembiraan yang tulus.

"Berarti hari ini Kakak makan bareng kita?" tanya Ryouta yang sudah bisa menangkap arah pembicaraan mereka. Ia menarik-narik ujung lengan baju Haruto dengan wajah berseri-seri.

Melihat binar bahagia di wajah Ryouta, Haruto pun menyerah. Ia berjongkok dan mengelus kepala bocah itu.

"Iya. Hari ini Kakak makan malam bareng Ryouta-kun, ya."

"Horeeee!"

"Kalau begitu, tunggu sebentar lagi sampai masakannya matang, ya."

"Siap!"

Ryouta mengangguk mantap mendengar ucapan Haruto, lalu berlari kembali ke arah ibunya di ruang tengah. Melihat senyum bocah itu, Haruto merasa tenang. Ia kini memfokuskan seluruh perhatiannya untuk menyajikan makan malam terbaik bagi keluarga Toujou.

Menu hari ini adalah Pasta Krim Aroma Lemon, Potage Labu Dingin, dan Salad Caprese. Hidangan yang sangat pas untuk disantap dengan segar di tengah panasnya malam musim panas.

Haruto menyaring labu yang telah dihaluskan hingga teksturnya menjadi lembut, lalu mencampurnya dengan susu dan krim segar. Setelah diaduk rata, ia memasukkannya kembali ke dalam kulkas untuk didinginkan. Selanjutnya, ia memasukkan pasta ke dalam panci berisi air mendidih, sementara di wajan lain, ia mulai menumis potongan bacon dan asparagus dengan minyak zaitun.

Aroma gurih bacon dan wangi elegan dari minyak zaitun mulai menyeruak dari dapur, membuat ekspresi wajah Shuichi melunak.

"Ootsuki-kun, kamu belajar memasak dari siapa?" tanya Shuichi.

"Saya belajar dari nenek saya. Tidak hanya memasak, tapi semua urusan rumah tangga seperti bersih-bersih dan mencuci adalah hasil ajaran beliau," jawab Haruto.

"Oho, sepertinya nenekmu adalah sosok yang luar biasa, ya."

"Terima kasih banyak."

Haruto membungkuk sedikit ke arah Shuichi. Bagi Haruto, neneknya adalah sosok guru dalam segala urusan rumah tangga. Mendengar gurunya dipuji, secara alami Haruto merasa bangga dan sudut bibirnya sedikit terangkat.

Beberapa saat kemudian, semua masakan telah matang. Haruto menata lima porsi makan malam di atas meja makan.

"Wah! Rasanya seperti sedang berada di restoran Italia!" seru Ikue dengan wajah berseri-seri melihat hidangan yang tertata rapi.

"Ootsuki-kun, terima kasih. Nah, ayo kita makan bersama."

Atas ajakan Shuichi, seluruh anggota keluarga Toujou mengambil posisi duduk masing-masing. Haruto pun ikut bergabung dengan sedikit rasa sungkan.

"Kalau begitu, selamat makan."

Shuichi merapatkan kedua tangannya, diikuti oleh yang lainnya yang mengucapkan "Itadakimasu".

Sejurus kemudian, Ryouta langsung menyambar garpunya dengan kecepatan luar biasa. Ia melilit pasta krimnya dan mulai melahapnya.

"Enak banget! Kakak! Ini beneran enak banget!!"

"Aduh, Ryouta. Makan yang pelan, nanti tersedak, lho," tegur Ikue.

Namun, teguran ibunya seolah masuk telinga kanan keluar telinga kiri karena Ryouta sudah terlalu asyik dengan pastanya. Ia melahap pasta krim itu dengan kecepatan seolah sedang menenggak minuman. Dalam sekejap, isi piringnya sudah hampir habis.

Melihat piring Ryouta yang nyaris bersih dalam waktu kurang dari tiga menit, Haruto tersenyum puas sebagai si juru masak.

"Ryouta-kun, Kakak sudah siapkan porsi tambahan, jadi tidak apa-apa makan pelan-pelan, kok."

"Beneran? Aku mau tambah!" Mata Ryouta berbinar-binar mendengar kata "tambah".

Melihat adiknya, Ayaka memberikan teguran. "Nggak boleh, Ryouta. Kalau mau tambah, habiskan dulu semuanya sampai bersih."

"Ah, iya!"

Atas perintah kakaknya, Ryouta berusaha keras menyendok sisa-sisa pasta di piringnya dengan garpu. Saat Haruto sedang memperhatikan interaksi mereka dengan senyum kecil, sebuah suara memanggilnya dengan sedikit ragu dari samping.

"Ootsuki-kun, anu... apa porsi tambahannya masih cukup banyak?"

Haruto menoleh ke arah sumber suara, yaitu Shuichi. Di depannya, terlihat sebuah piring yang sudah kosong melompong. Ternyata sang ayah justru sudah selesai makan lebih dulu daripada anaknya.

"Iya, tentu saja masih ada."

"Baguslah! Kalau begitu, aku minta tambah satu porsi lagi."

"Ah! Papa curang! Aku juga mau tambah!"

Ryouta yang sudah berhasil membersihkan piringnya sesuai perintah kakaknya, segera menyodorkan piringnya ke arah Haruto agar tidak kalah dari ayahnya.

