Kaji Daikou no Arubaito wo Hajimetara Gakuen Ichi no Bishoujo no Kazoku ni Kiniirarechaimashita
Volume 1 - Chapter 2

Bab 2 : Pelanggan Pertama

Bab 2 : Pelanggan Pertama

Hari ketiga liburan musim panas. Haruto berdiri di depan sebuah rumah mewah.

"Uwaah... kerjaan pertama langsung dapet pelanggan seleb..."

Haruto menggerutu dengan wajah lelah (gennari). Hari ini adalah hari kerja pertamanya di layanan pengurus rumah tangga. Dia memeriksa penampilannya sekali lagi, memastikan tidak ada masalah, lalu dengan ujung jari yang sedikit gemetar karena gugup, dia menekan tombol interkom.

Ting-tong.

...Ya.

"Ah, saya dari Layanan Pengurus Rumah Tangga."

Suara wanita yang terdengar dari interkom ternyata jauh lebih muda dari dugaan. Haruto mengencangkan ekspresinya, berusaha menjaga nada bicara agar tetap sopan dan hati-hati supaya suaranya tidak pecah karena gugup.

Ya, sebentar saya bukakan pintunya. Tolong tunggu sebentar.

Setelah pemilik suara di interkom berkata demikian, samar-samar terdengar pergerakan orang dari balik pintu. Haruto mengembuskan napas kecil, berusaha menenangkan detak jantungnya yang semakin cepat karena tegang.

Tak lama kemudian, pintu depan terbuka ceklek, dan klien layanan pengurus rumah tangga itu pun muncul.

"Terima kasih banyak telah menggunakan Layanan Pengurus Rumah Tangga kami. Saya Ootsuki yang bertugas melayani Anda hari iniii... eh."

Sambil mengangkat kepala dengan sopan, Haruto mengucapkan salam sesuai panduan manual. Namun saat dia mengangkat kepala dan melihat siapa yang ada di depannya, dia kehilangan kata-kata sejenak, menyebabkan jeda aneh di akhir salamnya.

"Eh? ...Toujou-san?"

Klien pertamanya, tak disangka-sangka, adalah Toujou Ayaka, sang idola sekolah tempat Haruto belajar. Fakta itu begitu mengejutkan hingga Haruto tanpa sadar menyebut namanya.

Mendengar itu, Toujou juga menatap wajah Haruto dengan ekspresi terkejut. Dia menatap Haruto dengan tatapan menyelidik sejenak, lalu bertanya untuk memastikan.

"Jangan-jangan... kamu Ootsuki-kun... yang sekelas denganku?"

"Eeto... iya, benar."

"Eh? ...Kenapa?"

Begitu pertanyaan itu terucap, tatapan Toujou pada Haruto berubah menjadi waspada. Mungkin Toujou curiga kalau Haruto sengaja melakukan pekerjaan pengurus rumah tangga ini hanya untuk mendekatinya. Jika ini gadis lain, mungkin Haruto akan berpikir "Apaan sih ni cewek, GR banget".

Tapi, yang ada di depannya ini adalah idola sekolah. Bagi gadis yang sampai pernah dipanggil lewat siaran sekolah untuk dilamar di depan umum, wajar saja kalau dia memiliki kewaspadaan setinggi itu.

"Aah... kalau Anda keberatan dengan saya, saya bisa minta ganti petugas lain, kok."

Haruto yang menyadari kewaspadaan Toujou langsung menawarkan solusi.

"Tapi kalau diganti, mungkin butuh waktu sedikit lama, jadi waktu layanannya mungkin akan jadi lebih pendek dari yang Anda minta di awal."

Isi permintaan Toujou adalah paket tiga jam, meliputi pembersihan area dapur dan persiapan makan malam.

"Kukira yang datang bakal perempuan..."

"Ahaha, maaf ya..."

Mendengar gumaman lirih gadis itu, Haruto tersenyum kecut dan meminta maaf dalam hati. Layanan pengurus rumah tangga tempat Haruto bernaung memang didominasi oleh perempuan. Namun, meski minoritas, ada juga beberapa staf laki-laki yang terdaftar. Sebenarnya, di situs web layanan tersebut, daftar staf beserta foto wajah mereka sudah terpampang, dan saat memesan pun pelanggan bisa mengajukan permintaan khusus seperti "ingin staf wanita". Tapi, sepertinya Toujou melewatkan detail tersebut.

"Jadi, apakah Anda ingin mengganti petugas?"

Saat Haruto bertanya sekali lagi, Toujou menunduk sedikit seolah sedang berpikir keras, lalu menggelengkan kepalanya pelan.

"Enggak usah, begini saja. Tolong kerjakan tugasnya, ya."

"Eh? Tidak diganti... Anda yakin tidak apa-apa?"

