Kaji Daikou no Arubaito wo Hajimetara Gakuen Ichi no Bishoujo no Kazoku ni Kiniirarechaimashita
Volume 1 - Chapter 5

Bab 5 : Cinta Pertama

Bab 5 : Cinta Pertama

Meskipun masih pagi, hawa panas yang menyengat sudah menyerang di tengah liburan musim panas ini. Seperti biasa, Haruto sedang menguasai meja belajar di kamar sahabatnya yang dilengkapi AC, sementara ia sibuk membuka buku referensi dan belajar.

"Oi, Haru. Kalau lo belajar terus-terusan begitu, lo bisa jadi bego, lho."

Tomoya, yang meja dan kursinya dirampas oleh Haruto, duduk di pinggiran tempat tidur sambil berlatih gitar.

"Lo sendiri juga, kalau latihan gitar terus-terusan begitu, lo malah bakal makin payah," balas Haruto tanpa mengalihkan pandangan dari buku referensinya.

Tomoya tertawa mendengar balasan itu. "Ngomong apa sih lo? Gue kan latihan supaya makin jago, mana mungkin malah jadi makin payah?"

Mendengar argumen Tomoya yang terdengar sangat logis itu, Haruto menghentikan penanya dan menatap sahabatnya dengan tatapan jengah.

"......Tomoya, kayaknya lo perlu belajar dikit deh. Belajar soal hukum alam."

"Gue tolak mentah-mentah! Mana sudi gue belajar. Gue sibuk banget nih mau mendalami ilmu gitar," jawab Tomoya mantap.

Setelah menyatakan penolakannya, Tomoya mulai menggenjreng gitarnya dengan asal. Haruto hanya menggidikkan bahu melihat tingkah sahabatnya itu dan kembali melanjutkan belajarnya.

Untuk beberapa saat, mereka berdua fokus pada kegiatan masing-masing tanpa saling mengganggu. Namun, tak lama kemudian Tomoya menghentikan latihannya dan memanggil Haruto.

"Oi, Haru? Ngomong-ngomong gimana kerja part-time pengurus rumah tangga lo?"

"Gimana ya... ditanya begitu pun, gue cuma bisa jawab biasa saja."

"Nggak ada kejadian apa-apa gitu sama Toujou-san setelah hari pertama? Cuma sekali itu doang?"

"...."

Mendengar pertanyaan Tomoya, Haruto tanpa sadar menghentikan gerakan tangannya. Perubahan sikap yang sekejap itu tidak luput dari mata Tomoya yang jeli. Sebuah senyum jahil langsung terkembang di wajahnya.

"Waduh! Jangan-jangan... jangan-jangan setelah itu lo malah jadi sering ke rumah Toujou-san?!"

"...Ini kan kerjaan. Gue ke rumah Toujou-san itu murni sebagai pengurus rumah tangga, nggak lebih," gumam Haruto pelan.

Mendengar itu, semangat Tomoya mendadak melonjak drastis seolah-olah hal itu terjadi pada dirinya sendiri.

"Serius?! ...Lo beneran bolak-balik ke rumah Toujou-san?!"

"Ya dibilang bolak-balik sih... anu, soalnya pihak mereka minta kontrak rutin."

"Hah?! Bukannya itu keren banget?! Artinya lo disukai sama keluarga Toujou, kan?"

"Itu karena mereka suka sama hasil kerja gue saja," balas Haruto dingin menanggapi antusiasme sahabatnya.

"Nggak, tapi tetap saja itu keren! Dengan begini lo bisa makin akrab sama Toujou-san! Terus kalau beruntung, siapa tahu kalian bisa jadian, kan?"

"Nggak akan. Pasti nggak akan terjadi." Haruto membantah mentah-mentah ucapan Tomoya.

"Kenapa lo bisa seyakin itu? Kalau sering ketemu, lama-lama kan bisa jadi makin akrab?"

"Yah, kalau cuma makin akrab sedikit sih mungkin saja. Tapi nggak akan lebih dari itu."

Haruto berpikir, jika ia terus datang sebagai staf pengurus rumah tangga, hubungannya dengan Ayaka mungkin akan sedikit lebih baik dibanding sebelum libur musim panas. Mungkin mereka akan berada di level "saling menyapa" saat bertemu di pagi hari. Namun, harapan untuk menjadi lebih dari itu, apalagi sampai menjadi kekasih, sama sekali tidak terlintas di kepala Haruto.

"Lagi pula, Toujou-san yang selama ini menolak semua cowok di sekolah nggak mungkin bakal suka sama gue."

"Masa sih? Lo kan jago masak, Haru. Siapa tahu lo berhasil menaklukkan perutnya terus dia jadi jatuh cinta?"

"Kalau Toujou-san semudah itu jatuh cinta sama orang, harusnya dari dulu dia sudah punya pacar, kan?" ucap Haruto sambil kembali menghadap meja dan melanjutkan belajarnya.

"Lagi pula, seandainya—ini cuma seandainya—hubungan gue sama Toujou-san jadi makin bagus, nggak mungkin gue mau pacaran sama dia."

"Lah, kenapa?" tanya Tomoya sambil memiringkan kepala, benar-benar tidak mengerti.

Haruto menjawab sambil tetap menatap buku referensinya. "Kenapa lo tanya? Itu Toujou-san, lho. Idola Sekolah. Bayangin kalau gue pacaran terus berangkat sekolah sambil gandengan tangan sama dia. Gue bakal langsung dikeroyok sama semua cowok di sekolah dan nggak bakal bisa pulang dengan nyawa utuh."

Haruto memasang wajah masam saat teringat tatapan penuh rasa iri yang ditujukan padanya ketika berbelanja di supermarket bersama Ayaka dan Ryouta tempo hari.

"Lo kan jago karate, hajar saja semuanya kalau mereka macam-macam. Gunanya karate kan buat begitu," celetuk Tomoya santai.

"Salah, bego. Gue latihan karate itu untuk melatih etika dan mental. Kekerasan itu tidak boleh dimaafkan, apa pun alasannya."

"Dasar kaku."

"Biasa saja, kali," jawab Haruto pendek sambil terus menggoreskan pena di buku catatannya.

"Jadi, meskipun Toujou-san menyatakan perasaannya ke lo, lo nggak bakal ngapa-ngapain?"

"Gue cuma mau menjalani kehidupan SMA yang damai. Tugas utama pelajar itu belajar."

"Cemen."

"Terserah lo mau ngomong apa."

Seolah ingin mengakhiri pembicaraan, Haruto kembali fokus sepenuhnya pada pelajaran. Melihat sosok sahabatnya yang begitu teguh, Tomoya hanya bergumam, "Sayang banget," lalu kembali berlatih gitar.

Haruto terus berkutat dengan meja belajarnya hingga menjelang siang. Ia melirik jam dinding, lalu melakukan peregangan tubuh yang panjang.

"Huff... Oke, gue balik sekarang."

"Ooh, sudah siang ya?" Tomoya menghentikan latihannya dan ikut menatap jam.

"Makasih ya sudah boleh pakai mejanya."

"Yo, biaya sewanya sepuluh juta yen ya."

"Boleh. Kalau gitu, biaya gue bersihin kamar lo satu kali datang itu seratus juta yen," balas Haruto santai sambil merapikan alat tulisnya.

"Sip. Meja ini bebas lo pakai kapan saja sesuka hati, Tuan Haruto."

"Haha, tengkyu."

Tomoya membungkuk hormat dengan nada bercanda, sementara Haruto tertawa kecil sambil mengangkat tangan.

"Habis ini lo langsung kerja?" tanya Tomoya.

"Iya, gue mau belanja buat di rumah dulu bentar, terus jam tiga baru berangkat."

"Ke rumah Toujou-san?"

"Iya." Haruto menjawab singkat sambil memasukkan buku referensi ke dalam tasnya.

"Iri banget gue, sumpah."

"Gue ke sana buat kerja, tahu. Nggak bakal banyak interaksi sama Toujou-san kayak yang lo bayangin."

"Tapi kan lo bisa memandangi wajah cantiknya secara langsung?"

"Memandangi wajahnya, ya..." Haruto memasang wajah jengah dan bersiap keluar dari kamar sahabatnya. Tomoya pun ikut berdiri mengikutinya.

"Lho? Lo mau keluar juga?"

"Yo-i. Hari ini gue ada latihan bareng anak-anak band di studio," jawab Tomoya sambil menepuk-nepuk tas gitarnya.

"Oke, semangat latihannya."

"Lo juga, semangat ya biar disukai Toujou-san!"

"Bukannya sudah gue bilang itu bukan hal yang harus diperjuangkan?"

"Ah, coba perjuangin dikit kenapa sih!"

Mendengar kata-kata sahabatnya yang diiringi tawa kecil itu, Haruto hanya menggaruk kepalanya. "Iya, iya, terserah lo deh. Duluan ya."

Setelah memberikan jawaban asal, Haruto pun berpisah dengan Tomoya.

Setelah berpisah dari Tomoya, Haruto menuju supermarket sebelum berangkat ke tempat kerjanya. Tadi pagi saat menyiapkan sarapan bersama neneknya, ia menyadari persediaan miso di rumah hampir habis, jadi ia berniat membelinya.

"Ngomong-ngomong, natto juga tinggal sedikit, beli sekalian saja deh," gumamnya.

Sambil berjalan mengingat isi kulkasnya, sinar matahari musim panas yang tanpa ampun terus menyengat dari atas kepala. Begitu sampai di supermarket, tubuh Haruto sudah sedikit berkeringat. Ia mengambil keranjang belanja di pintu masuk dan langsung merasa lega saat disambut oleh udara dingin dari AC di dalam toko.

"Hm? Tumben ramai banget."

Biasanya supermarket setelah jam makan siang cenderung sepi, tapi mungkin karena sedang libur musim panas, pengunjungnya jadi cukup banyak. Saat Haruto berjalan menuju lorong miso, sebuah poster iklan besar menarik perhatiannya.

"Oho? Ada Time Sale (Diskon Terbatas) ya? Pantas saja ramai."

Sepertinya strategi supermarket untuk meningkatkan jumlah pengunjung di jam-jam sepi adalah dengan mengadakan diskon kilat.

"Coba lihat, ada barang bagus tidak ya?" Haruto mendekat untuk mengecek poster tersebut. Sepertinya menu utama diskon kali ini adalah daging.

"Daging sapi bagian perut, 128 yen per 100 gram... hmmm... murah sih, tapi nggak murah-murah amat sampai harus langsung disambar," analisis Haruto. Sepertinya rasa lapar dan nafsu makannya terhadap daging sedikit berkurang karena baru saja berjalan di bawah terik matahari.

Haruto tidak merasa tertarik pada barang-barang di iklan tadi. Mungkin karena baru saja berjalan di bawah terik matahari yang menyengat, nafsu makannya menurun sehingga daging pun tidak terlihat menggoda di matanya.

"Ada yang lain nggak ya... Oh, bumbu dapur juga murah. Sial, harusnya tadi gue cek stok bumbu di rumah... Eh? Tunggu, tunggu dulu!?"

Kalimat Haruto terhenti. Matanya membelalak lebar, menatap tajam ke satu titik di poster iklan tersebut.

"Minyak wijen... satu botol cuma 78 yen...!??"

Murah. Ini terlalu murah!

Bagi Haruto, minyak wijen termasuk dalam kategori barang mewah. Produk merek supermarket saja biasanya dipatok harga 200 sampai 300 yen. Kalau mau membeli merek ternama yang sudah umum dikenal, kepingan koin 500 yen bisa langsung lenyap dalam sekejap.

Padahal, minyak wijen punya segudang kegunaan. Aroma harumnya yang khas punya kekuatan untuk membangkitkan nafsu makan yang hilang di musim panas. Cukup tuangkan sedikit di atas tumisan sayur atau nasi goreng, rasanya akan naik kelas menjadi jauh lebih lezat. Kalau ditambah bawang putih, bisa dibilang rasanya jadi tak terkalahkan. Di malam musim panas yang lembap, makan tahu dingin (Hiyayakko) dengan kimchi di atasnya lalu disiram minyak wijen adalah hidangan yang luar biasa nikmat.

"Ini wajib beli!!"

Haruto segera bergegas menuju lorong tempat minyak wijen berada.

Dengan napas terengah-engah, Haruto berdiri di depan rak yang memajang minyak wijen tersebut. Di matanya terpantul angka besar yang tertulis di atas kertas kuning. Angka itu benar-benar nyata: 78.

"Sebenarnya... dunia macam apa yang sedang kupijaki sekarang?"

Haruto sampai gemetar karena syok melihat harga yang tidak masuk akal itu.

"Minyak wijen bisa semurah ini... Hah! Jangan-jangan ini dunia lain! Apakah ini yang namanya Isekai Tensei yang sering dibicarakan orang-orang itu!?"

Sambil menggumamkan hal bodoh seperti itu, Haruto menjulurkan tangannya ke arah produk tersebut, namun ia tiba-tiba tersentak dan menghentikan gerakannya. Pandangannya tertuju pada satu kalimat yang tertulis di bawah harga pada iklan tersebut.

"Maksimal satu botol per pelanggan..."

"Cih! Musuh lama ini muncul lagi!"

Bak seorang pahlawan yang berhadapan dengan Raja Iblis, Haruto menatap kalimat itu dengan pandangan benci.

Aturan "Maksimal satu barang per pelanggan" adalah musuh bagi semua ibu rumah tangga. Para ibu di seluruh dunia biasanya akan memanggil teman atau kerabat untuk membantu "menaklukkan" musuh kuat ini.