Melihat tingkah bapak dan anak itu, Haruto hanya bisa tersenyum kecut sambil menerima piring mereka dan melangkah ke dapur. Ia bersyukur telah memasak dalam porsi besar karena sudah menduga Ryouta pasti akan makan banyak. Haruto pun mulai menyendokkan porsi tambahan ke piring mereka berdua.

Saat Haruto membawakan porsi tambahan untuk Ryouta dan Shuichi, wajah keduanya seketika berbinar-binar. Ia kagum melihat reaksi mereka yang benar-benar identik—memang buah jatuh tidak jauh dari pohonnya. Di mata Haruto, mereka berdua jadi terlihat seperti sepasang anjing; Shuichi seperti Golden Retriever, sedangkan Ryouta seperti Mameshiba. Haruto harus menggigit bibirnya sekuat tenaga demi menahan tawa saat membayangkan mereka berdua sedang mengibas-ngibaskan ekor dengan semangat di depan hidangan lezat.

"Ufufu, kalian berdua ini... makannya sampai lahap begitu, memalukan saja," ucap Ikue sambil tersenyum geli melihat reaksi para pria di keluarganya.

"Rasa makanan ini benar-benar sekelas restoran mewah. Ibu juga berpikir begitu, kan?" tanya Shuichi.

"Iya. Potage ini teksturnya sangat lembut, bumbunya juga pas dan sangat enak."

"Terima kasih banyak. Saya senang jika hidangannya sesuai dengan selera Anda," jawab Haruto sambil membungkuk sopan.

Ikue kemudian menatap Haruto dengan penuh minat. "Ngomong-ngomong, Ootsuki-kun, apa masakan andalanmu?"

Mendengar pertanyaan Ikue, Shuichi dan Ayaka juga ikut memandang Haruto dengan rasa ingin tahu. Hanya Ryouta yang tidak bereaksi; ia sudah tenggelam sepenuhnya dalam dunianya sendiri bersama pasta di depannya.

"Hm, mari kita lihat... hamburg yang kemarin juga termasuk masakan yang saya kuasai, tapi..."

Haruto sebenarnya bisa memasak masakan Jepang, Barat, hingga Mandarin. Namun, karena neneknya—sang guru—adalah pakar masakan Jepang (Washoku), secara otomatis masakan andalan Haruto pun kebanyakan adalah menu tradisional Jepang.

"Saya rasa saya cukup ahli membuat masakan Jepang seperti Niku-jaga (semur daging dan kentang) atau Chikuzen-ni (tumisan ayam dan sayur akar)," jawab Haruto. Keduanya adalah masakan yang sering dibuatkan oleh neneknya sejak ia kecil, hidangan yang sangat akrab di lidahnya.

"Aku... jadi ingin mencoba Niku-jaga buatan Ootsuki-kun..." gumam Ayaka pelan.

"Wah, wah, Ayaka. Apa perutmu sudah berhasil ditaklukkan oleh Ootsuki-kun?" goda Ikue.

"Ih, Mama! Jangan bicara yang aneh-aneh!"

"Ufufu, maaf ya."

Ayaka memanyunkan bibirnya menanggapi godaan ibunya yang terus-menerus.

"Tapi jujur saja, aku ingin mencoba berbagai macam masakan Ootsuki-kun lagi ke depannya," sahut Shuichi yang kemudian disetujui oleh Ikue.

"Iya, aku juga setuju denganmu."

"Karena itulah, Ootsuki-kun..."

Shuichi memperbaiki posisi duduknya dan menatap Haruto dengan serius. Ia mengambil selembar kertas dari rak di belakang meja makan, lalu meletakkannya di atas meja agar Haruto bisa melihatnya.

"Ini... brosur Kontrak Rutin..."

"Benar. Kami sangat puas dengan hasil kerjamu. Jadi mulai sekarang, kami ingin menjalin Kontrak Rutin untuk layanan rumah tangga di keluarga ini, dengan menunjuk Ootsuki-kun secara langsung sebagai petugasnya."

Mata Haruto membelalak terkejut. "Anu... e-eh, terima kasih banyak. Saya sangat senang mendengarnya."

"Tidak, tidak! Kamilah yang seharusnya berterima kasih," ucap Shuichi.

"Iya. Mohon bantuannya ya untuk ke depannya," tambah Ikue sambil tersenyum ramah.

Haruto mencuri pandang ke arah Ayaka untuk melihat reaksinya. Gadis itu menundukkan kepalanya sedikit sambil menatap Haruto.

"Mohon bantuannya ya, Ootsuki-kun."

"I-iya, mohon bantuannya juga."

Haruto membungkuk dengan sedikit canggung. Ia sama sekali tidak menyangka akan mendapatkan Kontrak Rutin dengan penunjukan langsung (nominasi) hanya dari pekerjaan paruh waktu singkatnya ini.

Awalnya ia memulai pekerjaan ini dengan santai hanya untuk menambah tabungan biaya kuliah, tapi siapa sangka ia justru disukai oleh keluarga sang Idola Sekolah dan akan terus datang ke rumah ini selama liburan musim panas.

Kejadian ini benar-benar di luar perkiraan Haruto. Karena merasa terlalu bingung untuk berpikir lebih jauh, ia akhirnya memilih untuk berhenti berpikir sejenak dan fokus mengelap mulut Ryouta yang sudah belepotan sisa kuah potage hingga membentuk "kumis" putih di atas bibirnya.

👍 0
0
🤔 0