Haruto yang sudah yakin kalau dirinya bakal diganti, merasa sedikit bingung dengan jawaban yang tak terduga itu.

"Ootsuki-kun... nggak ada niat macam-macam sama aku... 'kan?"

"Tentu saja tidak."

"Kalau begitu nggak masalah. Masuklah."

Berkata begitu, Toujou membuka pintu depan sedikit lebih lebar, mempersilakan Haruto masuk ke dalam rumah.

"Eeto... kalau begitu, mohon bantuannya."

Haruto melangkah masuk ke genkan (pintu masuk) kediaman Toujou sambil merasa canggung dengan perkembangan situasi yang tak terduga ini.

"...Permisi."

Sambil membungkuk ringan, Haruto mengenakan sandal tamu yang dia bawa sendiri.

"Dapurnya sebelah sini. Ikut aku."

Sambil berkata begitu, Toujou berjalan cepat menyusuri lorong. Haruto mengikutinya dari belakang sambil menatap sekeliling lorong dengan kagum. Panjang bener lorongnya! Luas lagi! Sasuga rumah mewah.

Sambil memikirkan hal itu, mereka sampai di ujung lorong. Toujou membuka pintu di sana dan masuk ke dalam.

"Eeto, ini ruang tengah (living room). Terus, dapurnya ada di sebelah dalam sana."

Haruto melongo (pokan) saking takjubnya melihat interior rumah mewah yang baru pertama kali dilihatnya seumur hidup. Ruangan itu luasnya mungkin dua, tidak, tiga kali lipat dari ruang tamu rumahnya sendiri. Perabotan yang kelihatan mahal tertata dengan selera tinggi, dan sebuah TV layar lebar tergantung di dinding. Lalu di bagian dalam, terdapat ruang makan dan Island Kitchen (dapur dengan meja tengah) yang dilengkapi jajaran peralatan masak elektronik terbaru di raknya.

"Hebat..."

Ruang tamu dan ruang makan yang semewah dan sekeren ini biasanya cuma dia lihat di acara reality show percintaan.

"...Ootsuki-kun?"

Melihat Haruto yang berdiri bengong, Toujou memasang wajah heran. Haruto buru-buru memperbaiki sikapnya dan mengonfirmasi isi permintaan kerja kali ini kepada Toujou.

"Terima kasih banyak telah menggunakan layanan pengurus rumah tangga kami. Sekali lagi, perkenalkan saya Ootsuki yang akan bertugas hari ini. Mohon kerjasamanya."

Sambil mengucapkan kalimat sesuai buku manual, Haruto membungkuk dan menyodorkan kartu namanya kepada Toujou.

"Wah, punya kartu nama segala, ya."

Sambil menerima kartu nama dari Haruto, Toujou memandangi kartu itu dengan tatapan kagum.

"Permintaan yang kami terima dari Toujou-sama kali ini adalah paket tiga jam, apakah benar?"

"Eh? Ah, iya. Nggak salah kok... tapi rasanya aneh deh dipanggil 'Sama' (Nona/Anda) sama teman sekelas sendiri."

"Biarpun teman sekelas, Toujou-sama saat ini adalah pelanggan saya yang berharga."

Haruto menjawab dengan tegas. Gadis yang ada di depannya saat ini, sebelum menjadi teman sekelas atau idola sekolah, adalah seorang Pelanggan (Customer). Haruto menerima uang sebagai imbalan atas layanan yang dia berikan, jadi dia harus memisahkan urusan pribadi dan profesional dengan tegas (Kejime).

Lagipula, sikap seperti ini pasti lebih membuat Toujou nyaman. Bagi Toujou yang sudah kenyang didekati cowok-cowok sekolah, daripada harus terus waspada apakah Haruto bakal memanfaatkan momen kerja ini untuk PDKT, dia pasti lebih tenang kalau diperlakukan murni sebagai pelanggan secara tegas.

Haruto melanjutkan pembicaraan dengan mempertahankan nada bicara bisnisnya.

"Kalau begitu, saya akan memulai layanannya. Apakah ada permintaan khusus sebelumnya?"

"Umm, bukan permintaan khusus sih, tapi, anu... boleh minta tolong lihat dapurnya sebentar?"

Dengan sikap sedikit malu-malu, Toujou membawa Haruto ke depan dapur.

"Ini... bukan aku yang melakukan, tapi adik laki-lakiku. Apa tidak apa-apa menyerahkan pembersihan dalam kondisi seperti ini?"

Di ujung pandangan Toujou yang berbicara dengan nada ragu, terlihat area dapur yang berantakan dengan indahnya. Sepertinya adiknya mencoba membuat pancake. Tepung putih berhamburan di bak cuci piring dan lantai sekitarnya, sementara adonan pancake terciprat di sekitar kompor dan sudah mengering jadi kerak. Puncaknya adalah di wajan, di mana sisa-sisa pancake yang sudah separuh menjadi arang bertengger dengan gagahnya.