Haruto pun dengan sigap merogoh saku, mengeluarkan ponselnya, dan mengetuk layar dengan kecepatan luar biasa untuk mencoba "memanggil bantuan". Dari ponsel yang ditempelkan di telinganya, terdengar nada sambung yang santai, sangat kontras dengan gejolak di hatinya.

Saat ini, kemungkinan besar para pesaingnya sedang sibuk memperebutkan daging sapi. Ia harus segera mengamankan minyak wijen ini sebelum mereka menyadarinya.

Haruto berusaha menahan rasa tidak sabarnya, menunggu panggilannya dijawab. Beberapa detik kemudian, sambungan terhubung, dan suara santai sahabatnya terdengar di telinga.

Yow, ada apa? Ada barang yang ketinggalan?

"Apa lo bisa datang ke supermarket sekarang?"

Waduh, aura lo serem banget. Jangan-jangan soal "itu" lagi?

"Benar! Hari ini gue nggak boleh melewatkannya!"

Haruto sudah berkali-kali memanggil Tomoya sebagai bantuan untuk melewati rintangan "Maksimal satu barang" ini. Dengan kata lain, Tomoya bukan sekadar sahabat, tapi juga rekan seperjuangan. Namun, sang rekan memberikan jawaban yang mengecewakan.

Aduh... sori banget, Haru. Gue sudah di studio sekarang, latihan bareng anak-anak band mau dimulai sebentar lagi...

"......Begitu ya. Iya juga, sih. Maaf ya sudah ganggu. Jangan pikirkan gue, semangat latihannya."

O-oh, oke. Kayaknya... itu... sori ya.

Mungkin karena suara Haruto terdengar sangat lesu, Tomoya meminta maaf dengan rasa bersalah yang tulus.

"Nggak apa-apa, bukan salah lo. Dah."

Haruto mematikan sambungan telepon, lalu segera mencoba memanggil "rekan" berikutnya. Ia mencari riwayat obrolan di aplikasi pesan dan langsung melakukan panggilan. Beberapa detik kemudian, sebuah suara terdengar dari seberang telepon.

Ada apa, Haruto?

"Kazu-senpai! Apa Abang lagi senggang sekarang?"

Hah? Kenapa lo panik banget begitu?

Setelah gagal memanggil Tomoya, Haruto beralih pada sosok abang-abangan yang bisa diandalkan di dojo, Ishikura Kazuaki.

"Bang, saya lagi di supermarket. Ada barang diskon yang cuma boleh dibeli satu per orang, apa Abang bisa bantu?"

Ooh, begitu. Anu... apa harus sekarang banget?

"......Iya. Sepertinya kalau tidak cepat, bakal langsung ludes." Haruto mulai merasa firasat buruk dari nada bicara Ishikura.

Aduh... sori banget, Haru. Gue lagi manggang kue nih. Nggak bisa ditinggal. Sori ya.

"O-oh, begitu ya... ya sudah kalau begitu, Bang."

Sori, ya.

"Nggak apa-apa."

Haruto mematikan teleponnya, lalu mencoba peruntungan terakhir pada satu orang lagi. Panggilan itu tersambung bahkan sebelum nada dering pertama selesai.

Haru-senpai, Senpai ingin punya anak berapa?

"Maaf, Shizuku. Gue nggak paham maksud lo sama sekali."

Suara datar tanpa nada khas Shizuku terdengar dari ponsel. Adik kelas sekaligus rekan di dojo ini memang sering melontarkan pernyataan aneh. Mendengar ucapan Shizuku, Haruto merasa energinya seolah terkuras habis dalam sekejap.

Bukankah ini telepon soal rencana masa depan keluarga kita, Senpai?

"Maaf, tapi gue rasa rencana buat teleponan kayak gitu nggak bakal ada sampai kapan pun."

Gubrak. (Gabiin)

Mendengar balasan Haruto yang dingin, Shizuku memberikan reaksi yang terdengar sangat jadul. Namun, karena diucapkan dengan nada lempeng bin datar, Haruto justru tidak sengaja tertawa kecil.

"Gubrak... lo hidup di zaman kapan sih?"

Saya kan siswi SMA kekinian? Daripada itu, ada apa Senpai menelepon? Kalau bukan soal rencana keluarga, apa mau konsultasi soal lokasi bulan madu? Saya pilih Pulau Santorini.

"Santorini itu di mana, coba... Bukan itu. Gue mau minta bantuan buat beli barang diskon di supermarket." Haruto segera menyampaikan intinya sebelum hari semakin gelap meladeni candaan Shizuku.

Hoho... begitu ya. Jadi bagi Senpai, saya ini cuma wanita gampangan yang dipanggil kalau butuh saja, ya.

"......Kalau lo bantu, gue bakal kasih imbalan yang setimpal."

Ciuman?

"Imbalan yang lebih normal, woi."

Mo-motto... yang lebih hebat lagi... Senpai mesum.

Mendengar Shizuku yang terus membelokkan topik ke arah mesum, Haruto menghela napas panjang karena lelah.

"Jadi, lo bisa bantu nggak?"

Tentu saja... inginnya saya jawab begitu. Tapi maaf, Senpai. Sekarang saya lagi disuruh Mama cabut rumput liar. Karena saya sudah bolos empat kali berturut-turut, akhirnya 'petir' Mama menyambar...

Suara Shizuku terdengar lesu dan sedih, sesuatu yang jarang terjadi. Haru-senpai, sungguh menyesal.

"O-oh, begitu ya. Ya sudah, patuhi kata-kata nyokap lo, ya."

Iya...

"Dah. Semangat cabut rumputnya."

Haru-senpai... sayang. Mwah.

"Iya, iya."

Setelah mematikan telepon dari Shizuku yang masih sempat-sempatnya bercanda sampai akhir, Haruto menghela napas berat. Setelah gagal mendapatkan bantuan dari semua "rekan seperjuangan"-nya, ia hanya bisa memendam rasa sesak karena kalah dari aturan "Satu barang per pelanggan".

"Hah... ya sudahlah, setidaknya gue masih bisa beli satu botol. Gue harus puas dengan itu."

Haruto mengambil satu botol minyak wijen dari rak dengan lesu, lalu menjatuhkannya ke keranjang belanja tanpa semangat.

"...Beli miso terus balik, deh."

Haruto mulai melangkah gontai. Namun tiba-tiba, sebuah suara memanggilnya dari belakang.

"Ootsuki-kun?"

Haruto menoleh, dan seketika ia teringat satu hal. Dalam cerita Isekai Tensei (Reinkarnasi ke Dunia Lain), hampir selalu ada satu sosok yang muncul.

Yaitu: Sang Dewi.

Dewi yang memberikan kekuatan besar pada sang pahlawan, dan menyelamatkannya di saat genting. Kini, di depan mata Haruto, sang Dewi itu muncul. Tepat di hadapan Haruto yang baru saja tumbang melawan Raja Iblis bernama "Maksimal Satu Barang". Dewi yang akan memberinya kekuatan untuk bangkit kembali.

"Aaah! Toujou-san! Kamu benar-benar seorang Dewi!!"

"Fueeeh!?"

Suara aneh keluar dari mulut Ayaka akibat teriakan dan antusiasme misterius Haruto.

[POV: Ayaka Toujou]

Tadi Mama menyuruhku belanja ke supermarket dekat rumah, dan tanpa disangka, aku malah melihat Ootsuki-kun di sini.

Melihat sosok Ootsuki-kun di luar jam kerjanya sebagai pengurus rumah tangga membuat jantungku tiba-tiba berdegup kencang, sampai aku refleks bersembunyi di balik rak barang.

Du-duh, bagaimana ini... apa sebaiknya aku menyapanya?

Dia sudah datang ke rumahku tiga kali, jadi seharusnya hubungan kami sudah cukup akrab untuk sekadar saling menyapa saat berpapasan secara tidak sengaja... mungkin?

Tapi bagaimana kalau Ootsuki-kun sebenarnya sama sekali tidak menganggapku begitu? Bagaimana kalau dia malah berpikir, "Siapa sih cewek ini? Akrab banget sok kenal sok dekat".

Uuuh... aku tidak mau dianggap begitu.

Tapi, Ootsuki-kun bukan tipe orang seperti itu, kan? Dia kan baik, dia pasti akan membalas sapaanku sambil tersenyum.

Aku mengintip pelan dari balik rak untuk melihat situasi Ootsuki-kun. Sejak tadi, dia terus menatap tajam ke arah rak barang dengan ekspresi yang sangat serius. Awalnya aku berharap dia yang menyadariku duluan dan menyapa, tapi melihat kondisinya sekarang, sepertinya itu mustahil.

......Ternyata Ootsuki-kun bisa memasang ekspresi seperti itu, ya.

Saat datang ke rumah sebagai pengurus rumah tangga, Ootsuki-kun selalu memasang wajah yang tenang dan lembut. Tapi sekarang, tatapannya tajam dan fokus ke satu titik.

Entah kenapa, aku merasa sedikit senang karena bisa melihat sisi Ootsuki-kun yang tidak kuketahui sebelumnya.

Sambil terus mengintip secara sembunyi-sembunyi, tiba-tiba dia mengeluarkan ponselnya dan mulai menghubungi seseorang dengan gerakan yang sangat cepat. Sepertinya dia menelepon sekitar tiga orang secara berturut-turut, lalu setelah mematikan telepon, dia terlihat sangat kecewa saat mengambil sebuah barang dari rak.

Itu... minyak wijen? Kenapa dia terlihat sedih sekali saat mengambil minyak wijen?

Saat aku sedang kebingungan, Ootsuki-kun mulai berjalan gontai dengan punggung yang memancarkan aura melankolis.

Ada apa, sih? Kenapa dia sedih banget? Apa gara-gara minyak wijen itu?

Rasa penasaranku muncul bertubi-tubi. Aku benar-benar ingin tahu.

"Ootsuki-kun?"

Karena terlalu penasaran, tanpa sadar aku sudah keluar dari tempat persembunyianku dan memanggil namanya.

Aduh! Bagaimana ini! Aku sudah terlanjur memanggilnya! Padahal aku belum siap mental sama sekali...!!

Sambil panik, aku mencoba menyusun kalimat sapaan yang natural di dalam kepala. "Hari ini cuacanya bagus ya"... kayaknya salah. "Halo, Ootsuki-kun"... ini terlalu biasa. "Lagi apa di sini?"... ya jelas lagi belanja lah karena ini supermarket! Kalau begitu... "Merasa ada takdir ya kita bertemu di tempat seperti ini!"... ini JELAS SALAH BANGET!! Apa-apaan sih aku ini!

Di saat pikiranku sedang kacau balau, Ootsuki-kun justru melontarkan kata-kata yang membuatku makin kehilangan akal sehat.

"Aaah! Toujou-san! Kamu benar-benar seorang Dewi!!"

"Fueeeh!?"

Suara aneh keluar lagi dari mulutku! Tunggu, eh? Dewi? Aku? Dewinya Ootsuki-kun?

Aku tidak paham maksudnya. Dewi itu apa? Yang seperti di lukisan orang zaman dulu yang berdiri di dalam kerang, atau yang memegang bendera negara memimpin rakyat di barisan paling depan?

"Toujou-san! Ada sesuatu yang ingin kuminta darimu!"

"I-iya."

Ootsuki-kun menatapku dengan mata yang sangat serius. Duh, bagaimana ini, kalau ditatap dengan pandangan setajam itu jantungku makin berdegup kencang... hah! Tunggu sebentar! Jangan-jangan... jangan-jangan ini adalah PERNYATAAN CINTA (KOKUHAKU)!?

Tunggu, tunggu, tunggu! Di sini? Di lorong bumbu dapur supermarket? Menembakku sambil memegang minyak wijen?! Du-duh, bagaimana ini... ini terlalu antimainstream sampai aku tidak bisa berpikir jernih.

O-oke, ta-tapi, seandainya dia benar-benar menembakku, aku akan menolaknya dulu sekali. Iya, aku harus menolak. Lalu aku akan bilang, "Mari kita mulai dari teman saja dulu".

"Toujou-san! Tolong bantu aku membeli minyak wijen!!"

"Ah, iya! Aku juga mohon bantuannya, mari kita lakukan bersama!"

DASAR AKU BODOH! Padahal sudah memutuskan mau menolak dulu tadi!! ...Eh, hah? Minyak wijen? Maksudnya bagaimana?

"Benarkah?! Wahhh~ terima kasih banyak. Ini sangat membantu!"

"A-ah, iya. Sama-sama...?"

Eh? Apa? Apa-apaan ini? "Bantu beli minyak wijen"? Maksudnya sejenis "tugas pertama kita sebagai pasangan suami-istri" begitu? Lamaran minyak wijen!?

Di tengah puncak kebingunganku, Ootsuki-kun dengan wajah berseri-seri menunjuk ke arah selembar kertas iklan yang tertempel di rak minyak wijen.

"Minyak wijen ini dibatasi maksimal satu botol per pelanggan. Tadi saya sudah coba minta tolong teman-teman saya supaya bisa beli dua botol, tapi tidak ada yang bisa datang. Saya sudah hampir menyerah dan mau beli satu botol saja."

"O-oalah! Jadi begitu... Iya ya. Satu barang per orang... He-he, iya benar. Jadi aku tinggal beli satu lagi pakai namaku untuk Ootsuki-kun, kan?"

"Iya, uangnya nanti saya ganti."

"Oke, aku mengerti. Kalau begitu aku ambil ini ya."

Aku mengambil botol minyak wijen diskon itu dan memasukkannya ke keranjang.