Selain itu, mangkuk dan piring berserakan di dalam bak cuci, dan cangkang telur tersangkut di jaring saluran pembuangan. Haruto memindai situasi dapur yang kacau balau (chaos) itu sekilas, lalu segera memasang senyum bisnis (sales smile).

"Tidak masalah. Saya akan membersihkan semuanya sampai kinclong."

"Benarkah? Wah, terima kasih, sangat membantu."

Toujou memasang ekspresi lega.

"Kalau begitu, aku akan membersihkan ruang tengah (living room). Kalau ada apa-apa panggil saja, ya."

Kepada Toujou yang hendak beranjak dari dapur, Haruto berkata sambil tetap mempertahankan senyum bisnisnya.

"Kalau Anda berkenan, bagaimana jika saya bersihkan ruang tengahnya sekalian?"

"Eh? Rasanya nggak enak kalau minta tolong sampai segitu..."

"Tidak apa-apa, itu memang pekerjaan saya, jadi jangan dipikirkan."

"Begitu, ya... kalau gitu boleh deh minta tolong bersihkan ruang tengah juga?"

"Siap, dilaksanakan."

Meski agak ragu, akhirnya Toujou menyerahkan urusan kebersihan dapur dan ruang tengah kepada Haruto.

"Ah, vacuum cleaner-nya ada di dalam lemari penyimpanan itu, ya."

Toujou menunjuk pintu ramping di sebelah pintu masuk ruang tengah. Rumah mewah sepertinya memang punya banyak ruang penyimpanan.

"Yaudah, aku mau di kamar dulu. Kalau ada apa-apa ketuk saja pintunya. Kamarku ada di lantai atas, pintu sebelah kiri tepat setelah naik tangga."

Setelah meninggalkan pesan itu, Toujou menundukkan kepala sedikit sambil berkata "Tolong ya," lalu buru-buru keluar dari ruang tengah.

Begitu sosok gadis itu menghilang dari ruang tengah dan suara langkah kakinya menaiki tangga terdengar, Haruto mengembuskan napas panjang seolah baru saja muncul ke permukaan air.

"Daaah~... tegang banget..."

Haruto menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan pernapasannya.

Kenapa Toujou-san pesan layanan pengurus rumah tangga? Terus, Toujou-san ternyata putri orang kaya? Baru denger deh. Lagian, ini pertama kalinya gue lihat dia dari jarak sedekat ini... gila, cantik banget.

Begitu terbebas dari ketegangan, berbagai pertanyaan dan pikiran membanjiri kepala Haruto silih berganti.

Selama ini, Haruto tidak pernah menunjukkan ketertarikan pada siswi bernama Toujou Ayaka. Bukan berarti dia tidak tertarik pada perempuan. Dia masih siswa SMA laki-laki yang sehat, yang secara tidak sadar akan memperlambat kecepatan membalik halaman jika ada fitur gravure di majalah manga.

Lalu kenapa Haruto tidak pernah tertarik pada sang idola sekolah? Mungkin sebagian alasannya adalah karena sifat Haruto yang sedikit lebih realistis/dewasa (takkan) dibanding siswa laki-laki lainnya. Namun, alasan terbesarnya adalah karena dia memiliki tujuan yang jelas yang ingin dia capai. Demi mewujudkan tujuan itu, dia tidak punya waktu untuk terbuai oleh wanita yang bagaikan "Bunga di Puncak Tinggi" (Takane no Hana) dan membuang-buang waktunya dengan sia-sia.

"Nggak nyangka Toujou-san ternyata Tuan Putri (Ojou-sama) selevel ini..."

Sambil bergumam, Haruto memandang sekilas ke arah dapur dan ruang tengah yang akan dia bersihkan.

Sekilas, area dapur memang kacau balau, tapi ruang tengah dan lainnya tidak terlihat sekotor itu. Ada debu halus dan helai rambut jatuh di atas lantai kayu dan karpet, serta sedikit debu menumpuk di atas rak, tapi sepertinya bakal bersih kalau di-vacuum dan dilap sedikit.

"Gue sempet panik karena ternyata kliennya Toujou-san, tapi dia pelanggan pertama yang berharga. Ayo semangat."

Sambil menyingsingkan lengan baju, Haruto memacu semangatnya. Dia melirik jam dinding, saat ini tepat pukul tiga sore. Mulai sekarang, dia harus menyelesaikan bersih-bersih dan memasak makan malam dalam waktu tiga jam.

"Tapi gila juga, adiknya Toujou-san bikin dapurnya kotor secara brutal banget, ya?"

Haruto tersenyum kecut melihat isi wajan yang kondisinya mengenaskan. Sampai bisa bikin dapur jadi begini, adiknya Toujou itu entah skill rumah tangganya nol besar, atau memang masih anak kecil. Toujou juga kelihatan malu banget waktu memperlihatkan pemandangan tragis ini ke Haruto tadi.