...Malu bangettt!! Aku benar-benar salah paham tingkat dewa! Apa-apaan "lamaran minyak wijen"?! Mana mungkin ada hal konyol begitu! Dasar aku bodoh! Bodoh! Bodoh!

Aduh... rasanya minyak wijen ini bakal jadi trauma bagiku. Aku punya firasat barang ini bakal muncul di mimpi burukku malam ini.

Sekarang wajahku pasti sudah merah padam sampai ke telinga karena malu. Kalau bisa, aku tidak mau Ootsuki-kun melihat wajahku yang seperti ini. Aku memalingkan wajah agar dia tidak curiga.

"Wah, bisa beli minyak wijen seharga 78 yen... dalam sisa hidupku, entah berapa kali lagi aku bisa menemui momen seperti ini. Mungkin 80 tahun lagi baru ada harga semurah ini," gumam Ootsuki-kun kagum.

"Minyak wijen 78 yen itu memang semurah itu, ya?"

Apa diskon minyak wijen itu munculnya sesekali kayak komet lewat? Masa sih? Aku berpura-pura menatap rak barang sambil terus membelakangi Ootsuki-kun agar bisa mengobrol.

"Harga ini sudah termasuk keajaiban. Saya yakin botol ini akan memenangkan penghargaan Good of Sesame Oil Award tahun ini."

"Good of Sesame Oil... Pfft, apaan sih, nggak jelas banget."

Aku tidak tahan untuk tidak tertawa mendengar candaannya. Ternyata Ootsuki-kun bisa melawak juga. Karena penasaran dengan ekspresinya, aku meliriknya sedikit lewat sudut mataku.

Di sana, Ootsuki-kun tampak tersenyum lebar dengan mata berbinar-binar. Entah kenapa, sosoknya saat ini terlihat tumpang tindih dengan Ryouta yang sedang kegirangan tanpa beban. Ootsuki-kun saat ini benar-benar memancarkan aura kebahagiaan yang meledak-ledak. Dan itu... sangat imut.

Melihat senyum polos Ootsuki-kun yang biasanya selalu terlihat dewasa, aku tanpa sadar ikut tersenyum. ...Eh, tapi memanggil teman sekelas laki-laki dengan sebutan "imut" itu kan agak tidak sopan. Ootsuki-kun pasti tidak nyaman kalau tahu perempuan seumurannya menganggapnya imut. Aku buru-buru menekan perasaan itu kembali ke dalam hati.

"Ngomong-ngomong, Toujou-san sedang beli apa di sini?"

"Eh? Ah, aku disuruh Mama beli wasabi."

"Cuma wasabi?"

"Iya."

"Kalau cuma itu, harusnya bilang saja saat saya datang nanti, biar saya yang belikan sekalian," ucap Ootsuki-kun. Aku menggelengkan kepala.

"Papa yang minta. Katanya hari ini dia ingin Ootsuki-kun fokus memasak makan malam saja."

"...? Apa ada permintaan khusus untuk menu malam ini?"

"Iya. Sebenarnya Papa hari ini sedang pergi memancing, dan katanya dia ingin Ootsuki-kun yang mengolah ikan hasil tangkapannya."

Papa memang sesekali pergi memancing sebagai hobi. Tapi biasanya, karena malas menyiangi ikan di rumah, dia sering memberikan hasil tangkapannya pada teman-teman memancingnya. Namun kali ini, karena ada Ootsuki-kun, Papa semangat sekali dan berniat membawa pulang semua ikan hasil tangkapannya.

"Ootsuki-kun bisa menyiangi ikan, kan?"

Papa saking semangatnya sampai lupa memastikan hal itu. Kalau sampai ternyata Ootsuki-kun tidak bisa menyiangi ikan, ini bakal jadi bencana besar. Yah, meskipun aku yakin dia pasti bisa, tapi kan ada juga orang yang geli memegang ikan. Siapa tahu Ootsuki-kun tipe begitu.

Ootsuki-kun yang panik melihat ikan yang melompat-lompat di atas talenan... hm, imut juga. Rasanya ingin lihat sekali-sekali.

"Begitu ya. Tergantung jenis ikannya juga sih, tapi sepertinya saya paham cara dasar menyiangi ikan, jadi harusnya tidak ada masalah. Ngomong-ngomong, apa Anda tahu ikan apa saja yang ditangkap?"

"Ah, iya. Tunggu sebentar, sepertinya tertulis di chat Papa."

Aku tersentak sadar bahwa barusan aku senyum-senyum sendiri karena berimajinasi yang tidak-tidak. Dengan panik, aku segera memasang wajah serius dan mengoperasikan smartphone-ku untuk membuka riwayat obrolan dengan Papa.

"Eeeh... katanya dia dapat ikan Buri (Ikan Ekor Kuning), Kakap, dan... ini bacanya apa ya?"

Aku memiringkan kepala menatap kanji yang tidak kukenal. Kanji ikan () ditambah kanji musim semi (). Hmm, rasanya aku pernah lihat, tapi di mana ya? Saat aku sedang kebingungan, Ootsuki-kun yang berada di sampingku bersuara.

"Boleh saya lihat layarnya sebentar?"

"Iya, silakan."

Begitu aku mengiyakan, Ootsuki-kun mendekat ke arahku. Ia sedikit menjulurkan lehernya untuk mengintip ke layar ponsel yang kupegang.

"Ah... ini namanya Sawara (Ikan Tenggiri Jepang)."

"Ooh, kanji ikan dan musim semi itu bacanya Sawara ya."

"Ikan ini biasanya mendekat ke pesisir untuk bertelur saat musim semi, jadi sering terlihat di waktu itu. Makanya orang zaman dulu menyebutnya sebagai ikan pembawa kabar musim semi, dan kanjinya pun menjadi (Sawara)," jelas Ootsuki-kun.

"Begitu ya. Ikan pembawa kabar musim semi... kedengarannya manis sekali."

Dalam benakku, aku membayangkan sesosok ikan dengan desain fantasi yang lucu, sedang berenang dengan anggun di lautan yang dipenuhi kelopak bunga sakura yang berguguran.

"Tapi ikan ini punya gigi yang sangat tajam dan sering sekali menggigit putus kail pancingan, makanya para pemancing sering menyebutnya Sawara Cutter (Pemotong Sawara)," tambah Ootsuki-kun sambil tertawa "Hahaha".

Mendengar penjelasannya, citra Sawara dalam kepalaku langsung berubah drastis—dari ikan cantik yang lucu menjadi monster laut ganas yang mirip piranha.

"Jangan-jangan Sawara itu ikan yang menyeramkan?"

"Yah, memang termasuk ikan karnivora besar, sih. Tapi rasanya sangat enak. Dimakan sebagai sashimi tentu enak, tapi dipanggang dengan bumbu Saikyo-yaki juga luar biasa. Karena dagingnya lembut, teksturnya akan terasa lumer di mulut dengan rasa gurih yang bikin ketagihan."

"Wah, Ootsuki-kun tahu banyak hal ya."

Sambil berkata begitu, aku menoleh ke arah Ootsuki-kun yang berada tepat di sampingku. Dan sedetik kemudian, aku buru-buru memalingkan wajah kembali ke layar ponsel.

De-dekat banget! Wajah Ootsuki-kun ada tepat di sampingku!!

Karena kami sedang mengintip layar ponsel yang sama, wajah kami berada dalam jarak yang sangat dekat. Du-duh, bagaimana ini...

Tapi kalau aku buru-buru menjauh sekarang, Ootsuki-kun malah akan mengira aku terlalu sadar akan kehadirannya... Apa Ootsuki-kun sendiri tidak merasa aneh dengan jarak sedekat ini?

Saat ini, bahu kami hampir bersentuhan. Kami benar-benar sudah masuk ke dalam zona personal masing-masing.

Kali ini, aku mencoba melirik pelan ke arahnya secara sembunyi-sembunyi agar tidak ketahuan. Ah... ternyata bulu mata Ootsuki-kun lumayan panjang, ya. Entahlah, saat menatap wajahnya dari dekat begini, ada perasaan aneh seolah aku sedang tersedot ke dalamnya...

"Ngomong-ngomong, apa di rumah Toujou-san ada gas burner (alat pemantik api/obor dapur)?"

"---?! A-ah, eh? Gas burner? Hmm, bagaimana ya? Sepertinya tidak ada."

Aaah, aku kaget sekali! Jantungku rasanya hampir copot karena dia tiba-tiba menoleh dan mengajakku bicara tepat saat aku sedang asyik memandangi wajahnya dari samping.

"Apa alat itu diperlukan untuk menyiangi ikan?" tanyaku sambil sedikit merasa waswas, takut ketahuan kalau tadi aku sedang mencuri pandang.

"Sawara panggang yang bagian kulitnya dibakar sedikit (aburi) itu rasanya juara."

"O-oh, begitu ya."

Sepertinya aman. Dia tidak menyadari kalau aku tadi sedang memperhatikan profil wajahnya.

"Kebetulan di sebelah supermarket ini ada home center (toko perkakas), jadi saya akan mampir ke sana sebentar untuk membeli gas burner."

"Ah, soal itu. Apa boleh aku ikut?"

Gawat! Aku refleks bilang ingin ikut!

"Ke home center?"

"Iya, aku... aku belum pernah pergi ke toko seperti itu..."

Itulah alasan yang keluar dari mulutku, tapi sebenarnya, alasan asliku berbeda.

Sebenarnya, aku hanya ingin menghabiskan waktu sedikit lebih lama dengan Ootsuki-kun. Aku ingin tahu seperti apa sosoknya saat sedang tidak bekerja paruh waktu.

Berpikir seperti itu... apakah itu artinya aku benar-benar... pada Ootsuki-kun...

Nggak, tunggu! Masih terlalu dini untuk mengambil kesimpulan. Mungkin aku cuma ingin akrab sebagai teman biasa, atau mungkin aku cuma sedang merasa senang karena ini pertama kalinya aku bisa berinteraksi normal dengan lawan jenis.

Memang sih, kalau mengingat interaksiku dengan Ootsuki-kun sejauh ini, ada momen-momen yang membuat jantungku berdebar. Tapi, aku masih belum yakin kalau ini benar-benar jatuh cinta...

...Eh, tunggu sebentar.

Kalau dipikir-pikir, saat tadi aku salah paham mengira Ootsuki-kun sedang menyatakan cinta, lalu dia bilang "Tolong bantu aku membeli minyak wijen", bukankah aku menjawab "Iya, mohon bantuannya juga"?

Itu artinya... seandainya waktu itu Ootsuki-kun benar-benar menembakku, berarti aku baru saja menerima lamarannya?!

Eh? Benarkah begitu? Bagaimana ini? Aduh, bagaimana ini?!

Aku benar-benar... tidak tahu! Aku tidak mengerti lagi perasaanku sendiri! Hatiku sedang kacau balau seperti diterjang badai, tapi di depanku, Ootsuki-kun malah tersenyum tanpa rasa berdosa.

"Kalau begitu, mari kita pergi ke Home Center bersama," ajak Ootsuki-kun.

"I-iya. Mohon bantuannya."

Karena perasaanku belum menentu, aku tidak berani menatap wajah Ootsuki-kun dan hanya menjawab dengan suara kecil sambil menunduk.

Berkat bantuan Ayaka, Haruto sukses mengamankan dua botol minyak wijen incarannya.

Setelah membeli barang-barang yang semula menjadi tujuannya—miso dan natto—serta wasabi pesanan Ayaka, keduanya pergi ke kasir dan mulai memasukkan barang belanjaan ke dalam tas.

"Ini, Ootsuki-kun. Minyak wijennya," ucap Ayaka menyerahkan botol tersebut.

"Terima kasih banyak. Ini benar-benar sangat membantu," jawab Haruto sambil membungkuk kecil, lalu memasukkan botol tersebut ke dalam tas belajanya (eco-bag).

"Ootsuki-kun, tas belanja itu... lucu banget ya."

"Eh? Ah... ini sebenarnya tas yang biasa dipakai nenek saya," jawab Haruto dengan raut wajah sedikit malu.

"Oh, begitu ya. Pantas saja, tas itu memang agak terlalu imut untuk dipakai Ootsuki-kun."

Ayaka kembali melirik ke arah tas belanja Haruto. Tas itu terbuat dari kain berwarna merah muda pucat dengan bordiran beruang yang sangat menggemaskan. Untuk ukuran remaja laki-laki SMA, desainnya memang terlalu kekanak-kanakan—atau lebih tepatnya, terlalu manis. Singkat kata, desain itu terlihat sangat kontras dan lucu saat dibawa oleh Haruto.

"Yah, menurut saya pun desain ini terlalu imut bahkan untuk nenek saya. Tapi beliau memang sangat suka barang-barang seperti ini," tambah Haruto dengan senyum kecut.

Ayaka tersenyum lembut mendengarnya. "Menurutku bagus, kok. Neneknya Ootsuki-kun imut banget."

"Ahaha, terima kasih."

Setelah selesai mengemas barang, mereka berdua menuju Home Center yang terletak tepat di sebelah supermarket untuk membeli gas burner.

"Wah, ternyata di Home Center ada banyak barang yang tidak terduga ya," gumam Ayaka. Karena jarang berkunjung ke tempat seperti ini, ia menoleh ke sana kemari dengan rasa penasaran yang besar.

"Tadinya aku pikir di sini cuma jual alat kebun atau perkakas tukang kayu saja, ternyata ada alat elektronik sampai bahan makanan juga ya."