"Toujou-san yang lagi malu-malu... manis banget, sih."

Mengingat ekspresi gadis itu yang tidak bisa dilihat di kehidupan sekolah biasa, wajah Haruto nyaris menyeringai (niyakeru). Selain itu, bicara soal hal yang jarang dilihat, penampilan Toujou memakai baju rumah juga terasa sangat segar bagi Haruto. Haruto adalah siswa SMA laki-laki sehat yang secara tidak sadar akan memperlambat kecepatan membalik halaman jika ada fitur gravure di majalah manga.

Bagi cowok seperti dia, pakaian Toujou tadi—kaos lengan panjang longgar berwarna pucat dan celana pendek putih—cukup memberikan dampak yang nendang.

"Badan Toujou-san emang bagus banget, ya..."

Biasanya dia cuma melihat sekilas sosok Toujou dalam balutan seragam dari kejauhan, jadi dia tidak tahu detailnya. Makanya, bayangan sosoknya tadi susah hilang dari benak Haruto.

"Nggak boleh! Dia pelanggan berharga. Kerja yang bener, woy!"

Haruto bersuara keras untuk mengusir pikiran-pikiran kotornya. Sambil bertarung melawan hawa nafsu, dia memanfaatkan skill bersih-bersih warisan neneknya untuk membereskan dapur dan ruang tengah sesuai permintaan Toujou.

Tepat satu jam sejak bersih-bersih dimulai, saat jam dinding menunjukkan pukul 16:00. Berkat konsentrasi penuh demi membuang pikiran kotor, noda di area dapur hilang tak berbekas, bak cuci piringnya mengilap sampai-sampai terlihat seolah memancarkan cahaya sendiri. Ruang tengah juga sudah bebas dari debu.

"Fuuuh, bersih-bersih selesai."

Dengan wajah penuh rasa puas, Haruto memandang sekeliling ruangan yang sudah bersih. Tiba-tiba, terdengar suara pintu terbuka ceklek dari arah pintu depan. Bersamaan dengan itu, suara anak laki-laki yang berenergi menggema.

"Aku pulaaang~"

Menyusul salam kepulangan itu, suara langkah kaki drap-drap terdengar dari lorong. Sebelum Haruto sempat berpikir atau bertindak, pintu ruang tengah terbuka lebar dengan kencang. Yang muncul dari sana adalah seorang anak laki-laki yang kira-kira seumuran anak TK besar. Anak itu membeku begitu melihat sosok Haruto yang berdiri mematung di dapur.

"...." "...."

Haruto dan bocah itu saling pandang dalam diam. Setelah hening beberapa detik, Haruto membuka mulut, berniat menjelaskan kalau dia bukan orang mencurigakan.

"Anu, Kakak ini pengurus rum—"

"Kakak~~~~!! Di rumah ada maliiinggggg!"

Suara Haruto yang mencoba menjelaskan tenggelam oleh teriakan dahsyat yang dilepaskan bocah itu. Sambil berteriak keras, anak itu memutar tumit dengan kecepatan tinggi dan berlari kencang menyusuri lorong.

"Maling! Kakak! Ada maling!"

"Bukan! Tunggu! Kakak bukan maling!!"

Haruto panik mengejar anak itu sambil berusaha keras meralat kesalahpahaman. Namun, suaranya sama sekali tidak masuk ke telinga anak itu. Dia terus mengulang "Maling!" sambil mencoba menaiki tangga.

"Ryouta. Kenapa ribut-ribut?"

Saat kaki anak laki-laki itu baru memijak anak tangga pertama, Toujou, yang keluar kamar karena mendengar keributan, muncul di ujung tangga.

"Kakak, gawat! Ada maling di rumah!!"

"Hah, hah... maaf, Toujou-san. Adik ini sepertinya salah paham dan mengira saya maling..."

Anak laki-laki itu menunjuk-nunjuk Haruto yang berhasil menyusul di belakangnya, sambil mengadu dengan panik kepada kakaknya. Sementara itu Haruto, yang baru saja melakukan sprint habis-habisan karena ogah dianggap kriminal, menjelaskan situasi dengan napas terengah-engah.

"Pffft."

Pemandangan mereka berdua mungkin terlihat lucu di mata Toujou. Gadis itu menutup mulut dengan tangan dan menyemburkan tawa kecil.

"Kakak?"

Anak laki-laki itu memiringkan kepala, bingung melihat tingkah kakaknya. Toujou menuruni tangga, lalu meletakkan tangannya dengan lembut di pundak anak itu.

"Dengar ya Ryouta, Kakak ini bukan maling, kok."

"Eh? Bukan maling? Terus siapa? Pacarnya Kakak?"

"Pfft!"

Mendengar celetukan bocah itu, Haruto tanpa sadar menyemburkan tawa. Berbanding terbalik dengannya, Toujou dengan sangat tenang meralat kesalahpahaman adiknya.

"Bukan pacar juga. Kakak ini orang dari Layanan Pengurus Rumah Tangga, lho."

"Layanan... penguwus lumah tangga?"

Anak laki-laki itu memiringkan kepala, bingung dengan penjelasan kakaknya.

"Orang yang menggantikan kita buat bersih-bersih dan masak. Paham?"

Mendengar penjelasan Toujou, anak itu mengangguk mantap. Angguk.

"Maaf ya, Ootsuki-kun. Anak ini adikku, Ryouta. Masih anak TK, jadi belum paham hal-hal yang rumit."

"Ah, tidak apa-apa. Bagi saya tidak masalah selama kesalahpahamannya sudah lurus."

Haruto menjawab Toujou yang menundukkan kepala, lalu dia berjongkok untuk menyamakan pandangan dengan adik Toujou──Ryouta.

"Ryouta-kun. Maaf ya tadi bikin kaget. Nama Kakak Ootsuki Haruto, salam kenal, ya."

Melihat Haruto yang tersenyum sambil mengulurkan tangan, Ryouta sedikit menurunkan kewaspadaannya dibandingkan tadi, lalu membalas jabat tangan Haruto.

"Maaf ya tadi aku panggil Maling."

Melihat Ryouta menunduk meminta maaf dengan sopan, Haruto sedikit terkejut.

"Ryouta-kun anak yang sangat baik, ya."

Kata Haruto pada Toujou yang berdiri di sebelahnya. Menyadari kesalahan sendiri di usia segitu, lalu meminta maaf sebelum disuruh orang lain, bukanlah hal yang mudah dilakukan.

Toujou yang adiknya dipuji Haruto tampak sedikit melunakkan ekspresinya, lalu membuat wajah agak susah seolah menutupi rasa malunya.

"Tapi dia nakal banget lho, mainan juga sering diberantakin ke mana-mana."

"Nggak apa-apa dong, itu tandanya dia sehat dan energik."

Toujou mengelus kepala adiknya sambil tetap tersenyum. Melihat pemandangan itu, pipi Haruto mengendur, berpikir betapa akrabnya kakak beradik ini. Sebagai anak tunggal, dia menyimpan sedikit rasa iri dan kagum pada hubungan persaudaraan.

"Ah, benar juga. Karena bersih-bersihnya sudah selesai, boleh tolong diperiksa dulu?"

Kedatangan Ryouta sempat membuat Haruto lupa, tapi kini dia kembali mengingat pekerjaannya.

"Sudah selesai? Cepat banget."

Sambil berkata begitu, Toujou menuju ruang tengah. Dan begitu melihat ruangan yang sudah dibersihkan, matanya terbelalak.

"Eh? Wah, kinclong banget..."

Ruang tengah yang bebas dari sebutir debu pun. Meja dan wastafel yang begitu bersih hingga terlihat seperti dipoles cermin. Melihat ruang tamu dan ruang makan yang kini tampak seperti rumah model (model house) pameran, Toujou membuka mulut kecilnya, berdecak kagum.

"Mengenai kebersihannya, jika ada keluhan atau permintaan lain, silakan disampaikan."

Meskipun wajahnya sedikit menyiratkan rasa bangga (doya-gao), Haruto tetap melayani sesuai buku manual. Toujou menjawab sambil menggelengkan kepala.

"Nggak, ini udah sempurna. Nggak ada keluhan sama sekali, kok."

Toujou hanya bisa kagum melihat area dapur yang sudah pulih total menjadi indah dari kondisi yang sebelumnya kacau balau, serta rak dan meja yang bebas debu.

"Wah, Ootsuki-kun ternyata jago bersih-bersih, ya."

"Ya, begitulah. Kalau nggak jago, saya nggak bakal milih kerjaan paruh waktu ini."

"Ah bener juga, iya ya."

"Hebaaat! Kamarnya kinclong! Dapurnya juga udah balik lagi! Ne, ne, Kakak! Hebat yaaa!"

Sepertinya Ryouta jadi bersemangat melihat dapur dan ruang tengah yang jadi bersih. Dia berlarian mengelilingi ruangan sambil membuat suara gaduh. Dota-dota.

Melihat tingkah Ryouta, dalam hati Haruto berpikir, 'Baru aja dibersihin, debunya bakal terbang lagi deh...', tapi dia merasa tidak enak menghentikan tingkah anak kecil yang tersenyum polos begitu. Jadi, dia hanya bisa memandanginya sambil tersenyum pasrah.

"Hush, Ryouta. Ootsuki-kun kan sudah capek-capek bersihin, nanti debunya terbang lagi, lho."