"Toko perkakas zaman sekarang koleksi barangnya memang lengkap. Ada peralatan dapur, bahkan kita bisa memesan renovasi dapur di sini," jelas Haruto.

"Hebat ya. Eh! Itu area hewan peliharaan!"

Begitu melihat anak anjing di dalam kandang kaca dari kejauhan, Ayaka langsung berlari kecil menuju ke sana. Namun, ia tiba-tiba berhenti dan menoleh kembali ke arah Haruto dengan wajah yang sedikit tersipu.

"Ah... kan tujuan kita ke sini untuk beli gas burner ya?" ucap Ayaka, mencoba menahan diri agar tidak egois.

"Eh, tidak apa-apa... mau lihat-lihat sebentar?"

"Boleh?"

"Iya, tidak masalah."

"Yess!" seru Ayaka kegirangan.

 

Ayaka berlari dengan wajah gembira menuju tempat anak anjing itu berada. Menatap punggung gadis itu, Haruto hanya bisa tersenyum kecut.

"Kalau dia minta begitu, mana bisa kutolak..."

Haruto bergumam pelan, hampir tak terdengar oleh orang di sekitarnya.

Ia merogoh ponsel dari sakunya untuk mengecek waktu. Waktu menuju jam kerjanya tidak bisa dibilang sangat longgar, tapi masih cukup jika hanya untuk mampir sebentar. Haruto berdiri di belakang Ayaka yang sedang berjongkok menatap anak anjing di balik kaca, dan ikut mengamati hewan kecil tersebut.

"Lucunyaaa~ Ah! Dia ke sini!"

"Ini anak anjing jenis Pomeranian ya," ucap Haruto sambil membaca papan informasi yang tertempel di kandang.

"Badannya benar-benar berbulu halus (mofu-mofu), kecil, dan imut banget!"

Ayaka mendekatkan wajahnya ke kaca hingga hidungnya hampir bersentuhan, matanya berbinar-binar. Melihat tingkah Ayaka, Haruto tanpa sadar ikut tersenyum. Namun, saat iseng mengecek label harga anak anjing itu, Haruto langsung memalingkan wajah perlahan setelah selesai menghitung jumlah angka nol di belakangnya.

"Ootsuki-kun! Lihat, lihat! Telapak kakinya (paw) imut banget~ Wah!"

Anak anjing Pomeranian itu mengangkat kaki depannya ke kaca kandang, lalu berputar-putar di tempat, dan kembali menempelkan kakinya ke kaca. Melihat tingkah menggemaskan itu, Ayaka tampak benar-benar terpesona. Ia bahkan mengeluarkan suara-suara kecil karena terlalu gemas.

Memang benar, anak anjing itu sangat kecil dan berbulu lebat, terlihat seperti gumpalan bulu yang sedang melompat-lompat. Namun, di mata Haruto, pemandangan gadis di depannya jauh lebih imut daripada anak anjing tersebut.

"Toujou-san, kamu suka anjing ya?"

"Iya! Rasanya aneh kalau ada orang yang nggak suka makhluk seimut ini," jawab Ayaka tanpa mengalihkan pandangan dari si anak anjing.

Haruto pun tak bisa melepaskan pandangannya dari Ayaka. Kombinasi antara "gadis cantik" dan "hewan kecil" memiliki daya hancur yang luar biasa. Itu adalah serangan critical hit bagi setiap remaja laki-laki—bahkan bagi seluruh pria di dunia.

"Sepertinya bakal menyenangkan ya kalau pergi ke kebun binatang (petting zoo) bareng Toujou-san," gumam Haruto tanpa sadar.

Haruto berpikir, jika ia melihat Ayaka berinteraksi dengan hewan sepanjang hari, itu akan menjadi asupan visual yang terlalu indah. Mungkin ketajaman matanya bisa meningkat drastis setara suku Masai setelah melihat pemandangan seindah itu. Namun, tepat setelah Haruto bergumam begitu, Ayaka yang sedari tadi menempel di kaca tiba-tiba memalingkan wajah dan menatap Haruto dengan cepat.

"Aku juga mau pergi ke kebun binatang!" seru Ayaka.

"...Eh?"

".........Ah, tidak, maksudku..."

Haruto mengeluarkan suara kebingungan. Melihat reaksi Haruto, Ayaka tampak tersentak sadar, dan dalam sekejap wajahnya berubah menjadi merah padam.

Haruto pun mulai menyadari apa yang baru saja ia katakan. Kalimatnya tadi, tergantung bagaimana cara mendengarnya, bisa dianggap sebagai ajakan kencan ke kebun binatang.

Sebenarnya Haruto sama sekali tidak berniat begitu, namun tanpa sengaja ia baru saja melontarkan ajakan kencan. Dan yang lebih tak terduga lagi, Ayaka mengiyakannya.

Haruto berusaha mati-matian menenangkan jantungnya yang mulai berpacu sambil mencari kata-kata untuk memperbaiki situasi. Namun, Ayaka lebih dulu membuka suara dengan nada ragu-ragu.

"M-maksudku... kebun binatang itu... Ryouta sangat suka! Iya, Ryouta suka banget! Tapi... orang tuaku sibuk kerja jadi jarang bisa mengajaknya. Kalau aku sendirian yang membawa Ryouta, aku... sedikit khawatir. Lagipula, kalau ada Ootsuki-kun... Ryouta pasti bakal senang banget..."

Ayaka bicara dengan mata yang melirik ke sana kemari, memberikan alasan yang terdengar sangat dipaksakan. Namun, Haruto segera "menumpang" pada alasan bernama Ryouta tersebut seperti menemukan pelampung di tengah laut.

"A-ah, iya benar! Ryouta-kun sepertinya memang bakal suka kebun binatang ya."

"I-iya, benar. Makanya itu..."

Ayaka terdiam di tengah kalimatnya. Setelah merasakan keheningan yang sedikit canggung selama beberapa saat, Haruto akhirnya memberanikan diri membuka mulut.

"Kalau begitu... bagaimana kalau kapan-kapan kita pergi? Ke kebun binatang... bertiga, bersama Ryouta-kun."

"I-iya! Ber-tiga bersama Ryouta."

Ekspresi Ayaka saat itu sungguh sulit dilukiskan; ada rasa malu, rasa senang, sekaligus sedikit rasa kecewa yang terselip. Melihat wajah yang begitu kompleks namun sangat menawan itu, Haruto tidak sanggup menatapnya lama-lama dan segera memalingkan wajah.

"E-eh, be-benar juga. Kita harus beli gas burner."

"I-iya, benar. Harus beli gas burner."

Ayaka mengangguk berkali-kali menanggapi kata-kata Haruto yang terdengar sangat dibuat-buat.

Setelah itu, suasana di antara mereka berdua dilingkupi keheningan total hingga mereka selesai membeli alat tersebut dan keluar dari toko. Beberapa kali mata mereka sempat beradu, namun setiap kali itu pula wajah mereka memerah dan mereka refleks memalingkan pandangan.

Saat tiba di perbatasan area toko sebelum menempuh jalan pulang masing-masing, mereka saling berhadapan sekali lagi, lalu membuang muka lagi.

"Anu, kalau begitu... saya pulang ke rumah dulu sebentar. Nanti saya akan datang lagi ke rumah Anda."

"I-iya."

"Lalu... soal rencana ke kebun binatang..."

"Ah! Iya!" Ayaka bereaksi berlebihan begitu mendengar kata "kebun binatang".

"Bagaimana kalau nanti... kita diskusikan lagi soal jadwalnya?"

"Benar... iya. Mari kita lakukan itu."

"Kalau begitu... sampai nanti."

"Iya, sampai nanti. Sampai jumpa lagi."

Haruto dan Ayaka saling bertukar kata, lalu berbalik punggung dan mulai berjalan menuju rumah masing-masing.

Setelah berjalan beberapa saat, Haruto merasa ragu sejenak, lalu mencoba menoleh ke belakang. Ternyata, di saat yang bersamaan, Ayaka pun sedang menoleh. Pandangan mereka pun bertemu di kejauhan.

"---?!"

Jantung Haruto berdegup kencang, namun ia berusaha memberikan anggukan kecil sebagai salam. Ayaka membalasnya dengan lambaian tangan kecil sambil tersenyum malu-malu. Haruto merasakan wajahnya memanas, lalu ia segera berbalik dan berjalan cepat ke depan.

"...Barusan itu curang banget, tahu," gumam Haruto sendirian, mati-matian menahan senyum yang hampir merekah di wajahnya.

Ia menggelengkan kepala kuat-kuat untuk menghapus pikirannya. "Tapi kan Ryouta-kun ikut, jadi ini bukan kencan, kan?"

Haruto mencoba menenangkan perasaannya sendiri agar tidak salah paham dan berujung pada bencana profesional. Ia mencoba mengingat kembali percakapannya dengan Ayaka tadi.

Ayaka dengan mata berbinar melihat anak anjing. Ayaka yang penuh harap saat bicara soal kebun binatang. Ayaka yang tersenyum malu saat mata mereka bertemu. Semua bayangan itu terpampang dengan sangat menawan di mata Haruto.

"......Gue beneran baru saja bikin janji kencan sama Toujou-san?" gumamnya tak percaya. "Cantiknya juga kira-kira dong..."

Sebelum ia bekerja sebagai pengurus rumah tangga, dalam benak Haruto, sosok Ayaka Toujou adalah gadis yang selalu dikelilingi teman-teman perempuan dan tidak tertarik sedikit pun pada laki-laki. Namun setelah mengenalnya, gadis itu ternyata bisa tersenyum dan tersipu di hadapannya. Bahkan, meski adiknya ikut, mereka sudah berjanji untuk pergi ke kebun binatang bersama.

"Bisa nggak ya gue tetep kerja profesional setelah ini...?"

Selama ini, bagi Haruto, Ayaka Toujou hanyalah "Idola Sekolah" yang jauh di atas awan. Namun setelah berinteraksi langsung, ia menyadari bahwa Ayaka hanyalah gadis biasa yang memiliki sisi sangat menggemaskan. Kata-kata Tomoya tadi pagi kembali terngiang di kepalanya.

'Jadi, meskipun Toujou-san menyatakan perasaannya ke lo, lo nggak bakal ngapa-ngapain?'

Haruto datang ke rumah keluarga Toujou murni untuk bekerja. Ia tidak boleh membawa niat terselubung atau nafsu pribadi ke dalam pekerjaannya. Namun, senyuman Ayaka terus-menerus mengacaukan isi kepalanya.

"Gue... jadi sadar banget soal dia, kan."

Ia menyadari adanya celah (gap) antara sosok "Idola Sekolah" di sekolah dan sosok "Gadis Biasa" yang ia temui saat bekerja. Meskipun hatinya mulai goyah, Haruto memilih untuk tidak memikirkannya terlalu dalam untuk saat ini.

"Pokoknya hari ini, gue fokus buat nyiangi ikan saja."

Haruto melanjutkan langkah kakinya pulang sambil menyusun rencana di kepala mengenai cara mengolah ikan hasil pancingan Shuichi.

Setelah sampai di rumah dan mempersiapkan segala sesuatunya, Haruto kembali mengunjungi kediaman keluarga Toujou—tempat yang kini mulai terasa tidak asing lagi baginya.

Haruto menekan tombol interkom di depan gerbang rumah mewah yang megah itu. Tak lama kemudian, suara balasan terdengar.

"Halo~? Ootsuki-kun?"

"Iya, ini Ootsuki. Saya datang untuk tugas pengurus rumah tangga."

"Kami sudah menunggumu~! Ryouta, Kakak sudah datang! Tolong bukakan pintunya! Ah, Ootsuki-kun, tunggu sebentar ya, Ryouta sedang membukakan kunci."

"Baik, terima kasih."

Hampir bersamaan dengan ucapan terima kasih Haruto, pintu depan terbuka lebar dengan penuh semangat.

"Abang!"

"Halo, Ryouta-kun. Selamat siang."

"Selamat siang! Ayo cepat, Bang! Ikannya luar biasa banyak!"

Ryouta yang sedang dalam kondisi semangat tinggi berseru dengan antusias. Ia segera meraih tangan Haruto dan menariknya paksa menuju ruang tengah.

"Selamat datang, Ootsuki-kun."

Begitu memasuki ruang tengah, Ikue (Mama Ayaka) segera berdiri dari sofa dan menyapa Haruto dengan senyum ramah.

"Mohon bantuannya hari ini."

"Ya! Ootsuki-kun! Senang sekali kamu datang!"

Menyusul setelahnya, Shuichi (Papa Ayaka) menyambut Haruto dengan hangat. Di dekat kakinya, terletak sebuah kotak pendingin (cooler box) berukuran sangat besar. Haruto menatap kotak itu dan berkata:

"Saya sudah dengar dari Toujou-san... eh, dari Ayaka-san. Katanya Shuichi-san berhasil menangkap Buri, Kakap, dan Sawara."

Mendengar hal itu, wajah Shuichi langsung berubah cerah seolah berkata "Ini dia yang aku tunggu-tunggu!", dan ia mulai bercerita dengan menggebu-gebu.

"Benar sekali! Aku punya kenalan bisnis yang hobinya memancing dengan kapal sewa. Tadi aku ikut kapalnya, dan wah... hari ini benar-benar keberuntungan besar! Waktu Buri ini memakan umpan, awalnya aku pikir kailku tersangkut karang! Aku gulung senarnya sekuat tenaga tapi dia tidak bergerak sedikit pun! Begitu akhirnya tinggal dua puluh meter lagi, dia mengamuk lagi dan menarik rem gulungan (drag) dengan kencang. Itu benar-benar pertarungan hidup dan mati! Aku butuh waktu lima belas menit, tidak, sekitar tiga puluh menit untuk menaikkan Buri ini—"

"Sayang? Kalau ceritanya terlalu panjang, nanti ikan-ikan segar ini malah jadi tidak segar lagi, lho?"

Shuichi yang matanya berbinar-binar saat menceritakan perjuangannya melawan ikan Buri tiba-tiba harus terhenti karena dipotong oleh Ikue.

"Hmm, benar juga ya. Sayang sekali kalau ikan seger segar ini dibiarkan lama. Ootsuki-kun, tolong segera disiangi ya."

"Baik, serahkan pada saya."

Haruto mengangguk sambil tersenyum kecut melihat Shuichi yang tampak sedikit kecewa karena ceritanya diputus.

"Tapi ini ukuran ikannya benar-benar luar biasa ya. Ikan kakap yang ini ukurannya pas untuk rasa yang paling enak, kan?" ujar Haruto sambil melirik ke dalam kotak. Seketika, Shuichi kembali beraksi.

"Kakap itu juga hebat! Awalnya gulungannya terasa ringan dan senarnya sedikit kendur! Begitu aku merasa ada yang aneh, aku langsung menarik jorannya! Dan kena! Ikannya mengamuk hebat tapi aku berhasil menariknya tanpa lepas—"

"Sayang?"

"Ah, iya... hmm. Ootsuki-kun, tolong bantu masakannya, ya?"

Sekali lagi dipotong oleh Ikue, Shuichi kini tampak benar-benar lesu.

"Mari kita bawa kotak ini ke dapur sekarang."

Haruto merasa sedikit kasihan pada Shuichi yang sangat ingin memamerkan ceritanya, namun ia tetap memprioritaskan kesegaran ikan. Saat mencoba mengangkat pegangan kotak tersebut, Haruto sedikit meringis karena beratnya di luar dugaan.

"Biar aku bantu sisi satunya."

"Ah, terima kasih. Sangat membantu."

Ukuran Buri itu hampir 70 cm, Sawara sekitar 60 cm, dan Kakap sekitar 40-50 cm. Ditambah dengan bongkahan es di dalamnya, kotak itu mustahil bisa diangkat dengan santai oleh satu orang sendirian.

Haruto bersama Shuichi menggotong kotak pendingin itu ke dapur. "Terima kasih, Pak. Sangat membantu. Kalau begitu, saya akan segera mulai menyianginya. Apa ada permintaan khusus untuk masakannya?"

Tepat saat Haruto bertanya, pintu ruang tengah terbuka dan Ayaka melangkah masuk.

"Ah, Ootsuki-kun. Sudah sampai ya. Itu... selamat datang."

"Ah, iya. Eh... mohon bantuannya."

Keduanya, yang masih terbayang-bayang kejadian di home center tadi, saling bertukar salam dengan canggung. Ikue, yang menyadari perubahan sikap mereka, menatap putrinya dengan tatapan geli.

"A-apa lihat-lihat?" tanya Ayaka sedikit gelisah karena ditatapi ibunya.

"Ootsuki-kun sebentar lagi mau membuatkan masakan yang penuh dengan cinta, lho. Ayaka mau makan apa?" goda Ikue.

"A-apaan sih, cinta-cintaan segala... Mana aku tahu!" jawab Ayaka dengan wajah merona.

Ikue tampak sangat menikmati hal ini, ia lalu beralih menatap Haruto. "Aku tahu, kok! Iya kan, Ootsuki-kun? Masakanmu itu sangat enak karena selain kamu memang jago, kamu juga memasukkkan banyak cinta ke dalamnya, kan?"

"Eh? Ah, iya. Itu... saya mengerjakannya dengan sepenuh hati dan ketulusan," jawab Haruto kaku.

"Lihat kan! Ootsuki-kun memasak dengan sepenuh hati demi Ayaka, lho?"

"Bukan begitu, Bu... maksud saya bukan cuma buat Ayaka-san, tapi untuk semua orang..."

"Aduh! Ootsuki-kun ini manis sekali, ya!"

"Anu..." Haruto hanya bisa tersenyum kecut, menyadari bahwa orang paling berbahaya (terkuat) di rumah keluarga Toujou adalah Ikue.

"Abang, Abang. Aku mau makan sashimi!" Ryouta menyela, memberikan jalan keluar bagi Haruto dari godaan Ikue. Haruto segera berjongkok untuk menyamakan tinggi badannya dengan Ryouta.

"Oke. Abang buatkan sashimi dari tiga jenis ikan ini ya."

"Horeee!" seru Ryouta riang. Shuichi mengangguk setuju. "Ikan sesegar ini memang paling pas dimakan sebagai sashimi. Bagaimanapun juga, kita ini orang Jepang!"

"Baiklah. Kalau begitu, menu makan malam hari ini adalah Otsukuri (Sashimi Premium) dari Buri, Kakap, dan Sawara. Apa Ikue-san dan Ayaka-san setuju?"

"Tentu saja!" jawab Ikue. "Aku juga mau makan sashimi," tambah Ayaka.

Setelah mendapat persetujuan dari seluruh anggota keluarga, Haruto segera bersiap. Shuichi kemudian datang ke dapur membawa kantong belanja plastik.

"Ngomong-ngomong, Ootsuki-kun. Karena dari awal aku memang ingin kamu membuat sashimi, aku sudah belikan beberapa alat dan sayuran yang mungkin berguna."

"Wah, benarkah? Boleh saya lihat isinya?"

Haruto memeriksa isi kantong tersebut. Di dalamnya terdapat alat pengikis sisik (urokokaki) dan alat parut khusus (shredder) untuk membuat hiasan lobak (tsuma). Selain itu, ada sayuran seperti wortel, lobak, mentimun, hingga daun shiso sebagai pelengkap estetik.

"Terima kasih, Shuichi-san. Dengan ini, sajian sashiminya akan terlihat lebih cantik."

Saat Haruto berterima kasih, Ikue tertawa kecil sambil meledek suaminya. "Dia ini, sudah beli macam-macam, tapi malah lupa beli barang yang paling penting: wasabi."

"Ahahaha, aduh... memalukan sekali," ucap Shuichi sambil menggaruk bagian belakang kepalanya.

Mendengar itu, Haruto akhirnya paham alasan mengapa Ayaka rela pergi ke supermarket sendirian hanya untuk membeli wasabi. Rasa penasarannya pun terjawab dengan tuntas.

"Baiklah, saya mulai menyiangi sekarang."

Haruto memulai dengan memegang ekor ikan Buri, meletakkannya di atas talenan, lalu mulai membuang sisiknya di bawah kucuran air. Setelah semua sisik bersih, ia memotong kepala, membuang insang, membuka perut untuk mengeluarkan jeroan, lalu mulai membelah dagingnya menjadi tiga bagian (sanmai-oroshi).

Melihat ikan Buri itu terbelah dengan sempurna dalam waktu singkat, Shuichi berseru kagum.

"Benar-benar cekatan. Melihatnya saja sudah terasa sangat memuaskan."

 

"Terima kasih banyak. Saya sendiri jarang sekali menyiangi ikan sebesar ini, jadi tadi sempat agak waswas. Tapi berkat pisau ini, mengerjakannya jadi terasa sangat mudah," ucap Haruto sambil mengangkat sedikit pisau Deba di tangannya.

Pisau Deba yang ia gunakan adalah milik keluarga Toujou. Di pangkal matanya terukir sebuah nama, menandakan bahwa itu adalah pisau kelas atas yang sangat mahal. Ketajamannya luar biasa; bahkan untuk ikan Buri yang bertubuh besar dan bertulang keras sekalipun, Haruto bisa membelahnya tanpa kesulitan berarti.

Setelah selesai membelah semua ikan menjadi tiga bagian (sanmai-oroshi), Haruto mulai membersihkan tulang tengah, menyayat bagian lemak perut, dan merapikannya agar mudah disantap.

"Hebat sekali ya. Rasanya aku juga ingin belajar cara menyiangi ikan dari Ootsuki-kun," ujar Ikue sambil duduk di meja makan dan mengintip ke arah dapur.

"Kalau Ibu tidak keberatan, dengan senang hati saya akan ajarkan," jawab Haruto sambil mulai menguliti daging ikan yang sudah difillet.

"Wah, benarkah? Kalau begitu kapan-kapan ajari aku, ya. Ayaka, kamu mau ikut sekalian? Ini akan sangat berguna lho saat nanti kamu harus menyajikan ikan untuk suamimu di masa depan."

"Eh? Enggak, aku..."

Melihat Ayaka yang tampak bimbang, Ikue memasang senyum penuh arti. "Kenapa? Kamu tidak mau? Ah, tapi kalau suamimu orang seperti Ootsuki-kun, sepertinya tidak akan ada masalah, kan?"

"Tunggu! Mama! Ngomong apa sih di depan Ootsuki-kun!?"

Wajah Ayaka seketika memerah padam akibat serangan mendadak ibunya. Namun, Ikue menanggapi protes putrinya dengan santai.

"Lho, Mama kan cuma bilang 'orang seperti Ootsuki-kun'?"

Ayaka memajukan bibirnya dengan kesal karena kejahilan ibunya. Sambil bergumam pelan "Mama jahat", ia menunjukkan sikap merajuk. Namun, Ikue justru tertawa geli dan kembali bicara pada Haruto.

"Ootsuki-kun, maaf ya kalau putriku ini suka salah paham. Ayaka memang agak polos (tennen), jadi mohon bantuannya untuk terus akrab dengannya, ya."

"Ahahaha, iya, mohon bantuannya juga," jawab Haruto sambil terus bekerja. Ia melirik sekilas ke arah Ayaka yang sedang memancarkan aura "Aku sedang marah" sebagai protes pada ibunya. Haruto memilih memberikan jawaban aman sambil tertawa canggung. Sepertinya protes Ayaka sama sekali tidak mempan bagi ibunya.

Tiba-tiba, Shuichi yang sejak tadi terdiam sambil memegang dagunya, membuka suara dengan nada yang sangat serius.

"Begitu ya... kalau Ayaka menikah dengan Ootsuki-kun, berarti Ootsuki-kun akan jadi menantuku. Dengan kata lain, dia akan jadi putraku... Hmm, masuk akal juga. Tapi, melepaskan putriku yang manis untuk menikah itu..."

Shuichi mulai bergumam sendirian, tenggelam dalam dunianya sendiri sambil meratapi dilema antara ingin menantu hebat atau tetap menjaga putrinya. Mendengar gumaman ayahnya yang sangat mengejutkan itu, Ayaka langsung berhenti merajuk pada ibunya dan menoleh tajam ke arah Shuichi.

"Papa, tunggu sebentar!? Jangan berimajinasi yang aneh-aneh sendirian!!"

Berbeda dengan Ikue yang jelas-jelas sedang menggoda, pernyataan Shuichi terdengar sangat serius, yang membuat Ayaka benar-benar panik. Ia segera mencoba menarik ayahnya kembali dari "lautan pemikiran" tersebut. Namun, tepat di saat itu, sebuah serangan tak terduga datang dari sosok yang paling murni.

"Abang, Abang mau menikah sama Kakak?" tanya Ryouta polos.

"Uwek!? Eh? Enggak, itu..." Haruto nyaris tersedak ludahnya sendiri.

"Ryouta! Ootsuki-kun lagi pegang pisau, jangan bicara yang bikin dia hilang konsentrasi! Bahaya tahu!"

Ayaka segera menarik Ryouta menjauh dari sisi Haruto. Namun, Ryouta yang tampaknya sedang membayangkan Haruto menjadi kakaknya yang sungguhan, menatap mereka berdua dengan mata berbinar penuh harap.

"Tapi kalau Kakak sama Abang nikah, berarti Abang bakal jadi abangku beneran, kan?"

Melihat tatapan Ryouta yang begitu tulus, Ayaka tidak sanggup membalasnya dan terpaksa memalingkan muka.

"Ma-mana mungkin kami menikah! Kami kan masih anak SMA!"

"Aduh, aduh, berarti nanti setelah lulus SMA baru menikah, ya?" timpal Ikue lagi.

"Sudah! Mama diam saja!!" teriak Ayaka frustrasi.

Selama beberapa saat setelah itu, debat mengenai "menikah atau tidak" terus berterbangan di kediaman Toujou. Haruto, yang menyadari bahwa ikut campur dalam percakapan kacau itu hanya akan "membangunkan macan tidur", memilih untuk menutup telinga dan fokus sepenuhnya pada ikan di depannya.

Setelah menyelesaikan semua persiapan, Haruto mengangkat piring besar berisi mahakarya Otsukuri-nya.

"Anu... ini, piring sashiminya sudah selesai..."

Haruto membawa piring itu ke meja makan dengan ragu. Selama ia fokus memasak, situasi keluarga Toujou sudah mencapai level kekacauan maksimal. Shuichi sedang berpikir keras dengan wajah serius, Ryouta terus mendesak kakaknya soal pernikahan dengan polosnya, Ayaka membantah semuanya dengan wajah merah padam, dan Ikue menikmati pemandangan itu sambil sesekali mengompori suasana.

Haruto menyela dengan sangat sopan dan hati-hati.

"Lalu... saya juga membuat Ara-jiru (sup kepala ikan) dari Buri. Silakan dinikmati bersama."

[POV: Ayaka Toujou]

Begitu kembali ke kamar, aku langsung terjun ke atas tempat tidur.