Namun, Toujou menjalankan perannya sebagai kakak dengan baik dan menegur adiknya. Ryouta yang ditegur langsung menjawab "Iyaa~" dengan patuh dan berhenti berlari.

Melihat pemandangan itu, suara Haruto bocor tanpa sadar.

"Toujou-san kakak yang baik, ya."

"Eh? Masa sih?"

"Iya, kelihatan kok dari tadi."

"Be-begitu, ya? Makasih..."

Mungkin karena malu dipuji, Toujou berterima kasih sambil agak menunduk, namun matanya melirik ke atas menatap Haruto (Uwame-zukai). Melihat sosoknya yang seperti itu, Haruto merasakan detak jantungnya menjadi sedikit lebih cepat.

"Kakak itu ya, Kakak yang sangaaat baik, lho."

Saat Haruto sedang mengalami brain freeze sesaat karena terpesona oleh keimutan Toujou, Ryouta menghampirinya dan berkata dengan nada sedikit bangga.

"Iya, benar. Kakaknya Ryouta-kun memang Kakak yang sangat baik. Tapi, Kakak rasa Ryouta-kun juga adik yang sangat baik, lho?"

Haruto berjongkok menyamakan pandangan, lalu berkata sambil mengelus kepala Ryouta.

"Benewan? Aku adik yang baik?"

"Iya, Ryouta-kun itu adik baik yang mau mendengarkan perkataan Kakaknya."

Mendengar kata-kata Haruto, wajah Ryouta seketika bersinar cerah.

"Kakak! Katanya aku adik yang baik!!"

"Iya benar. Ryouta anak baik, kok."

"Ehehehe~"

Dipuji oleh dua orang itu, Ryouta tersenyum lebar dengan bahagia (niya-niya). Terpancing oleh senyuman itu, Haruto dan Toujou pun ikut tersenyum secara alami.

"Ah, benar juga. Mengenai menu makan malam, permintaannya adalah membuatkan porsi empat orang menggunakan bahan yang ada di kulkas, kan?"

Haruto yang sempat terobati hatinya oleh adik Toujou yang seperti malaikat, tersentak sadar dan beralih kembali ke mode kerja.

"Boleh saya izin memeriksa isi kulkasnya dulu?"

Berkat didikan neneknya, Haruto bisa membuat berbagai masakan mulai dari Jepang, Barat, hingga Tiongkok. Tapi tanpa bahan, dia tidak bisa berbuat apa-apa. Kalau bahannya kurang, dia harus pergi belanja, yang mana itu juga termasuk bagian dari tugas layanan pengurus rumah tangga.

"Ah, anu... agak berantakan sih isinya, tapi silakan."

"Baik, permisi saya lihat."

Melihat Toujou yang mengizinkan dengan malu-malu, Haruto merasa agak tidak enak, tapi dia memantapkan diri bahwa ini adalah pekerjaan dan membuka pintu kulkas.

"Eeto... Telur, susu, bawang bombay, wortel, ko... oh, ada daging cincang juga. Campuran sapi-babi, ya..."

Sambil mengecek isi kulkas, Haruto menyusun beberapa kandidat menu di kepalanya berdasarkan bahan yang dia temukan.

"Maaf, saya ingin mengecek bumbu dan rempah-rempahnya juga."

"Kalau itu, ada di laci sebelah sini."

Sambil berkata begitu, Toujou membuka laci di bawah meja dapur.

"Wih! Jenisnya lengkap banget!"

Di dalam laci itu tersimpan berbagai jenis bumbu dan rempah yang jauh melebihi ekspektasi Haruto.

"Lada hitam kasar, Sichuan pepper (Hua jiao), bunga lawang, kapulaga, cengkeh... wah, daun salam juga ada. Bubuk jahe, batang kayu manis! Ini... pala (nutmeg), ya."

Sebagai orang yang hobi masak, melihat rempah selengkap ini membuat semangat Haruto naik. Dia pun teringat satu menu masakan yang bisa dibuat menggunakan bahan di kulkas dan rempah-rempah yang baru saja dia lihat.

"Untuk menu makan malam, bagaimana kalau Hamburg Steak?"

"Hah! Mau makan Hambuuurg!"

Ryouta bereaksi lebih dulu daripada kakaknya terhadap usulan Haruto.

"Kakak, makan malam hari ini Hamburg?"

Melihat adiknya yang menatap dengan wajah penuh harap, Toujou tersenyum kecut dan berkata pada Haruto.

"Tolong buatkan Hamburg untuk makan malam hari ini, ya."

"Siap, laksanakan."

Haruto membungkuk agak berlebihan menanggapi ucapan Toujou. Melihat itu, Ryouta meninju udara dengan kedua tangannya, meluapkan kegembiraannya.