"Aaah... capeknya..." Aku mengembuskan napas panjang sambil melemaskan seluruh tubuh di atas kasur. "Padahal Ootsuki-kun sudah masak secantik itu, tapi aku sama sekali tidak sempat menikmatinya..."

Papa memancing ikan sehebat itu, dan Ootsuki-kun mengolahnya menjadi susunan sashimi yang sangat indah, tapi gara-gara Papa, Mama, dan Ryouta yang mendadak "liar", aku jadi tidak punya ruang untuk menikmati makanannya. Padahal dia juga sudah membuatkan Sawara Aburi (tenggiri bakar) menggunakan gas burner yang kami beli di home center tadi. Semuanya terasa sia-sia karena aku terlalu sibuk mengurus mereka.

"Benar juga, soal janji pergi ke kebun binatang sama Ootsuki-kun... bagaimana ini?"

Janji yang kami buat di home center tadi... sebenarnya aku ingin membicarakannya saat Ootsuki-kun sedang bekerja tadi, tapi situasinya tidak memungkinkan. Aku terlalu sibuk menghentikan kegilaan keluargaku sampai tanpa sadar waktu kontraknya habis, dan akhirnya Ootsuki-kun pulang tanpa kami sempat bicara serius soal itu.

"Tapi, kalau tadi aku bilang mau pergi ke kebun binatang bareng dia di depan mereka, situasinya pasti bakal jadi sepuluh kali lipat lebih parah..."

Mama pasti akan menggodaku dengan senyum licik itu. Oke, itu masih bisa kutahan. Ryouta pasti akan sangat senang, itu tidak masalah. Tapi masalah terbesarnya adalah Papa.

Papa sudah benar-benar jatuh cinta pada kinerja Ootsuki-kun. Mama memang menyukainya, tapi Papa... Papa sepertinya sudah serius menganggap Ootsuki-kun sebagai calon menantu. Tadi saja sambil makan, Papa semangat sekali mengajak Ootsuki-kun pergi memancing bareng kapan-kapan.

"Aaah! Sudah! Aku kan masih anak SMA!!"

Aku berteriak sambil membenamkan wajahku ke bantal. Memikirkan soal pernikahan atau menantu itu masih terlalu dini! Yah, memang sih... punya suami yang baik dan jago urusan rumah tangga seperti Ootsuki-kun itu adalah impian, tapi...

"Eh, bukan begitu maksudku, Ayaka!"

Aku menggeleng-gelengkan kepala dengan cepat untuk mengatur ulang pikiranku. Rasanya penilaian keluargaku terhadap Ootsuki-kun sudah terlalu tinggi, seolah-olah semua jalan keluarku sudah ditutup rapat. Namun, masalahnya bukan hanya itu.

Justru, masalah yang paling serius adalah perasaanku sendiri.

Sebelum musim panas dimulai... aku sudah lupa namanya, tapi ada kakak kelas (Senpai) yang memanggilku lewat pengeras suara sekolah untuk melamar. Saat itu, aku hanya merasa malu dan ingin segera kabur dari sana. Bagiku, menikah itu tidak terbayangkan, dan bertunangan saat masih SMA itu gila.

Tapi... kalau dengan Ootsuki-kun...

Saat Papa menyebutnya sebagai menantu, saat Ryouta bertanya soal pernikahan, aku... secara tidak sengaja sempat membayangkannya. Aku bisa melihat gambaran itu di kepalaku. Hidup bersama Ootsuki-kun di bawah atap yang sama.

Benar, yang paling gawat bukanlah kegilaan keluargaku. Melainkan perasaanku sendiri. Bahwa saat Mama menggodaku, saat Ryouta ingin dia jadi kakak sungguhan, dan saat Papa sangat menyukainya...

Di lubuk hatiku yang terdalam, aku merasa sangat senang melihat Ootsuki-kun diterima dengan begitu baik oleh keluargaku.

"Aku harus konsultasi sama Saki."

Aku mengambil smartphone-ku dan membuka riwayat obrolan dengan sahabatku. Sekarang baru jam sepuluh malam lewat sedikit, Saki pasti masih bangun. Aku menekan tombol panggilan dan menatap nama Aizawa Saki di layar. Panggilan itu langsung tersambung dalam hitungan detik.

"Nyan?" sapa Saki di seberang sana.

"Saki... anu... aku mau konsultasi sedikit..."

"Oho? Ada apa nih? Masalah cinta ya?"

Mendengar Saki bertanya dengan nada bercanda seperti itu, aku merasakan detak jantungku sedikit bertambah cepat.

"...Mungkin."

"---Hah? Eh? Bo-bohong? Seriusan?!" Bersamaan dengan suara Saki yang panik, terdengar bunyi Gubrak! Pracakk! yang sangat keras dari seberang telepon.

"Eh? Saki?! Kamu nggak apa-apa?"

"Nggak apa-apa gimana maksudmu?! Ayaka mau konsultasi soal cinta! Ini gila!"

"Tenang dulu, ya? Tarik napas dulu..."

"Gimana mau tenang! Nggak bisa tenang sama sekali! Jangan-jangan ini soal Kaito-senpai? Kamu kepikiran soal lamarannya yang waktu itu?"

Padahal sudah malam, tapi suara Saki melengking tinggi karena saking semangatnya. Kaito-senpai? Siapa itu? Hmm... oh, maksudnya kakak kelas yang waktu itu menembakku lewat pengeras suara sekolah sebelum liburan musim panas ya?

"Bukan, sama sekali nggak ada hubungannya sama dia."

"Ooh, bukan? Terus siapa? Siapa cowok yang berhasil mencuri hati Ayaka-ku?!"

"Anu, belum bisa dibilang mencuri hati juga, sih..."

Benar, aku seharusnya belum jatuh cinta padanya... mungkin.

"Itu lho... Saki kan pernah bilang sebelumnya?"

"Hah? Aku? Pernah bilang apa?"

"Itu lho, yang katanya... aku punya kecocokan yang bagus sama seseorang..."

Aku merasa sangat malu sampai tidak berani menyebutkan namanya, aku hanya bisa merona merah sendirian sambil memilin ujung baju.

"Hee? Kecocokan... Oh, maksudmu Ootsuki-kun?"

Mendengar namanya disebut lewat smartphone, jantungku langsung berdegup kencang. Tokun!

"Iya."

"Wuaaa! Seriusan?! ...Eh? Tapi tunggu sebentar? Sekarang kan lagi libur musim panas? Kok bisa kamu ada kemajuan sama Ootsuki-kun?"

"Itu... ya, ada banyak hal yang terjadi."

"Eh? Penasaran banget! Aku penasaran banget sama "banyak hal" itu!"

Melihat Saki yang sangat antusias, aku pun menceritakan awal mula pertemuanku dengan Ootsuki-kun sebagai pengurus rumah tangga. Seketika, suara Saki meledak lewat speaker ponselku sampai-sampai suaranya pecah saking kencangnya.

"Apa-apaan! Itu mah keren banget! Persis kayak manga romantis di dunia nyata! Mana ada kebetulan kayak gitu? Nggak mungkin lah! Itu namanya takdir! Lagian spek Ootsuki-kun tinggi banget! Gila, gokil!"

"Masakan Ootsuki-kun beneran enak banget, lho."

"Ohoho, apaan nih? Sudah mulai pamer ya?"

"Bu-bukan begitu! Aku mau konsultasi sama kamu!"

"Konsultasi? Gimana cara nembak dia?"

Kata-kata sahabatku itu membuat wajahku merah padam sampai ke telinga. Rasanya tubuhku mendadak sangat panas, dan ini pasti bukan karena efek habis mandi.

"Bukan soal nembak! Aku... aku cuma mau tahu perasaanku yang sebenarnya itu bagaimana... Anu, apakah aku benar-benar suka sama Ootsuki-kun atau nggak... aku sudah nggak paham lagi sama diriku sendiri. Makanya aku mau tanya pendapatmu."

Setelah aku mengatakan itu, Saki mendadak diam. Tidak ada reaksi sama sekali. Hah? Jangan-jangan dia tertidur?

Saking lamanya dia diam, aku benar-benar mengira dia tidur. Akhirnya Saki kembali bicara. Syukurlah dia masih bangun.

"Yah, wajar sih. Ayaka kan selama ini selalu menjauhi laki-laki. Kamu mau jatuh cinta tapi nggak pernah bisa. Jadi kalau sekarang bingung sama perasaan sendiri, ya wajar saja," ucap Saki seolah baru saja mencapai pencerahan.

Entah kenapa aku merasa dia sangat mengasihaniku... apa itu cuma perasaanku saja? Dengan tidak sabar aku bertanya lagi.

"Maksudnya bagaimana? Perasaan seperti apa?"

"Hmm, kalau cuma lewat telepon rasanya sayang banget. Besok kita ketemu?"

"Eh? Sayang banget? Besok aku bisa sih... Tapi masa nggak bisa kasih tahu sekarang?"

Aku merasa Saki sengaja membuatku penasaran.

"Besok aku bakal kasih waktu sebanyak mungkin buat dengerin curhatanmu. Jam sebelas di tempat biasa, ya?"

"Eh, tun---"

"Pokoknya besok ya! Dadah!"

"...di kafe itu, oke?"

"I-iya, boleh saja, tapi... Hei, kasih tahu sekarang dong! Apa sih yang aku nggak tahu?"

"Eh, hah? Saki?! ...Malah diputus."

Aku menatapi layar smartphone-ku yang kembali ke menu riwayat obrolan, bingung apakah harus menelepon balik atau tidak. Tapi mengingat sifat Saki, dia pasti hanya akan berkelit dan memberiku jawaban yang tidak jelas.

Mengingat sifat sahabatku yang sudah kukenal sejak lama itu, akhirnya aku menyerah dan meletakkan ponsel di samping bantal.

"Apa ya... yang aku nggak tahu?"

Sambil menatap langit-langit kamar, aku terus memikirkan kata-kata Saki tanpa henti sampai akhirnya fajar mulai menyingsing.

Cahaya matahari pagi yang menyelinap dari balik gorden membuatku terpaksa memalingkan wajah dan berbalik posisi.

"Uuuugh... ngantuk banget..."

Aku mengecek jam di ponselku.

"Jam tujuh... aku harus bangun..."

Tadi malam, setelah telepon dengan Saki, pikiranku malah jadi segar dan tidak bisa tidur. Aku baru terlelap saat langit sudah mulai terang, jadi bisa dibilang aku hampir tidak tidur sama sekali. Tapi, karena ada janji temu dengan Saki, aku harus segera bersiap-siap.

Aku memaksa tubuhku untuk duduk di tempat tidur, yang langsung dibalas oleh tubuhku dengan sebuah uapan besar. Rasanya kasur ini memiliki kekuatan magnet yang luar biasa kuat untuk menarikku kembali. Dengan tekad baja, aku menyeret kakiku menuju wastafel.

Setelah membasuh muka dengan air dingin, rasa kantukku sedikit berkurang. Aku mengeringkan wajah dengan handuk yang tergantung di samping wastafel, lalu menatap bayanganku di cermin.

"Mataku bengkak karena kurang tidur... Aku nggak mau Ootsuki-kun melihat wajahku yang berantakan begini..."

Setelah bergumam pelan dengan otak yang masih setengah sadar, aku baru menyadari apa yang baru saja kukatakan dan langsung merona merah.

Aku segera memalingkan wajah dari cermin yang memantulkan wajah merahku sendiri, lalu turun ke ruang tengah di lantai satu.

"Ara? Selamat pagi, Ayaka. Tumben kamu bangun pagi," sapa Mama.

"Pagi, Ma."

Mama sudah ada di sana, sedang menyiapkan sarapan di dapur.

"Hari ini aku ada janji ketemu Saki, jam sepuluh aku harus sudah berangkat."

"Oh, sama Saki-chan? Ngomong-ngomong, Mama sudah lama tidak bertemu dengannya."

"Iya, kan rumahnya sekarang jadi jauh."

Sebelum Saki pindah rumah, dia sering main ke sini, jadi tentu saja Mama mengenalnya dengan baik.

"Sampaikan salam Mama buat Saki-chan, ya."

"Iya, nanti kusampaikan," jawabku sambil duduk di kursi meja makan.

"Mama sudah mau berangkat kerja?"

Mama sudah tampil rapi dengan setelan jas, sudah masuk ke mode kerja. Sepertinya Papa juga sudah berangkat lebih awal.

"Iya, hari ini Mama ada pekerjaan dari pagi-pagi sekali. Sebelum kamu ketemu Saki-chan, bisa tolong antar Ryouta ke TK dulu?"

"Iya, bisa kok."

Meskipun sekolah Ryouta sedang libur musim panas, jika kedua orang tua kami sibuk bekerja sejak pagi, Ryouta biasanya akan dititipkan di layanan penitipan anak di sekolahnya.

"Kamu mau sarapan sekarang?" tanya Mama.

"Hmm, iya deh."

"Oke, tunggu sebentar ya, Mama siapkan."

Sekitar sepuluh menit kemudian, sarapan sudah tersaji di atas meja. Aku sedikit terperangah melihat menu sarapan hari ini.

"Eh? Kok sarapannya mewah banget? Kayak sarapan di restoran Jepang (Ryotei) saja."

"Bagus, kan? Ini semua Ootsuki-kun yang menyiapkannya kemarin sebagai stok makanan (tsukurioki). Karena Mama harus berangkat pagi-pagi sekali hari ini, ini benar-benar sangat membantu," ucap Mama dengan nada riang.

Eh? Kapan Ootsuki-kun sempat menyiapkan ini semua? Aku sama sekali tidak sadar.

Sambil aku menatap sarapan itu dengan bengong, Mama menjelaskan menunya satu per satu.

"Ini Nasi Kakap (Taimeshi). Lalu yang ini Tenggiri Panggang Saikyo (Sawara no Saikyo-yaki) dan Ikan Buri Rebus bumbu kecap (Buri no Nitsuke). Terus ada salad bayam dan wortel dengan saus tahu (Shira-ae), dan yang terakhir Sup Bening Kakap (Taimeshi no Sumashi-jiru)."

"Hebat..."

Apa-apaan sarapan ini? Apa aku sedang berada di penginapan mewah (Ryokan)? Rasa kantukku langsung terbang seketika. Sambil menahan rasa takjub, aku mengucapkan "Selamat makan" dan mulai mencicipinya.

"...Enak banget."

Taimeshi (nasi kakap) itu memiliki kaldu yang sangat meresap. Aroma kecap asin dan jahenya tercium lembut, sementara di lidah, rasa manis dari daging ikan kakapnya menyebar perlahan. Sawara no Saikyo-yaki (tenggiri panggang miso) juga memiliki tekstur yang lumer dengan perpaduan rasa manis-asin yang pas. Lemak ikannya terasa sangat gurih sampai-sampai aku tersenyum tanpa sadar. Duh, bagaimana ini, sumpitku tidak bisa berhenti menyuap nasi.

"Fufu, lihat deh Ayaka, wajahmu kelihatan bahagia banget," goda Mama.

"Habisnya, ini enak banget, Ma."

"Iya ya. Kita harus berterima kasih pada Ootsuki-kun."

Mendengar kata-kata Mama, aku sempat merasa waswas kalau-kalau dia akan mulai menggodaku lagi seperti kemarin. Tapi ternyata tidak. Mama justru menatapku dengan tatapan yang sangat lembut. Entah kenapa, aku merasa sedikit malu diperhatikan seperti itu.

"Ayaka."

"......Apa?"

"Masa muda itu hanya terjadi sekali seumur hidup. Ia akan berlalu dalam sekejap. Tapi, itu adalah masa yang paling menyenangkan, paling menyesakkan, penuh kebimbangan, sekaligus penuh kegembiraan. Karena ini masa yang sangat berharga, hiduplah sepenuhnya di masa 'sekarang'. Apa yang kamu rasakan saat ini, suatu saat nanti pasti akan menjadi harta karun yang sangat berharga bagimu."

".........Iya."

Mama benar-benar curang. Biasanya dia selalu menyeringai dan meledekku, tapi sesekali dia menunjukkan sisi 'Ibu' seperti ini. Kalau dia bersikap begini, aku sebagai 'anak perempuan' kan jadi merasa sangat senang.

"Sup beningnya enak banget ya, Ma."

"Iya, enak sekali."

Aku menikmati masakan buatan Ootsuki-kun yang terasa lembut dan hangat itu bersama Mama.

Setelah mengantar Ryouta ke penitipan anak di TK, aku menuju kafe tempatku berjanji temu dengan Saki. Kafe itu terletak di kawasan perumahan yang tenang, agak jauh dari jalan raya utama, dengan suasana yang sangat santai. Begitu aku membuka pintu, suara denting lonceng terdengar merdu.

"Selamat datang."

Sang pemilik kafe yang sedang mengelap gelas di konter membawakanku segelas air putih setelah aku duduk.

"Apakah Anda sudah siap memesan?"

"Iya, tolong satu es kafe au lait."

"Baik, segera kami siapkan."

Pemilik kafe itu membungkuk sopan lalu kembali ke konter. Suasana dalam kafe sangat tenang dengan musik jazz sebagai latar belakang yang diputar lirih. Karena lokasinya agak tersembunyi, pelanggan yang datang tidak banyak; selain aku hanya ada dua orang lainnya.

Hmm, Saki belum datang ya.

Sebenarnya ini adalah kafe favoritku, dan biasanya aku ingin menikmati waktu dengan santai di sini. Tapi hari ini, aku sama sekali tidak bisa tenang. Aku terus-menerus melirik jam dinding di kafe, merasa gelisah menunggu sahabatku itu datang. Pikiranku dipenuhi oleh kata-kata Saki semalam. Aku ingin segera mendengar penjelasannya.

Aduh! Sejak tadi waktunya rasanya tidak jalan-jalan! Tadi pas aku lihat jam masih pukul 10.40, tapi pas aku lihat lagi sekarang masih pukul 10.41? Apa jamnya rusak ya?

Aku mengecek waktu di smartphone-ku sendiri. 10.41... ah, baru jadi 10.42. Uuugh, satu menit saja terasa sangat lama. Saki, cepatlah datang!

Setelah melewati menit-menit yang terasa paling lama dalam hidupku, akhirnya sosok sahabatku itu muncul di pintu masuk kafe.

"Ah, yaho~ Ayaka. Maaf ya, sudah nunggu lama?"

"Lama banget! Aku sudah nunggu lebih dari sepuluh menit!"

"Oke, oke, masih dalam batas toleransi lah ya~"

Saki mengabaikan keluhanku dengan santai dan duduk di depanku. Sekarang pukul 10.50. Karena dia datang sepuluh menit lebih awal dari waktu perjanjian, aku tidak bisa protes lebih keras lagi. Aku pun langsung bertanya tanpa sabar.

"Dengar ya Saki. Soal yang semalam itu, aku—"

"Sabar, sabar! Tunggu dulu wahai domba kecil yang tersesat. Biarkan aku memesan dulu."

"Ah, iya. Maaf."

"Hmm, Ayaka pesan apa? Oke, aku pesan yang sama saja~"

Setelah memesan es kafe au lait pada pemilik kafe yang datang di saat yang tepat, Saki meminum air putihnya seteguk.

"Uuu~! Aku ingin dengar secepatnya, tapi Saki malah sengaja membuatku tidak sabar!"

Saki yang baru saja meminum air putihnya sambil bergumam, "Fuhiii~ rasanya seperti hidup kembali," langsung menatapku dan menutupi mulutnya dengan tangan sambil menahan tawa saat melihat wajahku.

"Aduh, Ayaka. Muka macam apa itu?"

"Abisnya... Saki sengaja membuatku penasaran."

Wajar saja kan kalau pipiku menggembung dan bibirku mengerucut kalau diperlakukan begitu.

"Dasar anak imut! Oke! Kalau begitu, Saki-sama akan segera memberikan konsultasi untukmu!"

"Jadi Saki, 'perasaan itu' yang kamu bicarakan semalam itu apa? Apa yang tidak aku ketahui?"

Aku langsung melontarkan pertanyaan yang terus berputar-putar di kepalaku sejak semalam. Tapi, Saki malah tertawa seolah hal ini sangat lucu. Padahal aku sedang galau setengah mati...

"Ahahaha! Langsung ke intinya ya. Tebakanku benar kan, Ayaka pasti tidak bisa tidur semalam?"

"Tentu saja! Kalau teleponnya diputus tiba-tiba begitu, siapa yang tidak bakal kepikiran!?"

"Maaf deh. Tapi kan hal penting begini lebih enak kalau dibicarakan langsung sambil bertemu?"

"Itu... yah, ada benarnya juga sih..." jawabku pasrah sambil mengangguk.

"Oke, sekarang kita masuk ke topik utama," ucap Saki dengan ekspresi yang sedikit lebih serius. Ia menatap mataku lekat-lekat.

Duh, bagaimana ini. Padahal aku ingin sekali mendengarnya, tapi saat momennya tiba, rasanya aku ingin menutup telinga atau melarikan diri saja...

"Pertama, mari kita konfirmasi faktanya. Ootsuki-kun mulai datang ke rumahmu sebagai pengurus rumah tangga, kan?"

"Iya."

"Lalu, Ryouta, Mama Ikue, dan Papa Shuichi semuanya menyukai Ootsuki-kun."

"Iya."

"Dan belakangan ini, Ayaka mulai merasa kepikiran soal Ootsuki-kun."

"U... iya..."

Rasanya sangat memalukan saat hal itu diucapkan dengan kata-kata. Aku yakin wajahku pasti merah padam lagi sekarang.

"Jadi, intinya Ayaka mulai merasa penasaran dan tertarik padanya, tapi kamu bingung apakah itu 'perasaan cinta' atau sesuatu yang lain. Itu yang ingin kamu tahu, kan?"

"Cinta... yah, bisa dibilang... begitu."

Cinta... benar juga. Kalau aku sampai menyukai Ootsuki-kun, itu artinya... aku sedang jatuh cinta, kan? Bagaimana ini, jantungku berdegup kencang dan dadaku terasa sedikit sesak...

Melihat tingkahku, Saki bertanya lagi dengan nada bicara yang pelan.

"Ayaka, menurutmu sendiri, apa yang sebenarnya kamu rasakan?"

"Itu dia yang aku tidak tahu, makanya aku tanya ke kamu..."

"Begitu ya. Hmm, kalau begitu..." Saki sedikit mendongak ke atas seolah sedang berpikir, lalu tiba-tiba ia menatapku dengan ekspresi sedikit jahil.

"Begini saja... Coba kenalkan Ootsuki-kun padaku."

Begitu mendengar kata-kata Saki, hatiku langsung terguncang hebat.

"Eh?! ...Ke-kenapa?"

Apa? Bohong, kan? Kenapa? Kenapa Saki juga... ingin bertemu Ootsuki-kun? Apa Saki juga... suka padanya?

"Ka-kamu cuma bercanda, kan? Iya, kan Saki?"

"Nggak, aku serius. Jadi, pas nanti Ootsuki-kun datang ke rumahmu, aku boleh ikut main ke sana, kan?"

"...Nggak boleh."

Kata-kata itu keluar begitu saja dari mulutku bahkan sebelum aku sempat berpikir. Membayangkan Saki mengobrol dengan akrab bersama Ootsuki-kun membuat dadaku terasa sakit dan sesak—sebuah perasaan yang belum pernah kurasakan seumur hidupku.

Aku belum pernah merasakan hal seperti ini sebelumnya...

Ootsuki-kun yang sedang bekerja sebagai pengurus rumah tangga adalah sosok yang hanya aku yang tahu. Diketahui oleh orang lain—meskipun itu sahabatku sendiri—rasanya... aku benar-benar tidak suka.

"Nggak boleh?" tanya Saki tanpa ampun.

"I-iya... Nggak boleh. Pokoknya nggak boleh."

Saki itu kan cantik. Berbeda denganku, dia bisa berinteraksi dengan laki-laki secara normal, dia pandai bicara dan menyenangkan. Kalau dia sampai akrab dengan Ootsuki-kun, Ootsuki-kun pasti akan tertarik padanya.

Kalau itu terjadi... kalau itu sampai terjadi, Ootsuki-kun akan...

"Diambil orang."

"Eh?"

Aku tersentak mendengar kata-kata yang baru saja diucapkan Saki.

"Barusan Ayaka berpikir begitu, kan? Takut Ootsuki-kun diambil olehku?"

"Nggak... aku nggak... yah, mungkin... aku sempat berpikir begitu."

 

"Bukankah memang begitu jalannya?"

Mendengar jawaban Saki yang seolah-olah hal itu sangat lumrah, aku mencoba menenangkan diri sejenak dengan meminum sedikit air putih.

"Tapi... aku kan hampir tidak tahu apa-apa soal Ootsuki-kun. Kenapa aku bisa langsung suka?"

Selama ini di sekolah kami sama sekali tidak pernah berinteraksi. Apa mungkin seseorang bisa langsung jatuh cinta hanya karena dia datang ke rumah sebagai pengurus rumah tangga?

"Justru karena kamu belum tahu, makanya kamu jatuh cinta, kan?"

"Eh? Maksudnya bagaimana?"

"Karena kamu belum tahu, makanya kamu ingin tahu lebih banyak. Lalu, saat kamu menemukan sisi barunya, kamu jadi makin suka. Dan akhirnya, kamu ingin tahu lebih banyak dan lebih banyak lagi. Bukankah cinta memang seperti itu?"

Mengetahui sisi yang belum diketahui, lalu menjadi semakin suka...

Mendengar kata-kata Saki, aku tiba-tiba teringat kejadian kemarin. Memang benar, saat tidak sengaja bertemu Ootsuki-kun di supermarket, aku merasa senyum polosnya itu sangat memikat. Aku merasa sangat tertarik melihat sosok Ootsuki-kun di luar pekerjaannya sebagai pengurus rumah tangga.

"Jadi... cinta itu seperti itu ya..."

"Oho? Sepertinya sudah ada kejadian yang terpikirkan nih?"

"U-um, iya..."

"Fufufu~ asyik ya~ masa muda memang indah~"

Melihat Saki yang terus-menerus menggodaku sambil menyeringai, aku tidak tahan dan terpaksa memalingkan wajah.

"Maaf menunggu lama. Ini es kafe au lait-nya."

Di saat yang tepat, sang pemilik kafe membawakan pesanan kami. Aku segera meminum es kafe au lait itu lewat sedotan. Rasa pahit yang dingin dari kafe au lait itu seolah sedikit mendinginkan tubuhku yang sedang terasa panas dan membantuku untuk lebih tenang.

Dengan kepala yang sedikit lebih dingin, mari kucoba merapikan obrolanku dengan Saki sejauh ini.

Pertama, aku... menyukai Ootsuki-kun. Ini adalah fakta yang sudah tidak bisa kuhindari lagi. Rasanya aku harus benar-benar menghadapi perasaan ini.

Tapi, ada satu hal yang membuatku merasa sedikit kurang puas. Yaitu tentang pemicu kenapa aku bisa menyukai Ootsuki-kun. Saki memang bilang jangan mengandalkan manga atau novel, tapi tetap saja aku tidak bisa membuang impianku begitu saja.