Sambil tersenyum melihat reaksi Ryouta yang menggemaskan, Haruto segera mulai memasak makan malam. Hamburg Steak adalah salah satu makanan favorit Haruto yang baru saja dia buat bersama neneknya beberapa hari lalu. Karena itu, ini adalah salah satu menu andalan yang sangat dia percayai, menu yang sudah dia latih sejak kecil agar rasanya bisa menyamai Hamburg lezat buatan neneknya.

Haruto pun mulai membuat Hamburg Haruto melanjutkan memasak dengan gerakan yang sangat efisien. Kakak beradik Toujou mengawasinya sambil duduk di meja makan. Haruto sempat berpikir, 'Lho, Toujou-san nggak balik ke kamarnya?' sambil mulai memegang pisau untuk mencincang halus bawang bombay.

Saat itu, dia merasakan tatapan tajam. Ketika dia mendongak, dia melihat Ryouta yang sedang menatapnya dengan penuh rasa ingin tahu. Haruto menyunggingkan senyum tipis, lalu sengaja menunjukkan teknik memotong dengan sedikit berlebihan—memamerkan cincangan bawang bombay super cepat. Seketika, terdengar sorakan kagum Ryouta, "Uwaaa~!"

"Ootsuki-kun ternyata tipe 'Cowok Koki' (Ryouri Danshi), ya."

Di sebelah adiknya yang matanya berbinar-binar, Ayaka ikut berkomentar dengan nada kagum.

"Bersih-bersih oke, masak pun jago... Ootsuki-kun, kemampuan domestikmu terlalu tinggi, lho."

"Zaman sekarang rasanya makin sedikit laki-laki yang nggak bisa masak, Toujou-san."

"Masa, sih? Tapi kalau levelmu ini sih menurutku sudah kelewat tinggi."

"Terima kasih atas pujiannya."

Bukan hanya Ryouta, Ayaka pun ikut mengirimkan tatapan penuh minat ke tangan Haruto. Di bawah pengawasan dua penonton itu, Haruto melanjutkan proses pembuatan hamburg. Saat tiba di tahap menguleni adonan, dia menyiapkan semangkuk air es lalu mencelupkan kedua tangannya ke sana.

"? Kakak lagi apa?"

Ryouta memiringkan kepala melihat tingkah misterius Haruto yang tiba-tiba.

"Biar lemak dagingnya nggak meleleh kena suhu tubuh Kakak."

"Lemak bisa meleleh?"

"Iya. Kalau lemaknya meleleh duluan, kita nggak bisa bikin hamburg yang enak."

Ryouta masih tampak bingung dengan penjelasan itu, sementara Ayaka mengangguk kecil seolah baru paham. Haruto menarik tangannya dari air es, mengeringkannya, lalu mulai menguleni adonan dengan cepat. Karena baru saja dicelupkan ke air sedingin es, tangannya tampak memerah.

"Tangan Kakak nggak sakit?" tanya Ryouta dengan nada khawatir.

"Makasih ya, Ryouta-kun. Tapi nggak apa-apa, kok. Kan Kakak pengen Ryouta-kun makan hamburg yang paling enak."

Haruto merasa hatinya terobati oleh kebaikan Ryouta. Dia terus menguleni hingga adonan terasa kenyal, membaginya menjadi empat gumpalan, lalu membentuknya menjadi oval.

Saat tiba waktunya untuk menggoreng, Haruto bertanya pada Ayaka.

"Anu, apakah empat-empatnya digoreng sekarang? Atau dua dulu saja?"

Makan malam yang dipesan Ayaka adalah untuk porsi empat orang. Namun saat ini hanya ada Ayaka dan Ryouta. Kemungkinan dua porsi sisanya adalah untuk orang tua mereka, tapi sejauh ini belum ada tanda-tanda mereka akan pulang. Sebagai koki, Haruto ingin mereka semua menyantapnya dalam kondisi baru matang karena itu yang paling lezat.

"Ah... iya ya. Goreng dua dulu saja, deh. Tapi..."

Ayaka menatap jam dinding di ruang tengah dengan ekspresi sedikit cemas. Waktu sudah menunjukkan pukul setengah enam lewat. Kontrak kerja Haruto berakhir pukul enam, jadi jika orang tua Ayaka belum pulang sekarang, Haruto sudah tidak ada di sini saat dua porsi sisanya harus digoreng.

"Saya akan meninggalkan memo cara menggorengnya. Kalau diikuti dengan benar, hasilnya akan tetap sama lezatnya, kok."

Mendengar kata-kata Haruto yang berusaha menghilangkan kecemasannya, Ayaka mengangguk.

"Beneran? Kalau gitu tolong goreng buat kami berdua saja dulu."

"Siap, laksanakan."

Haruto memasukkan dua adonan ke penggorengan dan mulai memasak. Sambil menunggu matang, dia juga menyiapkan sup konsome dan menata sayuran pelengkap di piring secara pararel.