Kalau dibilang insiden satu roda itu pemicunya, rasanya kok agak sedikit berbeda. Dan kalau mendengar penjelasan Saki barusan, sepertinya aku sudah mulai menyukai Ootsuki-kun bahkan sebelum itu...

Dalam bayanganku, pemicu jatuh cinta yang ideal itu seperti: dipinjami payung saat kesulitan karena hujan tiba-tiba, atau dia datang menyelamatkanku dengan gagah saat aku diganggu preman, atau ternyata cowok yang aku taksir itu adalah teman masa kecil yang dulu aku sukai... tapi aku tidak punya teman masa kecil laki-laki, jadi itu mustahil sih. Tapi tetap saja, sebagai perempuan, wajar kan kalau aku mendambakan situasi seperti itu? Karena... aku kan perempuan.

"Saki, kamu dulu kan pernah punya pacar, kan?"

"Iya."

"Pemicunya apa? Seperti apa kejadiannya dulu?"

"Hmm, pemicu ya... seperti apa ya? Seingatku..."

"Seingatmu?" Aku menatap Saki lekat-lekat, menunggu jawabannya.

"Yah, begitu saja?"

"Be-begitu saja...?"

Melihatku yang kecewa karena tidak mendapatkan jawaban yang diharapkan, Saki hanya bisa tersenyum kecut.

"Kenyataan memang seperti itu, tahu. Awalnya cuma mikir 'boleh juga nih orang', lalu tanpa sadar matamu mulai mengikutinya, tanpa sadar kamu jadi terus-terusan memikirkannya, dan akhirnya sadar kalau kamu sudah suka. Rasanya seperti itu. Aku sendiri tidak tahu pasti apa pemicu utamanya."

"Begitu... ya."

Tapi benar juga sih, kenyataan memang berbeda dengan manga atau novel. Tidak semua orang bisa mengalami cinta yang dramatis dan romantis.

Saat aku mencoba meyakinkan diriku sendiri seperti itu, Saki berkata padaku dengan nada sedikit heran.

"Dengar ya? Ayaka, kamu ini terlalu terobsesi soal pemicu jatuh cinta ke Ootsuki-kun, padahal... pemicunya kan sudah ada?"

Sudah ada pemicunya? Apa pernah terjadi sesuatu? Kejadian yang membuatku jatuh cinta pada Ootsuki-kun?

"Eh?"

"Eh? Ya ampun... Ayaka, kamu ini kadang-kadang benar-benar ponkotsu (lemot/ceroboh) ya. Yah, tapi di situlah letak keimutanmu yang bikin orang nggak bisa membiarkanmu sendirian sih."

"Lem-lemot?! Kamu kasar banget sih!"

Aku tidak se-lemot (ponkotsu) itu! ...Setidaknya, aku ingin berpikir begitu. Kadang Mama atau teman-teman lain bilang aku ini "polos" (tennen), tapi kalau dibilang lemot... aku rasa tidak!

"Kamu itu lemot. Buktinya, ada pemicu sehebat itu antara kamu dan Ootsuki-kun, tapi kamu malah melupakannya," serang Saki.

"Pemicu hebat? Tidak ada hal semacam itu, kok."

"Ada, tahu! 'Memesan layanan jasa kebersihan, yang datang malah cowok spek dewa tersembunyi dari kelas yang sama'. Itu pemicu yang tingkat keajaibannya luar biasa!"

Seketika, sebuah guncangan hebat melanda batinku.

"Kalau dilihat dari premisnya saja, itu sudah persis judul komedi romantis, kan?"

Be-benar juga! Kalau seandainya ada buku dengan judul seperti itu berjejer di rak bukuku, aku pasti tidak akan merasa aneh sama sekali.

"Sudah sadar, Ayaka-san? Atau kamu masih butuh pemicu yang lebih kuat lagi dari ini?"

"Ti-tidak... ini sudah lebih dari cukup."

Aduh, aku sudah tidak bisa beralasan lagi... Aku benar-benar jatuh cinta pada Ootsuki-kun.

"Aku... ternyata sedang jatuh cinta ya."

"Akhirnya menyerah juga ya, Tuan Putri."

"Habisnya... aku sudah tidak punya alasan lagi untuk membantahnya."

Mungkin, sejak awal aku memang sudah tertarik padanya. Mungkin itu adalah cinta pandangan pertama. Aku, yang selama ini selalu menolak cowok-cowok yang bilang jatuh cinta pada pandangan pertama kepadaku... Aku, yang dulu berpikir bahwa cinta pandangan pertama itu tidak masuk akal...

"Hei Saki. Sekarang aku... harus bagaimana?"

Ini adalah cinta pertamaku. Cinta pertama. Aku sama sekali tidak tahu apa yang harus kulakukan.

"A-apa sebaiknya aku... menembaknya (kokuhaku)?"

Baru membayangkannya saja, jantungku rasanya mau melompat keluar dari mulut karena gugup. Rasanya aku bisa mati karena serangan jantung akibat cinta. Apa cowok-cowok yang selama ini menembakku juga merasa segugup ini? Kalau benar begitu, aku merasa sedikit bersalah karena langsung menolak mereka tanpa pikir panjang.

Namun, saat aku sedang memikirkan soal menyatakan cinta pada Ootsuki-kun, Saki langsung memberikan tanda berhenti.

"Jangan terburu-buru, Ayaka. Belum saatnya untuk menembaknya."

"Eh? Belum... boleh?"

Bukannya kalau sudah menyadari perasaan ini, pilihannya tinggal menyatakannya saja? Saat aku sedang berpikiran begitu, Saki memberikan nasihat seperti seorang ahli.

"Menyatakan cinta itu adalah garis finish sementara. Kamu harus melewati beberapa tahap dulu sebelum sampai ke sana."

"Tahap? Seperti apa?"

"Pokoknya, untuk memperpendek jarak kalian lebih dari sekarang, kamu harus mengajaknya kencan."

Kencan... bersama Ootsuki-kun... Itu berarti pergi berdua ke taman bermain, atau belanja ke mal, atau pergi ke pantai... Tu-tunggu! Apa aku harus memperlihatkan diriku yang memakai baju renang di depan Ootsuki-kun?!

Bagaimana ini, membayangkannya saja sudah sangat memalukan! Tapi... aku juga ingin melihat Ootsuki-kun memakai baju renang...

"Ooooi, Ayaka. Senyum mesam-mesemmu itu bocor ke mana-mana, lho~"

"Haukh?! I-ini... itu... maksudku..."

"Apa nih~? Jangan-jangan kamu sedang membayangkan hal-hal yang agak 'nakal' ya?"

"---?! Ma-mana mungkin aku berpikir begitu!"

Aku membantah kata-kata Saki dengan segenap kekuatanku. Aku kan cuma berpikir kalau pergi ke pantai bersama Ootsuki-kun itu sepertinya asyik, dan tidak ada niat mesum sama sekali. Lagi pula kalau di pantai, wajar kan kalau memakai baju renang, dan kalau itu masuk ke pandanganku, itu kan di luar kendaliku...

"Hmm? Masa sih~?"

"A-apa?! Aku benar-benar tidak memikirkan hal aneh kok!"

Saki terus menatapku dengan mata penuh curiga. Aku harus segera mengalihkan pembicaraan.

"O-oh iya! Ngomong-ngomong soal kencan, aku... sebenarnya sudah membuat janji untuk pergi ke kebun binatang bersama Ootsuki-kun."

Mendengar itu, Saki sedikit tersentak dari kursinya dengan ekspresi sangat terkejut.

"Hah?! Apa?! Kamu sudah bergerak secepat itu sampai dapat janji kencan?!"

"Eh... tapi secara teknis ini bukan kencan sih. Alasannya untuk menemani Ryouta... ya, seperti itulah..."

"Begitu ya, Ryouta ikut ya..." Saki memegang dagunya, tampak sedang berpikir keras. "Itu memang membuat tingkat kesulitan ajakannya turun, tapi ada kemungkinan Ootsuki-kun tidak menganggapnya sebagai kencan. Kapan kalian rencananya pergi ke kebun binatang?"

"Belum, sih. Kami baru bilang bakal diskusi soal jadwalnya nanti," jawabku.

"Begitu ya... Kalau begitu, diskusi jadwal itu bisa kamu jadikan alasan..."

Saki kembali tenggelam dalam pikirannya. Berbeda denganku, Saki sudah beberapa kali punya pengalaman dalam percintaan. Sepertinya lebih baik aku diam dan menunggu instruksi dari sang "Senpai" ini.

Setelah menunggu beberapa puluh detik dalam diam, Saki sepertinya sudah mendapatkan ide. Ia mengeluarkan selembar kertas mirip kupon dari tasnya dan menatapku.

"Sebagai sahabatmu, aku akan memberikan Senjata Rahasia Cinta untuk Ayaka."

"Senjata Rahasia Cinta?"

Benda yang diberikan Saki adalah dua lembar tiket. Ini... kupon diskon bioskop?

"Gunakan ini untuk mengajak Ootsuki-kun nonton film."

"Eh? Lang-langsung kencan nonton film?!"

"Kenapa kaget? Kamu kan sudah janji mau ke kebun binatang, kan?"

"I-iya, sih."

"Nah, sambil mendiskusikan jadwal ke kebun binatang itu, ajak dia sekalian: 'Gimana kalau kita sekalian nonton ini?'. Begitu caranya!"

"E-eh... tapi..." Bukankah itu tantangan yang cukup berat? Apa aku sanggup mengajaknya dengan benar?

Melihatku yang agak ragu, Saki memberikan peringatan dengan nada serius.

"Ayaka. Kamu itu masih berada di garis start dalam percintaan. Tidak, mungkin kamu bahkan belum berdiri di sana."

"Eh? Be-begitu ya?"

"Iya. Cinta itu adalah kompetisi. Kompetisi yang sangat-sangat ketat. Kadang kamu bahkan bisa menyesal karena ikut serta di dalamnya."

"Kedengarannya... menyeramkan ya."

"Memang. Tapi, kalau kamu sudah jatuh cinta, kamu tidak akan bisa menahan dirimu sendiri. Tanpa sadar matamu akan terus mencarinya, satu sapaan di pagi hari bisa membuat harimu bersinar, dan di hari kalian tidak bertemu, kamu hanya akan memikirkannya saja. Kamu tidak akan bisa menghentikannya dengan keinginanmu sendiri. Segalanya terjadi begitu saja."

Kata-kata Saki bergema dalam hatiku.

Bagaimana dengan diriku? Aku memang suka pada Ootsuki-kun, tapi... apakah perasaanku sudah sedalam itu? Ataukah suatu saat nanti akan menjadi sedalam itu? Saki bilang aku bahkan belum berdiri di garis start... cinta itu memang menakutkan ya. Tapi, sedikit... tidak, sebenarnya aku merasa cukup bersemangat.

"Aku... aku akan mencoba mengajaknya nonton," ucapku sambil menatap tiket diskon pemberian Saki.

"Sip, semangat!" Saki memberiku seringai lebar.

"Hei, Saki... kamu bakal mau bantu aku lagi kalau aku butuh konsultasi, kan?"

"Tentu saja! Sebenarnya aku juga senang sekali bisa curhat soal cinta (koi-bana) begini sama Ayaka."

Melihat jawaban sahabatku yang bisa diandalkan itu, wajahku pun ikut melembut.

"Ayaka, kamu kan selama ini selalu menjauhi cowok karena banyak alasan. Tapi, melihatmu sekarang punya orang yang kamu sukai... aku benar-benar merasa senang dari lubuk hatiku yang paling dalam."

"......Iya. Terima kasih, Saki."

Bagiku, Saki adalah sahabat yang tak tergantikan. Aku benar-benar bersyukur punya teman sepertinya.

"Aku akan berjuang!"

"Bagus! Semangat, semangat! Aku bakal mendukungmu dengan kekuatan penuh!"

Saki membalas deklarasi semangatku dengan senyum lebar.

"Nah, sekarang kasih tahu dong, Ayaka paling suka bagian apa dari Ootsuki-kun?"

"E-eh, itu... anu..."

Setelah itu, aku lupa waktu dan tenggelam dalam obrolan cinta pertama kalinya dengan sahabatku.

Dalam perjalanan pulang dari kafe.

Sambil berjalan menyusuri jalan menuju rumah, aku mendongak menatap langit. Langit musim panas yang biru cerah membentang tanpa awan, seolah mencerminkan perasaanku saat ini.

Aku... sedang jatuh cinta!

Setelah menyadarinya, rasanya seolah-olah duniaku berubah total. Segala sesuatu yang kulihat tampak bersinar, sampai-sampai aku merasa hidupku yang sebelumnya terlihat pudar. Hatiku kini dipenuhi oleh warna-warna yang cerah.

Debaran jantung ini, dan perasaan yang meluap-luap ini, rasanya terus meluas seperti langit musim panas di atasku. Aku menatap dua lembar tiket diskon yang kupegang dengan hati-hati.

Senjata Rahasia Cinta dari Saki. Pertama-tama, aku akan gunakan ini untuk mengajak Ootsuki-kun kencan!

Liburan musim panas baru saja dimulai.

Aku melangkah pergi dengan langkah yang ringan dan ceria, diiringi rasa berdebar yang belum pernah kurasakan sebelumnya, sekaligus rasa cemas yang sama besarnya di dalam dadaku.

"Cinta itu luar biasa ya!!"

👍 0
0
🤔 0