Tepat saat hamburg matang, nasi sudah disendok ke mangkuk, dan semua hidangan tertata rapi di meja makan, jam menunjukkan pukul 18:00—waktu kontraknya berakhir.

"Karena waktu kontrak sudah selesai, saya izin pamit sekarang."

Ucap Haruto setelah selesai mencuci penggorengan dan peralatan masak lainnya.

Steak dengan tangan terampil.

"Iya, terima kasih. Ini sangat membantu, lho."

Toujou menatap hidangan yang tertata rapi di atas meja, lalu berujar dengan nada kagum.

"Benar-benar deh, kemampuan rumah tangga Ootsuki-kun tinggi sekali."

"Terima kasih. Saya rasa hamburg-nya sudah matang dengan sempurna, jadi silakan dinikmati selagi hangat."

Setelah berkata demikian pada Ayaka, Haruto mulai bersiap-siap untuk pulang. Tiba-tiba, Ryouta—yang sedari tadi menatap hamburg yang baru matang dengan mata berbinar—menghampiri Haruto.

"Hm? Ada apa, Ryouta-kun?"

"......Da-dah, Kakak. Sampai jumpa lagi, ya."

Meski terlihat malu-malu, Ryouta melambaikan satu tangannya ke arah Haruto untuk berpamitan. Sosoknya terlihat sangat menggemaskan di mata Haruto. Haruto secara alami tersenyum sambil membalas lambaian tangan Ryouta.

"Iya, sampai jumpa lagi, Ryouta-kun."

Meskipun secara refleks menjawab begitu, di dalam hati Haruto berpikir bahwa kemungkinan besar mereka tidak akan bertemu lagi. Kali ini, dia kebetulan ditugaskan di rumah keluarga Toujou, tapi belum tentu pesanan berikutnya akan jatuh ke tangannya lagi. Malahan, setelah tahu bahwa petugasnya adalah teman sekelas sendiri, besar kemungkinan Toujou akan meminta staf lain di lain waktu. Pasti rasanya canggung sekali membiarkan teman sekelas mengerjakan urusan rumah tangga kita.

"Ootsuki-kun, aku antar sampai pintu depan, ya."

"Terima kasih."

Haruto, yang sebenarnya merasa sedikit berat hati berpisah dengan Ryouta yang terus melambai dengan penuh semangat, menerima tawaran Toujou dengan senang hati.

"Ootsuki-kun, hari ini benar-benar terima kasih banyak, ya."

Sesampainya di pintu depan, Toujou menundukkan kepalanya kepada Haruto.

"Tidak, saya yang seharusnya berterima kasih karena Anda telah menggunakan layanan kami."

Haruto membalas ucapan terima kasih Toujou, lalu teringat sesuatu. "Ah, benar juga," dia mengeluarkan selembar brosur dari tasnya dan menyerahkannya kepada Toujou.

"Anu, jika di lain waktu Anda berniat menggunakan layanan kami lagi, kami juga memiliki paket Kontrak Rutin."

Haruto menjelaskan sambil menunjuk ke arah brosur yang dia berikan.

"Jika Anda mengambil Kontrak Rutin, biayanya akan lebih hemat dibandingkan kontrak satuan seperti hari ini. Jadi, mohon dipertimbangkan untuk pemakaian berikutnya."

Melihat Haruto yang melakukan promosi sesuai buku manual, Toujou tak bisa menahan tawa kecilnya. "Fufu."

"Ootsuki-kun jadi terlihat seperti orang sales saja."

"Yah, ini juga bagian dari pekerjaan."

"Rasanya aneh ya, bicara pakai bahasa formal (Keigo) begitu sama teman sekelas. Berasa bicara sama orang kantoran. Nggak bisa bicara biasa saja?"

"Bukannya tidak boleh, tapi Toujou-sama adalah pelanggan saya."

Mendengar jawaban Haruto, Toujou hanya bisa tersenyum kecut.

"Begitu ya... Pelanggan... ya."

"Benar. Ah, Anda harus segera kembali ke dalam, nanti hamburg-nya jadi dingin."

"Ah, iya benar. Kalau begitu sekali lagi terima kasih ya, Ootsuki-kun."

"Baik, kami tunggu pesanan Anda berikutnya."

Haruto membungkuk dalam sekali lagi sebelum meninggalkan rumah keluarga Toujou. Sesaat setelah dia mendongak dan sekilas melihat wajah Toujou, ekspresi gadis itu tampak sedikit kecewa, tapi dia berpikir bahwa itu mungkin hanya salah lihat saja.

Setelah meyakinkan dirinya sendiri seperti itu, Haruto pun melangkah pulang, menyelesaikan tugas pertamanya sebagai pengurus rumah tangga.

👍 0
0
🤔 0